web analytics

Kenapa Nabi yang Diperingati adalah Hari Kelahirannya, Sedangkan Ulama adalah Hari Wafatnya?

0 0
Read Time:4 Minute, 1 Second

Judul di atas adalah poin pokok dari kebingungan yang sempat menghinggapi isi kepala saya; suatu hari. Sebuah pertanyaan sederhana dari fenomena lumrah yang selalu kita laksanakan di setiap datangnya momentum. Rasanya akan sama dengan semua hal dekat dan sering kita lakukan; karenanya pula hal itu menjadi tidak merasa perlu untuk sebuah penggalian makna.

Kenapa?

Cobalah untuk mempertanyakan hal yang perlu, untuk sebuah usaha pemahaman dari penerkaan makna. Usaha memahami diri sendiri dan sekitar. Usaha mengenali diri sendiri dan sekitar.  Atau setidaknya, ya, kita bisa jadi dan cukup sadar: siapa kita dan harus apa.

Kenapa? -menjadi pondasi dasar dari adagium terkenalnya Rene Descartes yang mengatakan, “Cogito, ergo sum!” (Aku berpikir, maka aku ada).

Dalam hal ini, Allah sudah seringkali mengingatkan kita dalam Al-Qur’an, dalam ayat-ayat yang bernada afala ta’qilun (tidakkah kamu mengerti?), afala tatafakkarun (apakah kamu tidak memikirkannya?), afala tatadzakkarun (tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?), afala tattaqun (tidakkah kamu bertakwa), afala yu’minun (tidakkah mereka beriman?), afala tasma’un (apakah kamu tidak mendengar?), afala tubsirun (apakah kamu tidak memperhatikan?), afala yasykurun (mengapa mereka tidak bersyukur?)

Jelas sudah bahwa Allah telah begitu dekat dan sayang terhadap kita untuk terus diingatkan akan menggunakan akal pikiran dengan bijak dan optimal; tanda bersyukur paling khidmat.

Kembali lagi ke awal, ya pertanyaan itu terus menggentayangi ruang luas akal saya untuk terus berpikir, memikirkan, dan kepikiran beneran hingga berdesakan dan sempit.

Lalu, saya membaca.

Lalu, saya menulis.

Dan inilah tulisannya!

Perihal hari kelahiran nabi, adalah sebuah keniscayaan. Ya, kita selalu memperingatinya dalam perayaan maulid di setiap tahunnya. Banyak dari umat muslim di segala penjuru dunia dengan berbagai keberagamannya, mengekspresikan bentuk cinta dan bahagianya di hari lahir nabinya. Syair-syair biografi dan pujian; mulai berzanji, diba’i, simtudduror, dan dhiyaul lami; semua dibacakan. Mimbar-mimbar dan kesempatan diisi dengan ceramah menggugah jiwa akan teladan sang nabi. Ringan tangan berduyun-duyun untuk menyuapi setiap orang untuk makanan dan manisan. Jumlah bacaan sholawat adalah prestasi. Hari kelahiran nabi merupakan semarak kebaikan yang sesungguhnya.

Meskipun kita tau bersama bahwa tanggal 12 Rabiul Awal adalah hari kelahiran sekaligus hari wafatnya nabi, tapi kenapa kita hanya merayakan hari kelahirannya saja?

Berbeda dengan itu, ulama justru hari wafatnya adalah perayaan yang semarak. Kita menamainya dengan haul. Acara besar, mengundang banyak orang, untuk mendengar biografi dan menerima suguhan, acara haul tak ubahnya momentum khidmat lagi syahdu dari keluarga, teman, murid, hingga kerabat yang merindu. Bukan berarti para ulama itu tidak memiliki hari kelahiran, tapi kenapa hari kematiannya lah yang dirayakan?

Orientasi pertanyaannya adalah, kenapa dari kebahagiaan yang nyata atas kelahiran nabi sedangkan ulama adalah hari wafatnya?

Kenapa harus beda?

Untuk hal ini, setidaknya ada 2 alasan yang melandasi:

Pertama, tentu nabi berbeda dengan para ulama, apalagi orang lain. Sangat tidak mungkin membandingkan nabi dengan ulama, apalagi orang lain.

Kedua, ulama atau orang soleh bahkan pahlawan pun baru akan terlihat jasa dan pengorbanannya setelah wafat. Apakah ia orang baik atau tidak, orang yang berperan atau tidak, disukai atau tidak, semua itu akan terlihat dan terbukti ketika mereka sudah wafat.

Berbeda dengan nabi yang kelahirannya merupakan rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anbiya ayat 107:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ۝١٠٧

“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Bahkan untuk hal-hal yang lebih insidentil dan historis, ada beberapa keajaiban saat lahirnya nabi, seperti padamnya api sesembahan majusi, terputusnya akses langit bagi iblis, dibinasakannya tentara gajah abrahah, tersungkurnya berhala di sekitar ka’bah, hancurnya kerajaan kisra, dan lainnya.

Hadirnya nabi di muka bumi ini merupakan rahmat yang nyata bagi seluruh alam. Nabi tidak hanya sesosok manusia yang mulia, tapi juga ia diutus untuk menyebarkan kemuliaan itu kepada seluruh alam, mengajari, menuntun, menebar kasih sayang dengan akhlaknya yang sempurna.

Maka ini sejalan dengan sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya pada bab musnad Abi Hurairah yang berbunyi:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.”

العلماء ورثة الأنبياء

Sedangkan ulama adalah pewaris para nabi.

Dalam Qasidah Burdah, Imam Bushiri menuliskannya dengan indah
أَبَانَ مَوْلِدُهُ عَنْ طِيْـــــبِ عُنْصُرهِ ۞ يَا طِيْـــبَ مُبْتَدَإٍ مِنْهُ وَمُخْتَتَمِ
Kelahiran sang nabi menampakkan kesucian diri
Alangkah indah permulaannya, juga indah penghabisannya

Di sisi lain, Sufyan bin Uyainah yang dikutip oleh Ibnu Jauuzi berkata dalam Muqaddimah Shifat ash-Shafwah:

عِنْدَ ذِكْرِ الصَّالِحِيْنَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ (سفيان بن عيينة ذكره ابن الجوزي في مقدمة صفوة الصفوة)

“Mengingat orang shaleh menjadi sebab turunnya rahmat.”

Dengan ini, lantas apa?

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
HarlahhaulYai Imam

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Menulis Buku sebagai Mahar

Menulis Buku sebagai Mahar

Antara Kesepian dan Validasi

Antara Kesepian dan Validasi

Hidup yang Keras atau Kita yang Lemah?

Hidup yang Keras atau Kita yang Lemah?

Mengenal 78 Cabangan Iman: Menyelami Kedalaman Ajaran Syaikh Nawawi Al-Jawi

Mengenal 78 Cabangan Iman: Menyelami Kedalaman Ajaran Syaikh Nawawi Al-Jawi

Memilah Makna Ramadhan Bukan Dari Sekadar Kemasan   

Memilah Makna Ramadhan Bukan Dari Sekadar Kemasan  

Mengapa Ibu Disebut Tiga Kali dalam Hadits Nabi? Berikut Penjelasan dan Hikmahnya

Mengapa Ibu Disebut Tiga Kali dalam Hadits Nabi? Berikut Penjelasan dan Hikmahnya