Kediri, Elmahrusy Media.
Kamis malam (18/9) Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah III Ngampel mengadakan acara Ta’dzim Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara yang penuh berkah di bulan Rabi’ul Awal ini bertempat di Aula KH. Imam Yahya Mahrus.
Pukul 19.56 WIB, lantunan sholawat bergema di bumi Al Mahrusiyah disertai bendera-bendera yang dikibarkan para santri di dalam aula. Acara ini dihadiri oleh segenap dzuriyyah Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah, KH. Reza Ahmad Zahid, KH. Melvien Zainul ‘Asyiqien, Agus H. Nabil Aly Ustman, dan Agus H. Izzul Maula Dliyaullah. Adapun segenap alumni sepuh, yakni KH. Faruq Qusyairi, KH. Ronggo Warsito, dan Bapak Bustanul Arifin turut hadir memeriahkan acara.
Setelah KH. Reza Ahmad Zahid atau yang kerap disapa “Gus Reza” selesai memimpin pembacaan tawassul, tim habsy mulai melantunkan Maulid Simthud Duror. Di tengah-tengah lantunan sholawat, Gus Reza dan Gus Nabil membagikan sangu kepada para santri berupa jajanan dan beberapa lembar uang yang membuat acara menjadi lebih meriah dan penuh gembira.
Tepat pukul 22.00 WIB, setelah prosesi mahalul qiyam, MC mempersilahkan kepada Bapak Bustanul Arifin untuk menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai perwakilan dari alumni sepuh.
“Pada tahun 1986, KH. Imam Yahya Mahrus pernah bercerita bahwa beliau memiliki cita-cita apa yang menjadi keinginan KH. Mahrus Aly, yakni menginginkan adanya Sekolah Teknik namun sayangnya belum terwujudkan. Alhamdulillah, KH. Imam Yahya Mahrus dengan keberanian dan jiwa revolusinya yang hebat, beliau mendirikan enam lembaga.” Tutur Bapak Bustanul Arifin yang kerap disapa “Bapak Bustan”.
Beliau bercerita sekaligus mengenang sejarah Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah dan kegiatan-kegiatan yang ada di dalamnya. Tidak lupa, beliau juga menyemangati para santri dalam proses mencari ilmu.
Sambutan selanjutnya dari perwakilan dzuriyyah Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah yang dibawakan oleh KH. Melvien Zainul ‘Asyiqien.
“Rasa cinta tidak akan bisa kita peroleh jika kita belum mengenal orang yang kita cintai. Sangat tidak mungkin kitab isa mencintai seseorang jika kita belum mengenal orang tersebut. Seperti yang dikatakan orang Jawa, ‘tak kenal maka tak sayang’. Oleh karena itu, dalam majelis ini kita akan lebih mengenal Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Kenal pasti ada proses interaksi dengan orang yang kita kenal, berbeda dengan sekadar tahu. Dengan mendengar cerita-cerita dari kitab Diba’, Barzanji, ataupun Simthud Duror kita bisa lebih mengenal Kanjeng Nabi Muhammad SAW.” Terang putra kedua dari KH. Imam Yahya Mahrus tersebut.
Pukul 23.05 WIB, mauidzhoh hasanah oleh KH. Reza Ahmad Zahid. Pada kesempatan kali ini, beliau menuturkan sifat Rasulullah SAW yang penuh kasih sayang.
“Rasulullah diutus oleh Allah untuk rohmah bagi semesta alam. Sifat-sifatnya Rasulullah penuh dengan kasih sayang, maka kita sebagai umat Rasulullah harus selalu mengedepankan sifat kasih sayang. Dalam suatu hadits dikatakan,
ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Berkasih sayanglah kalian kepada makhluk Allah yang ada di bumi. Man di dalam hadits tersebut artinya umum untuk semua makhluk, ketika kalian memberikan kasih sayang kepada makhluk Allah yang ada di bumi, maka Allah dan para malaikat akan memberikan kasih sayang kepada kalian. Oleh karena itu, kita harus mengedepankan rasa kasih sayang antar sesama.”
Beliau pun bercerita tentang sejarah perayaan maulid yang bermula dari seorang bernama Khaizuran, istri dari Khalifah Al-Mahdi bin Mansur Al-Abbas (Dinasti Abbasiyah) yang gemar dengan acara maulidan.
“Peringatan acara maulid sebenarnya sudah lama diadakan. Pada abad ke-2 Hijriah ada Perempuan bernama Khaizuran, istri dari Khalifah Abbasiyah yang bernama Al-Mahdi bin Mansur Al-Abbas. Khaizuran sangat senang ketika memasuki bulan Rabi’ul Awal dan merayakan maulid. Bahkan, ketika tanggal 12 Rabi’ul Awal, beliau datang ke Madinah, tepatnya Masjid Nabawi, kemudian mengumpulkan orang-orang Madinah untuk diberi makanan dan diajak sholawatan guna menyanjung Rasulullah SAW, begitu pun di Mekkah.
Oleh karena yang dilakukan Khaizuran membuat masyarakat Abbasiyah bersatu, menjadikan hal ini sebagai salah satu faktor Dinasti Abbasiyah menjadi salah satu kerajaan yang paling kuat menguasai dunia.”
Sebelum acara diakhiri dengan do’a yang dipimpin oleh Gus Nabil, Gus Reza dan para santri melantunkan qosidah Fi Hubbi dengan khidmat.
Wallahu a’lam.