web analytics

Tantangan Besar di Balik Organisasi Besar

0 0
Read Time:3 Minute, 6 Second

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di dunia yang berangkat dari kegelisahan dan kebutuhan guna mempertahankan tradisi Islam Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja) di Indonesia dari serangan modernisasi dan gerakan reformis, serta untuk melindungi amaliyah keagamaan di dunia pesantren.

Meski berhasil sukses dalam dunia politik, karena telah menyimpang dari tujuan awal yang fokus terhadap kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial, NU tetap memilih sistem organisasi untuk mewujudkan tujuan bersama. Keputusan tersebut didasari oleh efektivitas dalam melayani masyarakat tanpa terjebak politik praktis yang lebih mengutamakan keuntungan atau kepentingan individu.

Dari kejadian tersebut, transformasi NU dilakukan sebagai pengembalian organisasi ke tujuan aslinya. Dalam hal ini, NU melakukan transformasi untuk menyelesaikan permasalah-permasalah yang ada di dalam maupun di luar NU itu sendiri.

Di usianya yang ke-103 secara kalender Hijriah dan 100 tahun menurut kalender Masehi, NU sebagai organisasi yang terus hidup diterpa oleh berbagai tantangan baru yang tentu memberikan efek yang sangat krusial bagi kelanjutan dan kemajuan NU. Tantangan dari dunia digital, informasi, ekonomi, sosial, internal organisasi, ideologi, serta kebudayaan memberikan efek yang membuat NU harus lebih siap dan cepat beradaptasi.

Tantangan Digital & Informasi

Lagi-lagi bertemu sesuatu yang pasti menjadi masalah di mana pun ia berada. Sebab apabila teknologi tidak dipergunakan dengan baik dan benar maka akan menjadi senjata makan tuan. Oleh sebabnya sangat mudah menyebarkan informasi atau bahkan pemahaman yang menyimpang hingga ideologi asing.

Hal tersebut dapat kita lawan dengan mengembangkan dakwah yang efektif di dunia maya untuk menjangkau “warga muslim baru” yang lebih ekspresif secara digital dan belajar agama via media sosial. Melihat NU sendiri memang telah memiliki dan menyebarkan dakwah di berbagai platform media sosial, seperti website, Youtube, Instagram, dan media-media lain.

Setelah saya menilik langsung kanal-kanal yang dinaungi oleh NU, meski website telah mengandung tulisan-tulisan yang baik, tetapi untuk konten video panjang di Youtube mungkin perlu pembenahan. Durasi yang sangat panjang dengan poin yang tidak relevan bagi orang awam ditambah visual yang membosankan sangat memungkinkan untuk membuat masyarakat awam atau para remaja yang perlu bimbingan seputar Aswaja jenuh. Untuk konten short pun sama-sama membosankan dari segi visual.

Hal tersebut sangatlah bisa dipertimbangkan untuk memajukan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat awam untuk dapat ber-Aswaja. Tidak perlu poin yang berat, coba sediakan dahulu pendidikan dasar hingga pembiasaan tradisi dengan pendekatan yang komprehensif. Perlu juga bagi kita untuk menekankan prinsip yang terkandung dalam Aswaja yakni moderat (tawassuth), seimbang (tawazun), toleran (tasamuh), dan adil (i’tidal) tentu dengan pembawaan dan visual yang menarik.

Di tengah perbedaan pandangan terkait isu minoritas dan hak beragama, dalam bermedia sosial juga dapat menjaga budaya lokal dan identitas Islami dari budaya luar yang masuk dari globalisasi informasi. Perlu juga bagi kita menjaga citra dan kualitas pesantren (sebagai pendidikan Islam) di tengah perkembangan teknologi.

Tantangan Internal & Organisasi

Kekuatan NU tidak terletak pada institusional, melainkan pada kekayaan kultural yang hidup di tengah masyarakat. Hal tersebut membuat dana untuk menjalankan atau menghidupkan tradisi seperti tahlilan, selametan, dan lain-lain umumnya berasal dari para jama’ah yang bersifat otonom, bukan dari organisasi.

Loyalitas-lah yang membuat para jama’ah mendanai berbagai kegiatan tradisi secara mandiri dan sukarela sebagai bentuk Khidmah (pengabdian) dan mahabbah (cinta). Meski tradisi adalah infrastruktur sosial yang merawat aset kultural terbesar NU, kejadian seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja karena membuat warga NU yang merasa “NU” sebagai identitas kultural, bukan keanggotaan struktural, yang berdampak pada rendahnya ikatan organisasi.

Beberapa tantangan di atas sudahlah dibincangkan pada beberapa artikel yang tersebar luas di internet. Rendahnya pengetahuan dan identitas keanggotaan struktural tentu menjadi penyebab utama dalam organisasi. Untuk itu diperlukan adanya sesuatu yang dapat menarik kawula muda agar mampu berorganisasi. Transformasi NU memanglah perlu, terutama untuk menjaga ke-relevan-an dan makna dari kegiatan-kegiatan atau program yang telah ada.

 

 

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Bayangkan Jika Kita Tidak Menulis

Bayangkan Jika Kita Tidak Menulis

Hikayah dan Hikmah di Balik Istimewanya Bacaan Tahiyat

Hikayah dan Hikmah di Balik Istimewanya Bacaan Tahiyat

Isra’ Mi’raj VS Astronaut

Isra’ Mi’raj VS Astronaut

Gengsi: Penjara Tak Kasat Mata yang Merusak Diri

Gengsi: Penjara Tak Kasat Mata yang Merusak Diri

Kenapa Harus Pesantren?

Kenapa Harus Pesantren?

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam