web analytics

Mengenal Sulthonul Ulama; Syekh Izzuddin bin Abdissalam

0 0
Read Time:4 Minute, 40 Second

Bagi siapa yang ingin mencari panutan dalam mencari ilmu saat usia senja, dengan kesusahan yang menghasilkan keberhasilan maka sosok ulama besar bernama syekh Izzuddin bin Abdissalam adalam jawabannya. Beliau dikenal luas dalam mazhab Syafi’i. kedalaman dan keluasan ilmunya terbuktikan dari seringnya pendapat beliau yang dikutip, baik dari kitab ulama terdahulu (salaf) maupun ulama masa kemudian.

Luasnya cakrawala keilmuwan yang dimiliki Syekh Izzudin bin Abdissalam tampak dari sejumlah predikat keilmuwan yang diberikan kepadanya. Seperti yang di ungkapkan oleh Syekh Khoiruddin ad Dimisyqi dalam salah satu karyanya, di kalangan Syafi’iyyah, Syekh Izzuddin dijuluki sebagai Fuqoha yang telah mencapai tingkatan mujtahid, sekaligus di akui sebagai mufassir (ahli tafsir) dan muahaddist (ahli hadist).

Namun yang paling menonjol dari gelar-gelar tersebut adalah julukan Sulthonul Ulama (Rajanya para ulama) yang di sandangkan pada Syekh Izzuddin. Julukan ini bukan tanpa alasan, tetapi di dasarkan pada kontribusi besar beliau dalam memajukan Khazanah keilmuwan Islam, terutama di bidang fiqh.

Nama Lengkap Syekh Izzuddin

Nama lengkap beliau adalah Imam bin Abdul Aziz bin Absussalam bin Abul Qosim bin Hasan as Sulami ad Dimisqy as Syafi’i. walaupun nama aslinya adalah Abdul Aziz, beliau dikenal luas dengan julukan Izzuddin atau al Izz. Penyemetan gelar Izzuddin bermakna “Kemuliaan agama” yang mengikuti tradisi di Damaskus pada masa itu, dimana setiap Khalifah, sultan, pejabat, apalagi kalangan ulama. Lazim di beri tambah gelar pada namanya. Gelar tersebut pada akhirnya justru lebih populer, sehingga beliau lebih akrab disapa Izzuddin bin Abdussalam atau al Izz bin Abdussalam.

Dikutip dari catatan Syekh Abu Bakar bin Syubhah, Syekh Izzuddin bin Abdussalam dilahirkan di Damaskus pada tahun 577 H (1181 M), dan wafat pada malam sabtu tanggal 19 Jumadil Awal tahun 660 H (1262 M). Jenazah  beliau dimakamkan di kompleks pemakaman al Qorafah al Kubro, Mesir.

Latar belakang keluarga Syekh Izzuddin

Meskipun nama Syekh Izzuddin tetap harum hingga kini, latar belakang keluarganya sebenarnya sangat sederhana, bahkan dari segi ekonomi tergolong keluarga serba pas-pasan, hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Beliau di besarkan di tengah kemiskinan, bukan berasal dari golongan bangsawan maupun keturunan ulama besar. Imam Tajuddin bin Abdul Wahab as Subki (wafat) 771 H) mengabadikan kisah kecil  Syekh Izzuddin dalam karya biografinya, Thobaqot as Syafi’iyyah Kubro.

Di sana, As Subki melukiskan perjuangan berat yang dijalani Izzuddin bin Abdissalam dalam menempuh keilmuwan. Keterbatasan  ekonomi membuat beliau baru mengenyam pendidikan di usia yang tak lagi muda. Setiap harinya, beliau terpaksa tidur di serambi Masjid Agung Umayah Damaskus karena tidak memiliki bekal yang memadai. Meski demikian, beliau menjalani semua itu dengan penut ketekunan dan kesabatan, sebagaimana disebutkan:

كَانَ الشَّيْخُ عِزُّ الدِّيْنِ فِي أَوَّلِ أَمْرِهِ فَقِيْرًا جِدًّا وَلَمْ يَشْتَغِلْ إِلَّا عَلَى كِبَرٍ

“Artinya: Pada permulaan hidupnya, Syekh Izzuddin adalah sosok yang sangat fakir, dan beliau baru menekuni (Mencari ilmu) setelah memasuki  usia tua”.

Mimpi basah dan Awal futuh

Pada suatu malam yang teramat dingin, seperti biasanya beilau bermalam di serambi masjid. Karena kelelahan, beliau pun cepta tertidur. Menjelang tengah malam, beliau mengalami mimpi basah (ihtilam), sehingga harus segera mandi di kolam masjid, meski sempat ragu mengingat cuaca Damaskus yang sangar dingin kala itu. Sempat terlintas untuk menunda hingga pagi hari, namun beliau segera mengurungkan niat itu dan memutuskan mandi seketika, tanpa mempedulikan dinginnya air. Setelah itu beliau lanjut tidur. Namun tanpa diduga, peristiwa serupa terulang kembali hingga tiga kali, dan saat beliau memaksakan diri untuk mandi, sampai-sampai hampir pingsan karena kedinginan. Di saat itulah terdengar ssebuah suara lembut yang berisik.

يَا ابْنَ عَبْدِ السَّلَامِ أَتُرِيْدُ الْعِلْمَ أَمِ الْعَمَلَ

Artinya; “Wahai Ibnu Abdussalam, mana yang engkau kehendaki, ilmu atau amal”.

Tanpa mengetahui asal suara tersebut, Syekh Izzuddin spontan menjawab, “Tentu ilmu, sebab dengan ilmu itulah aku dapat beramal”.

Berkat izin Alloh, keesokan harinya Syekh Izzuddin seolah memperoleh futuh, yaitu terbukanya pemahaman mendalam tanpa proses belajar formal. Kesungguhannya pada malam itu membuahkan hidayah dari Alloh, dan hatinya pun terasa begitu lapang. Buktinya, beliau mampu menghafal kitab an Tanbih karya Imam As Syairozi dalam waktu yang relatif singkat, sejal itu, beliau semakin tekun dalam menimba ilmu, berguru kepada ulama-ulama besat pada zamannya, seperti Syekh Syaifuddin al Amid dan Imam Fakhruddin Ibnu Asakir, hingga berhasil tumbuh menjadi ulama besar di Damaskus.

Kisah tersebut menunjukan bahwa sebelum meraih futuh dari Alloh SWT, Syekh Izzuddin telah berjuang sekuat tenaga untuk belajar, kendati ekonomi keluarganya sangat terbatas dan tidak mendukung perkembangan intelektualnya. Kisah ini mengajarkan bahwa untuk menjadi seorang alim, seorang tidak harus terlahir dari keluarga yang alim maupun berkecukupan. Syekh Izzuddin membuktikan bahwa seseorang dari kalangan miskin sekalipun mampu tumbuh menjadi sosok alim yang keilmuannya diakui oleh para ulama.

Kegigihan dan cita-cita tinggi Syekh Izzuddin pada akhirnya mengantarkan beliau menjadi pakar dalam ilmu fiqih, hadits, ushul fiqih, balaghah, tafsir, dan berbagai disiplin ilmu lainnya, hingga menjadi ulama yang disegani baik di Damaskus, Mesir, maupun negeri-negeri lain. Sejumlah ulama pada masanya bahkan menyatakan bahwa Syekh Izzuddin telah mencapai derajat mujtahid.

Ulama Produktif

Selain dijuluki sulthanul ulama karena penguasaan ilmunya yang begitu luas, Syekh Izzuddin juga dikenal sebagai ulama yang sangat produktif dalam berkarya. Kekayaan keilmuan beliau tercermin dari banyaknya karya besar yang terus dikaji oleh para ulama, baik pada masanya maupun hingga sekarang. Di bidang tafsir, salah satu karya monumentalnya adalah Tafsir al-Kabir li Ibn Abdissalam. Di bidang fiqih, beliau menghasilkan sejumlah karya penting, di antaranya al-Ilmam fi Adillatil Ahkam dan Qawaidusy Syari’ah al-Fawaid, dengan karya paling masyhur adalah Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam.

 

About Post Author

Darul Said

Jurnalis Pesantren Berusaha menjadi yang terbaik, di antara yang baik "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
El Mahrusy Media

Jurnalis Pesantren Berusaha menjadi yang terbaik, di antara yang baik "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Pejuang Literasi: Lubna De Cordoba

Pejuang Literasi: Lubna De Cordoba

Hari Dermaga Nasional: Sejarah dan Harapan di Balik Peringatan 17 Juni

Hari Dermaga Nasional: Sejarah dan Harapan di Balik Peringatan 17 Juni

Abbas Ibn Firnas: Ilmuwan Penantang Langit

Abbas Ibn Firnas: Ilmuwan Penantang Langit

Pahlawan Kemerdekaan di Balik Lembar Ceban

Pahlawan Kemerdekaan di Balik Lembar Ceban

Muslimah di Balik Astrolab

Muslimah di Balik Astrolab

Belajar Sejarah di Tengah Nyawit

Belajar Sejarah di Tengah Nyawit