Nusantara atau secara spesifik merujuk kepada Indonesia, sebuah wilayah atau negara yang terdiri dari 17.380 pulau dengan beragam suku, budaya, maupun bahasa. Perjuangan Gajah Mada yang tertera dalam Sumpah Palapa, dibuktikan dengan digdayanya Kerajaan Majapahit adalah upaya pertama untuk menyatukan Nusantara. Sekitar 600 tahun berlalu, Sumpah Pemuda, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika turut menjadi faktor yang memperkuat persatuan dan kesatuan Indonesia.
Negara yang memiliki belasan ribu pulau, lebih dari 1.300 suku bangsa, 718 bahasa daerah, hingga ragam budaya menjadikan Indonesia kaya dalam bidang sosial. Walisongo berhasil dan berperan penting dalam penyebaran agama Islam di tengah ragam budaya Indonesia dengan menggunakan metode akulturasi budaya dan dakwah yang damai.
Mengingat Islam sebagai agama yang senantiasa terbuka terhadap pemikiran dan tradisi di luarnya, proses sosial di mana dua kebudayaan yang berbeda saling bertemu dan berinteraksi tanpa menghilangkan kebudayaan asli tentu sangat cocok diterapkan dalam negara Indonesia.
Beberapa akulturasi tradis oleh Walisongo yaitu Nyandran yang dilakukan pada bulan Sya’ban, tahlilan, ziarah kubur, dan lain-lain. Adapun yang akan kita bahas di sini adalah tradisi Grebeg Maulud yang dilaksanakan rutin untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw.
Grebeg Maulud merupakan kebudayaan khas Yogyakarta yang berasal dari Kerajaan Demak saat para Walisongo menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Tradisi Grebeg Maulud adalah salah satu rangkaian dari acara Sekaten yaitu acara untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Grebeg bisa diartikan keluarnya sultan untuk memberikan hasil bumi Yogyakarta kepada rakyatnya (gunungan). Sekaten memiliki beberapa rangkaian acara yang tidak dapat dipisahkan.
Acara pertama, Miyos Gangsa yang berarti “keluarnya gamelan”. Dalam prosesi ini, gamelan Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga (pusaka Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat) diarak keluar dari keraton menuju Masjid Gedhe disertai pemberian udhik-udhik (sedekah dari sultan kepada rakyatnya).
Acara selanjutnya, Numplak Wajik, yaitu proses awal pembuatan gunungan yang terdiri dari 7 gunungan, yakni Gunungan Lanang, Gunungan Wadon, Gunungan Darat, Gunungan Bromo, dan Gunungan Gepak yang nantinya akan dibagikan pada puncak acara (Grebeg Maulud).
Mbusanani Pusaka yang dilaksanakan di Gedhong Jene adalah acara berikutnya. Dalam prosesi ini semua pusaka yang tersimpan dalam keraton akan dikeluarkan untuk dirawat dan diganti kain pelindungnya sebagai persiapan menuju Grebeg Maulud.
Prosesi Bethak. Dipimpin oleh permaisuri yang menggunakan pusaka berbentuk periuk (kendil), yaitu Nyai Mrica dan Kanjeng Ki Blawong yang akan digunakan untuk menanak nasi.
Berikutnya, Kundur Gangsa, yaitu prosesi pengembalian gamelan Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga dari Masjid Gedhe menuju keraton. Sebelumnya, ditandai dengan hadirnya sultan untuk menyebar udhik-udhik, kemudian Sri Sultan duduk di dalam serambi masjid untuk mendengarkan riwayat Nabi Muhammad Saw.
Nasi yang telah dimasak saat prosesi Bethak dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil pada prosesi Pesowanan Grebeg. Kemudian, prosesi yang paling ditunggu yakni Grebeg Maulud, puncak acara di mana ke tujuh gunungan akan diarak, dido’akan, dan dibagikan sebagai bentuk sedekah dari Sri Sultan. Masyarakat percaya jika gunungan-gunungan tersebut sebagai simbol keberkahan, kemakmuran, dan ketenangan. Masyarakat pun tidak memandang usia atau kondisi berdesak-desakan yang akan membahayakan mereka. Oleh karena itu, masyarakat sangat antusias berebut gunungan yang dilempar oleh abdi dalem.
Acara terakhir, yakni Upacara Bedhol Songsong yang dilaksanakan di Bangsal Pagelaran. Pagelaran wayang kulit yang memberikan siraman rohani positif kepada masyarakat merupakan acara utama untuk menutup acara Grebeg Maulud.
Tradisi Grebeg Maulud bahkan mengandung nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila, yakni nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan sosial. Begitu luar biasa tradisi-tradisi di Indonesia yang memadukan antara adat dan agama, sehingga mencakup nilai sosial, agama, dan budaya. Tentu semua ini adalah salah satu dari banyaknya peran Wali Songo terhadap akulturasi budaya dengan tujuan menyebarkan agama Islam di Indonesia. Dengan metode akulturasi budaya, Wali Songo dapat diterima oleh masyarakat.
Menurut Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ Al-Fatawa,
وَالْأَصْلُ فِي الْعَادَاتِ لَا يُحْظَرُ مِنْهَا إلَّا مَا حَظَرَهُ اللَّهُ
“Hukum asal adat (kebiasaan masyarakat) adalah tidaklah masalah selama tidak ada yang dilarang oleh Allah di dalamnya.”
Oleh karena itu, kita harus bisa menyesuaikan cara berdakwah terhadap masyarakat agar dapat diterima dengan senang hati tanpa terpaksa dan tanpa adanya permusuhan. Seperti yang dilakukan oleh Wali Songo yang menggunakan metode akulturasi budaya.
Wallahu a’lam.