web analytics

Utopia Pendidikan dalam Negara Kita

0 0
Read Time:3 Minute, 51 Second

Secara historis, esensi kemerdekaan Indonesia dari penjajah luar bangsa adalah nyata dan sah. Tanggal 17 Agustus selalu menjadi momentum mengibarkan bendera negara serta menggelar berbagai lomba. Namun, esensi tersebut terus diuji oleh berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal.

Apabila ditelisik secara internal, terdapat salah satu poin paling krusial untuk terus merelevansikan esensi kemerdekaan Indonesia, yakni pendidikan. Pendidikan yang dapat memerdekakan manusia dari belenggu ketidaktahuan, dogma, dan keterbatasan.

Adanya pendidikan mampu menanamkan kebebasan berpikir dan berkembang dalam individu. Seorang individu yang berpikir akan mampu membuka pemikirannya dalam melahap sebuah informasi dengan tujuan menghindari informasi palsu. Selain itu, seorang yang terdidik, mampu menganalisa suatu kejadian atau pendapat tanpa menelan mentah-mentah. Berani mengambil sudut pandang pun menjadi salah satu faktor yang menandai kebebasan berpikir, yakni ketika sosok individu berhasil menilai suatu perkara dengan pendapat sendiri.

Beberapa hal di atas didapat dari kebebasan berpikir. Sedangkan, dalam kebebasan berkembang, pendidikan mampu menyukseskan individu dalam menggali potensi, berdiri di atas kaki sendiri, beradaptasi, serta memajukan kehidupan bersama dan menegakkan keadilan.

Edukasi dalam Negeri

Pendidikan sebagai investasi jangka panjang bagi individu maupun masyarakat. Dengan pendidikan, seseorang memperoleh pengetahuan dan kompetensi yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya di masa depan. Pada negara Indonesia, kemajuan teknologi dan arus globalisasi terus menghantui kualitas SDM-nya. Oleh sebab itu, pembentukan individu yang adaptif dan produktif sangat diperlukan.

Dalam hal ini Indonesia harus berbenah. Apabila melihat luasnya wilayah Indonesia, dengan kondisi dan situasi yang memiliki ragam perbedaan, pendidikan sama sekali tidak tersebar secara merata. Mari kita lihat data nyata antara Pulau Jawa dan Papua!

Dari segi fasilitas dan infrastruktur, Pulau Jawa memiliki akses listrik stabil, jaringan internet merata, gedung sekolah yang layak, serta fasilitas penunjang seperti laboratorium dan perpustakaan. Sedangkan, Pulau Papua, jangankan laboratorium dan perpustakaan, gedung sekolah, akses listrik, hingga jaringan internet pun jauh dari kata layak. Apabila ditelisik lebih jauh, kesenjangan ini terjadi akibat dari historis panjang perkembangan Indonesia yang berpusat pada Pulau Jawa, yang ketika akan diadakannya pemerataan dapat menimbulkan tantangan tersendiri yang cukup besar.

Di luar faktor eksternal, pendidikan di Indonesia pun memiliki budaya yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pola pikir anak. Memprioritaskan nilai menjadi budaya yang telah mengakar di Indonesia, berlangsung dari generasi ke generasi. Budaya tersebut dapat memberi dampak negatif pada seorang pelajar.

Meski penerapan budaya tersebut dirasa mampu meningkatkan pun memotivasi pelajar dalam menempuh pembelajaran, nyatanya—budaya tersebut—malah lebih banyak menimbulkan dampak negatif. Mengakarnya budaya tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya; sekolah yang menerapkan standar kelulusan dan seleksi menjadikan skor atau angka sebagai penentu utama, tuntutan dari orang tua dan reputasi sekolah, dan metode menghafal berbagai materi yang dapat membebani.

Oleh sebab itu, stres mampu tumbuh subur dalam benak para siswa. Tak jarang pula para pelajar merasa hambar dalam mengarungi pembelajaran. Bagaimana tidak? Tekanan semacam tadi dapat mengubah pola pikir pelajar terhadap kegiatan belajar yang hanya mengejar nilai semata tanpa mementingkan makna pembelajaran sesungguhnya. Selain kedua hal tersebut, budaya ini pun dapat melahirkan budaya yang lebih negatif, yakni menyontek dan pribadi yang tidak jujur. Para pelajar tidak lagi mengejar ilmu, namun mengejar nilai tanpa memedulikan nilai pun esensi pendidikan itu sendiri.

Adapun budaya minim berpikir kritis pun berhasil bertahan hidup, bahkan beranak pinak di seluruh penjuru Indonesia juga di seluruh lapisan masyarakat. Kali ini, metode yang diterapkan oleh guru, budaya tabu, tekanan sosial, serta ancaman regulasi sosial menjadi cikal bakal langgengnya budaya ini.

Pembelajaran satu arah menempatkan guru sumber tunggal, di samping murid yang menjadi pendengar pasif. Metode pembelajaran seperti ini pula didukung oleh budaya tabu yang membuat anak-anak menganggap kurang sopan apa bila bertanya dan tidak sependapat pada orang yang lebih tua. Rasa takut dianggap salah, dikucilkan, dan dianggap berbeda, hingga serangan sosial terhadap pemikiran menjadi beberapa faktor yang turut mendukung budaya minim berpikir kritis.

Maka, apabila budaya tersebut masih terus berlanjut, masyarakat akan terus menelan juga melahap bulat-bulat berbagai informasi yang mereka dapat. Dengan hadirnya budaya tersebut pula, masyarakat jarang mempertanyakan relevansi sebuah kebijakan atau tradisi lama demi kemajuan bersama.

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

“Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Pada beberapa redaksi, seperti ayat di atas, kemulian ilmu dan para penuntut ilmu dalam segi spiritual tidak perlu diragukan lagi. Dapat disimpulkan, bahwa pendidikan memiliki posisi yang sangat krusial bagi negara, agama, sosial, hingga individu sekalipun. Setelah membahas dunia pendidikan yang bagaikan utopia dan berkaca terhadap pendidikan kita, mari membawa dan menerapkan dunia utopia ke dalam Indonesia!

Wallahu a’lam.

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Menjaga Ta’aluq: Ikatan Hati Santri dan Orang Tua

Menjaga Ta’aluq: Ikatan Hati Santri dan Orang Tua

Tajdiddun Niat dan Pondok Pesantren

Tajdiddun Niat dan Pondok Pesantren

Budaya dan Pesantren

Budaya dan Pesantren

Peran Besar Budaya Dalam Dakwah Walisongo

Peran Besar Budaya Dalam Dakwah Walisongo

Kebesaran NU dan Dedikasi Para Pendiri untuk Bangsa

Kebesaran NU dan Dedikasi Para Pendiri untuk Bangsa

Saya Ingin Menjadi Seperti Pak Tohari

Saya Ingin Menjadi Seperti Pak Tohari