“Khidmah konsekuensinya adalah berkah, sedangkan bekerja konsekuensinya adalah gaji.”
– Gus Reza Ahmad Zahid
Generasi muda hari ini hidup dalam zaman yang menawarkan berbagai kemudahan, tetapi sekaligus menghadirkan kegelisahan-kegelisahan baru. Melalui layar gawai, seseorang dapat menyaksikan teman sebaya diterima di perguruan tinggi ternama, meraih prestasi, membangun karier, bahkan membina keluarga. Berbagai pencapaian tersebut hadir secara bersamaan dalam ruang penglihatan yang tidak pernah berhenti. Ironisnya, semakin banyak kehidupan orang lain yang dapat disaksikan, semakin besar pula kecenderungan seseorang untuk mempertanyakan kehidupannya sendiri. Dari situ, lahirlah fenomena yang akrab di kalangan generasi muda, seperti Fear of Missing Out (FOMO), overthinking, dan quarter-life crisis.
Fenomena tersebut tidak semata-mata dapat dipahami sebagai tren psikologis yang muncul akibat perkembangan teknologi. Lebih jauh, fenomena itu menunjukkan adanya persoalan mendasar berupa krisis orientasi dan krisis kebermaknaan. Banyak anak muda mengetahui apa yang ingin mereka capai, tetapi belum sepenuhnya memahami alasan di balik pencapaian tersebut. Mereka sibuk menentukan tujuan, menyusun target, dan membandingkan hasil, tetapi tidak selalu memiliki kesempatan untuk bertanya secara mendalam: untuk apa semua itu dilakukan?
Pertanyaan mengenai makna hidup menjadi penting karena kehidupan tidak hanya dibentuk oleh pencapaian, melainkan juga oleh arah dan nilai yang mendasarinya. Kesuksesan yang tidak memiliki orientasi dapat berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir. Seseorang terus bergerak, tetapi tidak benar-benar mengetahui ke mana ia hendak menuju. Dalam kondisi demikian, pencapaian tidak selalu menghadirkan ketenangan. Sebaliknya, ia dapat melahirkan kecemasan baru karena setiap keberhasilan segera dibandingkan dengan keberhasilan orang lain. Inilah yang sering disebut fomo.
Persoalan tersebut pun tidak asing dalam kehidupan pesantren. Santri, sebagai generasi muda yang sedang menempuh proses pendidikan dan pembentukan karakter, dapat mengalami kegelisahan ketika memikirkan masa depan. Sebagian mulai mempertanyakan apakah setelah menyelesaikan pendidikan harus melanjutkan studi, memasuki dunia kerja, atau mengabdikan diri di tengah masyarakat. Sebagian lainnya merasa tertinggal ketika melihat teman-temannya telah meraih berbagai pencapaian di luar pesantren. Ada pula yang merasa cemas karena belum memiliki gambaran yang jelas mengenai kehidupan setelah meninggalkan lingkungan pondok.
Kegelisahan semacam itu merupakan bagian dari dinamika pertumbuhan. Namun, persoalan menjadi lebih serius ketika masa depan hanya dipahami melalui ukuran-ukuran materi, seperti jabatan, penghasilan, popularitas, atau pengakuan sosial. Apabila kehidupan terus diukur melalui pencapaian orang lain, seseorang akan kehilangan kemampuan untuk menghargai proses yang sedang dijalaninya. Ia tidak lagi melihat pendidikan sebagai perjalanan pembentukan diri, melainkan sekadar tahap untuk mencapai posisi tertentu.
Dalam perspektif psikologi, manusia tidak hanya membutuhkan pencapaian dan pengakuan, tetapi juga membutuhkan tujuan hidup serta perasaan bahwa kehidupannya memiliki arti. Pemahaman terhadap tujuan hidup membantu seseorang menghadapi ketidakpastian, menerima proses, dan menempatkan pengalaman sebagai bagian dari perjalanan yang bernilai. Sebaliknya, ketika makna hidup mulai kabur, berbagai pencapaian dapat terasa kosong karena tidak berakar pada kebutuhan dan nilai yang lebih mendalam.
Mengenai makna dan tujuan kehidupan, nasihat yang disampaikan KH. Reza Ahmad Zahid di atas menjadi penting untuk direnungkan. Sebagai seorang santri tentu pernah mengalami dilema antara pengabdian dan pekerjaan. Pada titik inilah tradisi kepesantrenan memiliki relevansi yang kuat. Pesantren tidak semestinya dipahami hanya sebagai tempat memperoleh pengetahuan agama, melainkan sebagai ruang pembentukan orientasi hidup.
Satu nasihat yang senantiasa penulis ingat,
Bertahun-tahun itu tidak akan ada artinya kalau endingnya tidak khusnul khotimah. Bertahanlah sedikit lagi, tuntaskan khidmahmu disini dan khusnul khotimah akan membersamai.
– Agus Ahmad Nasyruddin Moenir
Nasihat di atas tidak bermaksud mempertentangkan antara ngabdi dan gaji, apalagi menempatkan keduanya dalam status “pilih salah satu”. Keduanya memiliki fungsi dan nilai masing-masing. Bekerja merupakan ikhtiar untuk memperoleh penghasilan, memenuhi kebutuhan hidup, serta menjalankan tanggung jawab kepada diri sendiri dan keluarga. Sementara itu, khidmah merupakan pengabdian yang orientasinya tidak selalu dapat diukur melalui imbalan material. Konsekuensi khidmah adalah keberkahan, yaitu bertambahnya kebaikan yang menyertai dalam ilmu dan amal, serta waktu dan tenaga, atas pengabdian seseorang.
Proses thalabul ‘ilmi, penghormatan kepada guru, kedisiplinan, kesederhanaan, dan khidmah merupakan latihan untuk membangun kesadaran bahwa hidup tidak semata-mata berpusat pada diri sendiri. Ilmu diarahkan agar melahirkan amal, adab, dan kemanfaatan. Dengan demikian, ukuran keberhasilan seorang santri tidak hanya terletak pada seberapa tinggi pendidikan yang ditempuh atau seberapa besar penghasilan yang diperoleh, tetapi juga pada sejauh mana ilmu tersebut memberikan manfaat bagi kehidupan.
Makna kesuksesan seringkali dipandang sempit oleh sebagian kalangan. Ketika nominal keuangan mulai dinilai sebagai esensi dari keberkahan itu sendiri. Gaji bersifat terukur dan dapat diterima secara langsung, sedangkan keberkahan bekerja dalam wilayah yang lebih luas. Keberkahan dapat hadir dalam ketenangan batin, kemanfaatan ilmu, kepercayaan masyarakat, hubungan baik dengan guru, serta kemampuan seseorang untuk terus memberikan manfaat. Karena itu, tidak semua hal yang berharga harus selalu dikonversi menjadi angka, jabatan, atau validasi sosial. Sesungguhnya, keberhargaan datang bersama keberkahan.
Ilmu didapatkan dengan belajar, dan keberkahan didapat dengan Khidmah (Pengabdian)
– KH. Abdullah Kafabihi Mahrus
Tradisi kepesantrenan sejak awal menanamkan bahwa ilmu tidak cukup hanya untuk memperoleh kedudukan. Ilmu harus melahirkan adab, amal, dan kemanfaatan. Dalam kerangka ini, khidmah bukan sekadar aktivitas tambahan setelah proses belajar selesai, melainkan bagian dari pendidikan itu sendiri. Melalui khidmah, santri belajar tentang tanggung jawab, kerendahan hati, kesabaran, kedisiplinan, dan penghormatan kepada guru serta lingkungan. Khidmah membentuk kesadaran bahwa seseorang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri.
Namun demikian, khidmah juga tidak boleh dipahami secara sempit sebagai alasan untuk mengabaikan kebutuhan hidup. Seorang santri tetap memiliki hak untuk melanjutkan pendidikan, bekerja, membangun karier, dan memperoleh penghasilan secara halal. Yang perlu dijaga ialah orientasinya. Pekerjaan tidak semestinya hanya menjadi sarana mengejar status, sementara khidmah tidak seharusnya diperlakukan sebagai aktivitas yang cuma-cuma. Keduanya dapat berjalan bersama apabila dilandasi niat yang benar.
Pilihan untuk melanjutkan studi, bekerja, maupun mengabdi tidak harus dipertentangkan. Ketiganya dapat menjadi jalan pengabdian apabila dilandasi niat yang benar dan dijalankan dengan tanggung jawab. Melanjutkan pendidikan dapat menjadi bentuk ikhtiar memperluas manfaat ilmu. Bekerja dapat menjadi sarana memenuhi kebutuhan hidup secara halal sekaligus membantu keluarga dan masyarakat. Adapun pengabdian di pesantren atau lingkungan sosial merupakan wujud tanggung jawab moral terhadap tempat dan nilai yang telah membentuk diri. Poin pentingnya bukanlah bagaimana jalur prosesnya, melainkan orientasi dari apa yang dilakukan.
Pada akhirnya, nasihat tentang khidmah dan pekerjaan mengajarkan bahwa kehidupan memiliki ukuran yang lebih luas daripada sekadar pencapaian material. Gaji penting untuk menopang kehidupan, tetapi keberkahan penting untuk memberikan makna pada kehidupan. Tidak cukup hanya tentang apa yang ingin dimiliki, melainkan juga menjadi manusia dengan nilai dan manfaat seperti apa yang ingin diberikan kepada sekitarnya. Karena itu, generasi muda, khususnya santri perlu belajar membangun masa depan tanpa kehilangan akar kepesantrenannya. Kesuksesan tidak harus menjauhkan seseorang dari khidmah. Justru, semakin luas kesempatan dan kemampuan yang dimiliki, semakin besar pula peluang untuk menghadirkan manfaat.
Apapun jalan khidmahnya, percayalah keberkahan dalam perjalanan menjemput tuannya!
Wallahu a’lam.