Sudah menjadi agenda tahunan ketika ajakan bukber (buka bersama) memenuhi kalender Ramadhan dan agenda perpulangan yang sudah menjadi note list oleh penulis dan bagi santri lainnya. Dari sekadar temu kangen kawan lama hingga reuni angkatan, semua dibungkus dalam satu moment bukber yang sekaligus menjadi ajang silaturahmi tahunan. Tapi ada satu pemandangan yang belakangan bikin hati penulis agak miris ketika moment bukber justru mengubur kewajiban shalat maghrib. Ironisnya ketika kita berhasil menahan lapar belasan jam demi memenuhi perintah Allah, namun saat waktu berbuka tiba, kita justru mengabaikan kewajiban perintah sholat karena terlalu asyik dengan hidangan dan obrolan.
Fenomena ini dirasakan langsung oleh penulis melalui pengamatannya, ketika banyak dari mereka yang bahkan lebih memilih mengqodho’ sholat maghrib dirumah. Dalam pengajian bandongan kitab Salalimul Fudhola yang penulis ikuti pada pengajian kilatan Ramadhan ini, ada satu poin yang terasa sangat menampar. Kitab tersebut menyebutkan bahwa salah satu cara Allah menguji hambanya adalah melalui sifat ghoflah atau kelalaian. Dengan redaksi nadzom berikut:
فإن ابتليت بغفلة او صحبة # في مجلس فتداركن مهرولا
Artinya, apabila Allah mengujimu dengan ghoflah (kelalaian) atau dengan persahabatan yang menyibukkanmu dari menjaga sikap dalam satu majlis (perkumpulan), maka segeralah menyusul apa yang telah luput darimu dengan muhasabah diri dan memperbanyak istighfar.
Sifat lupa ini uniknya sering muncul justru ketika kita sedang berada di tengah-tengah sebuah majelis atau perkumpulan. Ketika kita dikelilingi teman-teman, energi sosial kita meningkat. Obrolan tentang masa lalu, rencana masa depan, hingga guyonan receh membuat waktu terasa berjalan lebih cepat. Di sinilah ghoflah bekerja dengan halus. Ia tidak datang sebagai godaan jahat yang terang-terangan, melainkan menyelinap lewat kenyamanan obrolan, kehangatan pertemuan, hingga euforia saat menyantap hidangan. Di tengah keriuhan itu, kesadaran ruang dan waktu sering kali terdistract. Suara adzan yang hanya berkumandang beberapa menit seolah kalah nyaring oleh riuhnya percakapan di atas meja makan.
Waktu maghrib yang sangat sempit ini seringkali terabaikan karena waitres yang tak kunjung datang mengantarkan pesanan dan sesi dokumentasi yang tak kunjung usai. Kita sering merasa “nggak enak” mau ninggalin obrolan, atau rasa malas karena perut terlalu kenyang. Di titik itulah, sebenarnya kita lagi diuji mana yang lebih besar di hati kita. Suara teman yang lagi cerita, atau suara Tuhan yang manggil lewat adzan? Mengutip hikmah dari Salalimul Fudhola, berada di tengah manusia menuntut kewaspadaan batin yang lebih tinggi dibandingkan saat menyendiri. Kita dituntut untuk lebih berani jadi orang pertama yang berdiri setelah adzan berkumandang. Jangan sampai kita sebagai santri justru hanyut dalam kelalaian moment bukber.
Menjadi santri yang paham bil ilmi wal amal bukan berarti kita menjadi kaum yang anti-bukber, tetapi sejauh mana kita bisa mengembalikan esensi ajakan bukber dengan silaturahmi tanpa menanggalkan kehormatan syariat. Sudah seharusnya tradisi bukber menjadi moment disaat semua orang memuja tuhanNYA di shaf yang sama. Pada akhirnya, trend bukber yang sukses bukanlah tentang cafe instagramable atau seberapa lengkap personil yang hadir, melainkan tentang mereka yang mampu berbuka tanpa melupakan siapa yang memberinya rezeki untuk berbuka. Wallahu A’lam.