R.A. Kartini adalah pahlawan nasional yang hebat. Jasanya begitu besar untuk bangsa ini. Ia seorang putri bangsawan yang cantik lagi lembut, di sisi lain juga perempuan Jawa yang berani dan cerdas, yang berhasil mendobrak feodalisme dan sekat-sekat kekang perempuan dengan kemajuan dan pemerataan pendidikan.
Rasanya selalu menarik untuk mengenal lebih dekat dari masing-masing potongan hidup seorang R.A. Kartini; bagaimana latar belakang keluarga dan adatnya, cara belajar dan pendidikannya, keresahan dan surat-suratnya, hingga pemikiran dan jasanya.
Tentu tidak kalah menarik, jika kita mengenal R.A. Kartini yang dimulai dari pembahasan masa kecilnya.
Semua bermula dari hari itu, di suatu siang seusai pelajaran sekolah. Seorang gadis Belanda jangkung dan pirang di Europeesche Lagere School, Letsy Detmar, asyik membaca buku di bawah pohon.
“Ayo Letsy, ceritalah, apa saja bacakan sedikit dari bukumu,” ujar seorang anak perempuan berkulit sawo matang, dengan rasa ingin tahu yang meluap-luap.
Dialah Kartini, salah satu murid pribumi perempuan di sekolah itu.
Letsy bercerita, dia membaca buku bahasa Prancis, agar dapat masuk ke sekolah guru di Belanda. Letsy kemudian balik bertanya kepada Kartini.
“Tetapi Ni, kamu belum pernah cerita kepada saya, akan jadi apakah kau nanti.”
Pertanyaan Letsy, seperti yang dituturkan Kartini dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, Agustus 1900, tidak dapat dilupakannya. Sebab, kemudian, saat Kartini bertanya kepada ayahandanya, menjadi apakah dirinya nanti, sang ayah menjawab, “Raden ayu!” Jawaban ini agaknya malah menjadi tanda tanya besar di benak kepalanya: Seperti apa kehidupan raden ayu itu?
Inilah jawaban yang kelak malah membangkitkan jiwa Kartini untuk berontak terhadap peraturan-peraturan. Bahwa menjadi raden ayu berarti seorang gadis harus kawin, harus menjadi milik seorang laki-laki, tanpa mempunyai hak untuk bertanya apa, siapa, dan bagaimana.
Kartini memang pribadi yang tampaknya memiliki jiwa gelisah dan rasa ingin tahu yang besar. Berdasarkan cerita adiknya, Kardinah, semenjak kecil Kartini adalah anak yang enggan diatur. Sehari-hari dia sangat lincah, gesit, dan pandai. Dia suka bermain di kebun, meloncat-loncat, berlari-lari, dan mudah bergaul. Kebiasaan ini juga digambarkan Kartini dalam sebuah surat.
“Saya dinamakan kuda kore, kuda liar, karena saya jarang berjalan, tetapi selalu meloncat-loncat dan berlari,” kata Kartini dalam suratnya kepada Estelle ”Stella” Zeenhandelaar, 18 Agustus 1899. “Bagaimana saya dimaki-maki karena terlalu sering tertawa terbahak-bahak yang dikatakan tidak pantas, oleh sebab memperlihatkkan gigi saya,” tulisnya.
Tidak aneh, ayah dan kakak-kakaknya menjuluki Kartini dengan sebutan “Trinil” atau burung kecil yang lincah dan cerewet. Namun ibunya, Ngasirah, tidak suka dengan julukan “Trinil” atau “Nil”. Ngasirah suka marah kepada adik-adik Kartini bila mereka ikut-ikutan memanggilnya “Nil”. “Karena dianggap tidak sopan,” tutur Kardinah.
Ketika ayah Kartini diangkat menjadi bupati, mereka pindah ke rumah dinas, yang sekarang disebut pendapa kabupaten. Mereka memiliki seorang pembantu bernama Ibu Sosro yang bertugas menjaga Kartini, Roekmini, dan Kardinah. Pada suatu saat, Ibu Sosro dibuat sangat marah. Awalnya, karena sedang mengantuk, dia enggan menemani mereka bermain di luar rumah. Ketiganya dikunci di dalam kamar dan Ibu Sosro memilih tidur.
Mengetahui Ibu Sosro tertidur pulas di depan pintu, Kartini memimpin adik-adiknya kabur dan bermain seharian di kebun luar pendapa. Ibu Sosro, yang mengetahui perbuatan mereka, langsung marah dan mengadu ke orangtua Kartini. “Anak-anak nakal. Berani, ya, keluar dari kamar. Ini pasti Trinil yang mengajak kamu,” katanya.
Bukannya jera, ketiganya malah membalas dengan menaruh merica di dalam lumpang tempat Ibu Sosro biasa menumbuk kinang (sirih). Ketika Ibu Sosro menumbuk kinang di dalam lumpang dan memasukkannya ke mulut, mulutnya langsung panas seperti terbakar. Dilaporkannya kembali kejadian itu kepada Sosroningrat. “Romo benar-benar marah kepada anak-anaknya kali ini. Sejak saat itu anak-anak tidak lagi berani berbuat seperti itu,” tulis Kardinah dalam buku The Three Sisters.
Karena sikapnya yang lincah dan gesit, pandai, dan mudah bergaul, Kartini sangat menonjol di sekolahnya, Europeesche Lagere School. Apalagi, di sekolah Belanda itu kebanyakan muridnya adalah anak campuran Belanda-Indonesia dan Belanda totok. Hanya sedikit yang pribumi asli, apalagi perempuan.
Kartini menjadi sangat terkenal karena kefasihannya dan kemahirannya menulis dalam bahasa Belanda. Pernah Europeesche Lagere School kedatangan seorang inspektur Belanda yang menyuruh murid sekolah itu membuat karangan dalam bahasa Belanda. Dari hasil penilaiannya, karangan Kartinilah yang paling bagus.
Meski pintar dan suka membaca, Kartini bukanlah anak yang takluk pada perintah guru. Dia tetap anak kecil yang suka jahil terhadap gurunya. Salah satu guru yang paling sering diisengi Kartini adalah Pak Danu, guru bahasa Jawa yang sengaja didatangkan keluarga Sosroningrat untuk mengajari anak-anak mereka.
Kartini dan adiknya sering meminta Pak Danu membelikan makanan kesukaan mereka, yaitu pecel daun semanggi. Cara ini digunakan tiga bersaudara itu untuk menghindari pelajaran. Lambat laun, perbuatan mereka diketahui Sosroningrat. Mereka dimarahi dan Danu diganti dengan guru lain yang bernama Sumarisman, yang lebih berwibawa dan tegas. Di bawah bimbingan Sumarisman, ketiga bersaudara dapat menguasai bahasa Jawa dengan berbagai tingkatan.
Selain mendapat pendidikan formal dan bahasa Jawa, Kartini kecil memperoleh pelajaran membaca Al-Qur’an. Namun, Kartini kurang begitu menyukai pelajaran ini karena harus mengikuti panjang-pendek harakat dalam huruf Arab. Kartini juga sering mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab gurunya. Meski begitu, ayahnya tidak marah. Hanya ibunya yang marah, karena Ngasirah sangat keras mendidik Kartini dalam hal ibadah.