web analytics

Sudahkah Kita Memuliakan Al-Qur’an dengan Benar?

0 0
Read Time:3 Minute, 17 Second

Sebelumnya kita membahas adab yang perlu diperhatikan saat membaca Al-Qur’an serta beberapa cerita tentang Al-Qur’an. Maka pada kali ini kita akan melanjutkan dengan hal-hal yang harus diperhatikan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Apa bedanya, min? Jika sebelumnya adalah penjelasan tentang adabnya, maka kali ini pembahasannya di luar hal tersebut dan lebih diperdalam pada bagaimana sikap seorang pembacanya sendiri.

  1. Alangkah baiknya bagi para pembaca memperhatikan takwil dan kondisi diri saat membacanya, seperti:
    • Membaca ayat-ayatnya dengan benar
    • Bersikap khusyuk saat membacanya
    • Membelanya dari penakwilan yang salah
    • Membenarkan isinya
    • Menjalankan hukum-hukumnya
    • Memahami perumpamaan yang ada di dalamnya

Kemudian bagaimana dengan poin nomor 5 di atas? Apakah harus kita menjalankan semuanya? Jawabannya, jika kalian sangat mumpuni dalam memahami maksud serta makna yang ada di dalamnya, maka dipersilakan bagi pembaca untuk selalu mengamalkannya.

  1. Seperti yang telah banyak kita ketahui, bahwa Al-Qur’an sudah seharusnya diagungkan dan dimuliakan. Tidak hanya itu, bahkan saat kita memegangnya harus dalam kondisi suci.

Lalu bagaimana jika ada masalah seperti Al-Qur’an jatuh di lantai dan kita tidak memiliki wudhu atau tidak ada orang lain di tempat tersebut? Maka jawabannya, diusahakan untuk berwudhu terlebih dahulu, dan jika tidak memungkinkan maka bertayamum. Jika dalam kondisi darurat, alangkah baiknya mengangkatnya dengan perantara seperti kain atau ujung baju, dengan niat memuliakan Al-Qur’an.

Adapun bagi orang yang mengingkari hal-hal yang ada di dalamnya, maka Imam Al-Hafizh Abul Fadhl Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata:

قال الامام الحافظ أبو الفضل القاضي عياض ﵀ أعلم أن من استخف بالقرآن أو المصحف أو بشئ منه أو سبهما أو جحد حرفا منه أو كذب بشئ مما صرح به فيه من حكم أو خبر أو أثبت ما نفاه أو نفي ما أثبته وهو عالم بذلك أو يشك في شئ من ذلك فهو كافر بإجماع المسلمين

Artinya: “Imam Al-Hafizh Abul Fadhl Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata, ‘Ketahuilah bahwa siapa yang meremehkan Al-Qur’an atau mushaf atau sebagian darinya, atau mencelanya, atau mengingkari satu huruf darinya, atau mendustakan hukum atau kabar yang ditegaskan di dalamnya, atau membenarkan sesuatu yang dinafikannya, atau menafikan sesuatu yang ditetapkannya, sedang ia mengetahui hal itu atau meragukan sesuatu darinya, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ kaum muslimin.’”

  1. Dilarang dan diharamkan menafsirkan Al-Qur’an serta berbicara tentang makna-maknanya bagi yang bukan ahlinya. Maka alangkah baiknya bagi seseorang yang sedang memahami Al-Qur’an untuk membicarakan tafsir berdasarkan perkataan para ulama, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an:

وأما تفسيره للعلماء فجائز حسن والاجماع منعقد عليه فمن كان أهلا للتفسير جامعا للأدوات حتى التي يعرف بها معناه وغلب على ظنه المراد فسره إن كان مما يدرك بالاجتهاد كالمعاني والأحكام الجلية والخفية والعموم والخصوص والإعراب وغير ذلك

Artinya: “Adapun penafsirannya oleh ulama adalah sesuatu yang diperbolehkan dan baik, dan ijmak telah menetapkan hal tersebut. Maka siapa yang ahli dalam tafsir serta memiliki perangkat untuk mengetahui maknanya dan kuat sangkaannya terhadap maksudnya, maka ia boleh menafsirkannya jika termasuk hal yang dapat diketahui melalui ijtihad, seperti makna-makna, hukum-hukum yang jelas maupun samar, keumuman dan kekhususan, i’rab, dan lainnya.”

  1. Diharamkan bagi para pembaca atau orang yang sedang belajar Al-Qur’an untuk berdebat dan bertengkar tentangnya, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

وقد صح عن رسول الله ﷺ: أنه قال المراء في القرآن كفر

Artinya: “Diriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: ‘Berbantah-bantahan mengenai Al-Qur’an adalah kufur.’”

  1. Dimakruhkan pula mengatakan bahwa ia lupa ayat tertentu atau berkata, “aku dilupakannya.” Hal ini mengikuti riwayat yang terdapat dalam sabda Nabi Muhammad SAW:

عن عبد الله بن مسعود ﵁ قال قال رسول الله ﷺ: لا يقول أحدكم نسيت آية كذا وكذا بل هو شئ نسي

Artinya: Dari Abdullah bin Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah seseorang di antara kalian berkata: ‘Aku lupa ayat begini dan begini.’ Akan tetapi katakanlah: ‘Ia adalah sesuatu yang dilupakan.’”

Beberapa penjelasan tentang hal-hal yang dianjurkan bagi seorang pembaca dengan penekanan pada sikap dirinya telah dijelaskan. Jika terdapat kekurangan dari penulis, kami memohon maaf.

Wallahu ‘Alam.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Tuntunan Membaca Surat Al-Qur’an dalam Shalat dan Waktu Tertentu

Tuntunan Membaca Surat Al-Qur’an dalam Shalat dan Waktu Tertentu

Steril dari Ragam Pernikahan Masa Jahiliyah, Inilah Bentuk Penjagaan Nur Rasulullah SAW

Steril dari Ragam Pernikahan Masa Jahiliyah, Inilah Bentuk Penjagaan Nur Rasulullah SAW

Dermawan dan Makna Ramadhan

Dermawan dan Makna Ramadhan