web analytics

Pahlawan Kemerdekaan di Balik Lembar Ceban

0 0
Read Time:3 Minute, 0 Second

Indonesia. Apakah itu? Memangnya kita masih berpikir kalau negara itu ada?

Beberapa kalimat tersebut dapatlah menggambarkan keadaan ataupun kondisi di dalam negara itu sendiri Negara yang selalu dihantam berbagai konflik, baik internal maupun eksternal. Di antara keduanya yang paling panas justru gerombolan konflik internal. Mulai dari politik, ekonomi, maupun keadaan sosial dari masyarakat Indonesia, bahkan beberapa warta tidak penting pun menjadi sorotan entah karena pengalihan isu atau memang kehabisan bahan berita.

Sebagai warga negara biasa yang sudah muak akannya, dapat dimaklumi apabila sudah tak tertanam rasa nasionalisme dalam hati, pikir, juga jasmaninya. Bangsa pun tak punya, lantas setia pada siapa?

Paragraf di atas sangatlah menggambarkan seorang warga biasa yang tak punya bangsa juga negara karena kekecewaan serta kemuakkannya terhadap hal itu. Sebab seluruh isi kepalanya dipenuhi rasa putus asa, perubahan cara berpikir menjadi akibatnya, menjadi seorang yang cuek terhadap negara dan juga tertutup—lebih tepatnya menutup pemikirannya.

فَضَّلَ اللّٰهُ الْمُجٰهِدِيْنَ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقٰعِدِيْنَ دَرَجَةً

“Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa uzur).” (QS. An-Nisa: 95)

Dari potongan ayat tersebut bisalah menimbulkan rasa hormat terhadap perjuangan para pahlawan yang telah mempertahankan kemerdekaan demi kesatuan dan persatuan bangsa. Apa salahnya menghormati pahlawan? Meski sering bahkan terus-terusan dihujani permasalahan seperti yang telah dituturkan di atas, setidaknya dengan menghormati perjuangan para pendahulu bangsa dapat menghidupkan rasa nasionalisme yang telah mati di tengah sakitnya hati akibat selalu sendiri.

Maka dari itu, mari kita sama-sama mengenal pahlawan yang kini diabadikan pada lembaran uang sepuluh ribu—Frans Kaisiepo. Kamu harus kepo sebab pahlawan-pahlawan kita toh!

Beliau lahir pada tanggal 10 Oktober 1921 di Pulau Biak. Anak dari pasangan Albert Kaisiepo dan Alberthina tersebut dikenal sebagai pahlawan negara sebab usaha seumur hidupnya dalam menyatukan Irian Barat dengan Indonesia. Setelah sembilan tahun menjabat sebagai Gubernur Irian Barat, beliau meninggal akibat serangan jantung pada 21 April 1979.

Kala itu Belanda masih berupaya menguasai atau mempertahankan kekuasaan terhadap Papua (dulu Irian Barat) pada tanggal 31 Agustus 1945, setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Di tengah situasi tersebut Frans Kaisiepo mengukir sejarah dengan menjadi orang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”.

Pada tahun 1946, diselenggarakan Konferensi Malino di Sulawesi Selatan dengan Frans sebagai satu-satunya orang asli Papua yang diutus Nederlands Nieuw Guinea (nama Papua saat berada di bawah kekuasaan Belanda). Pada konferensi tersebut, beliau menentang keras rencana penggabungan Maluku dan Papua menjadi Negara Indonesia Timur (negara bagian dari Republik Indonesia Serikat [RIS] yang dibentuk oleh Belanda).

Tidak hanya itu, pada tahun yang sama, dalam mempertahankan kemerdekaan Frans pun membangun Partai Indonesia Merdeka di Biak juga melempar segelintir perlawanan terhadap Belanda. Akibatnya beliau dipenjarakan oleh Belanda dan mendekam di sana selama tujuh tahun.

Pada tahun 1961, beliau mendirikan Partai Irian Sebagian Indonesia yang bertujuan untuk menuntut penyatuan wilayah Nederlands Nieuw Guinie (Papua) ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada tahun yang sama, Prsiden Soekarno memutuskan membentuk Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat). Operasi tersebut menghasilkan Perjanjian New York yang lahir pada 1 Mei 1963 dengan keputusan bahwa, wilayah Papua dikembalikan dari Belanda ke Indonesia.

Sebenarnya perjuangan Frans Kaisiepo tidaklah semudah dan sesingkat seperti yang tertera dalam tulisan ini, namun dapatlah secercah kilas balik tersebut dapat mengetuk juga menanamkan kembali rasa nasionalisme dalam hati kita sebagai Warga Negara Indonesia. Apabila sudah sangat kecewa dengan negara dan pemerintahannya, maka lihatlah warganya. Apabila hati sudah luka maka hormatilah perjuangan mereka mencapai merdeka.

Wallahu a’lam.

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Muslimah di Balik Astrolab

Muslimah di Balik Astrolab

Biografi Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’rani

Biografi Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’rani

KH. Mahrus Aly: Ulama dan Pahlawan Bangsa

KH. Mahrus Aly: Ulama dan Pahlawan Bangsa

Biografi Imam Nawawi: Ulama Besar Penulis Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in

Biografi Imam Nawawi: Ulama Besar Penulis Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in

Dari Madura ke Medan Perang Dunia: Perjalanan Halim Perdanakusuma

Dari Madura ke Medan Perang Dunia: Perjalanan Halim Perdanakusuma

KH Mas Alwi bin Abdul Aziz: Sang Pemberi Nama Nahdlatul Ulama

KH Mas Alwi bin Abdul Aziz: Sang Pemberi Nama Nahdlatul Ulama