Ala al-Din al-Kasani, pengarang kitab Badai’ al-Shanai’, sebuah buku fiqih Mazhab Hanafi, adalah ulama besar bergelar malik al-ulama (“raja para ulama”). Ia adalah salah seorang santri Muhammad bin Ahmad al-Samarkandi, seorang ahli fiqih besar pada zamannya. Kasani mengaji hampir semua kitab gurunya itu. Syekah Ahmad al-Samarkandi (dari Samarkand), sang guru, merasa senang melihat ketekunan santrinya itu.
Syekh mempunyai anak perempuan bernama Fatimah. Sejak kecil, ia mengaji pada ayahnya sampai mengusai banyak ilmu. Ia hafal kitab ayahnya, al-Tuhfah. Ia dikenal sebagai ulama perempuan (‘allamah, faqihah). Bila sang ayah dimintai fatwa oleh masyarakatnya, ia meminta putrinya untuk menjawab, sementara ia sendiri ikut mendengarkannya.
Fatimah, di samping cerdas, adalah perempuan dengan keelokan rupa yang menawan banyak orang. Bahkan, raja-raja di wilayah Turki dan Arabia silih berganti datang menemui ayahnya untuk meminang putrinya bagi para putra mahkota mereka. Akan tetapi, tidak satu pun yang diterima.
Syekh kemudian menawarkan putrinya kepada Ala al-Din, santrinya yang cerdas dan rajin ibadah itu. Namun, Ala al-Din, di satu sisi, merasa dirinya tak pantas menikahi putri gurunya yang sangat ia hormati itu. Ia juga santri yang miskin. Di sisi lain, ia merasa tidak etis menolak permintaan gurunya.
Akan tetapi, syekh hanya mau menikahkan putrinya, jika Ala al-Din telah selesai menulis syarh (komentar) atas kitab al-Tuhfah al-Fuqaha, karyanya. Ala al-Din menyanggupinya, bukan hanya karena diminta gurunya, melainkan karena, lebih dari segalanya, kecantikan dan kecerdasan Fatimah. Maka, ia segera menulisnya.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia dapat menyelesaikan karyanya yang ia beri judul Badai’ al-Shanai’ fi Tartib al-Syarai’ dan terdiri atas tujuh jilid, masing-masing 450 halaman. Dan kitab inilah yang kemudian menjadi mahar atau maskawin si santri miskin untuk menyunting putri cantik-cerdas gurunya itu. Para ulama sezamannya mengatakan bahwa Ala al-Din adalah santri yang sangat beruntung karena mendapatkan dua permata nan elok: Fatimah dan syarh kitab Tuhfah.
Dalam pendahuluan kitabnya, Al-Kasani mengatakan, “Kitab ini (syarh kitab Tuhfah) berisi penjelasan mengenai hukum-hukum Islam (ilm al-syarai’ wa al-hakam). Sesungguhnya telah banyak buku ditulis mengenainya oleh para guru kita. Semuanya baik dan bermanfaat. Sayangnya, mereka belum banyak yang menyusunnya dengan sistematika yang rapi, kecuali guruku, pewaris sunnah, Syekh Muhammad bin Ahmad bin Abi Ahmad, rais al-sunnah (pemimpin al-sunnah). Aku mengikuti jejaknya da naku memperoleh petunjuknya.”
Nama lengkap Al-Kasani adalah al-Imam ’Ala al-Din Abi Bakr bin Mas’ud al-Kasani (penduduk Kasan, Turkistan) al-Hanafi (bermazhab Hanafi). Ia meninggal duna tahun 587 H.
*Kisah diambil dari buku Pendar-Pendar Kebijaksanaan, KH. Husein Muhammad.