web analytics

Antara Tahun Baru Hijriyah dan Masehi

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">
1 0
Read Time:3 Minute, 59 Second

Menurut KBBI, kalender merupakan suatu sistem teratur untuk membagi waktu berdasarkan hitungan tahun, bulan, pekan, dan hari. Di dunia yang kita huni kita mengenal dua penanggalan yang senantaisa berdampingan, yakni penanggalan Masehi dan Hijriyah. Kedua penanggalan tersebut dijadikan sebagai pedoman manusia untuk membaca perjalanan waktu. Meskipun demikian, penanggalan tersebut lahir dari latar sejarah, tujuan, dan makna yang berbeda. Mengenal sejarah keduanya bukan hanya mengenal perkara angka dan bulan, melainkan menyelami rihlah panjang manusia dalam menemukan keteraturan kehidupan.

Tahun masehi atau yang sering disebut Anno Domini (AD) merupakan bahasa latin yang memiliki makna Tahun Tuhan. Istilah ini merujuk pada sistem penanggalan berdasarkan tahun perkiraan kelahiran Yesus Kristus dan setara dengan penanggalan Masehi (M) yang kita gunakan sehari-hari. Penanggalan ini dimulai berdasarkan tahun setelah kelahiran Kristus, istilah lengkapnya adalah Anno Domini Nostri Jesu Christi yang artinya pada tahun Tuhan kita Yesus Kristus.

Sistem ini berawal dari peradaban Romawi yang memiliki banyak sistem penanggalan. Namun, pada abad ke-6, seorang rahib bernama Dionysius Exiguus mengusulkan penanggalan baru untuk menentukan waktu perayaan Paskah.

Kala itu, Dionysius ingin menghentikan penggunaan penanggalan Romawi yang masih menggunakan tahun berdirinya kota Roma atau disebut AUC (Ab Urbe Condita). Dilain sisi agama kristen juga sedang berkembang pesat. Karena itu, Dionysius kemudian menetapkan sebuah titik awal baru penanggalan yakni dengan menggunakan kelahiran Yesus Kristus sebagai awal penanggalan. Dari sinilah penanggalan Masehi lahir, kemudian perlahan-lahan diadopsi oleh kerajaan-kerajaan Eropa hingga menjadi penanggalan internasional yang kita gunakan sekarang.

Akan tetapi, beberap ahli menyatakan bahwa perhitungan tahun Masehi belum tentu akurat secara sejarah. Banyak ahli modern menduga bahwa kelahiran Yesus terjadi beberapa tahun lebih awal dari tahun 1 Masehi. Namun, yang terpenting dari penanggalan bukan tentang kapan terjadi awal mulanya, melainkan kenyataan bahwa dunia akhirnya memiliki satu standar waktu global yang sama.

Maka dari itu, tujuan utama ditetapkannya kalander masehi yakni untuk memberi patokan yang sama bagi masyarakat Kristen saat itu, kemudian berkembang menjadi standar administrasi, perdagangan, dan akhirnya menjadi patokan universal dalam penanggalan, sehingga semua orang memiliki hitungan waktu yang sama meskipun berasal dari berbagai belahan dunia yang berbeda.

Selain dipandang dari sisi sejarah, secara ilmiah penanggalan Masehi menggunakan perhitungan matahari atau bisa disebut juga kalender solar. Satu tahun masehi dihitung dari waktu bumi mengelilingi matahari, yakni sekitar 365,2425 hari. Untuk menyesuaikan selisih sepersekian hari itu, sistem Masehi menambahkan tahun kabisat setiap empat tahun sekali, yaitu tahun yang memiliki tanggal 29 Februari. Skema ini membuat kalender Masehi tetap stabil dan relatif akurat dengan pergerakan matahari.

Kalender solar seperti ini cocok digunakan dalam dunia pertanian, navigasi, dan kegiatan yang membutuhkan kepastian musim. Sebab perubahan musim sangat bergantung pada siklus matahari, bukan pada peredaran bulan.

Kemudain penanggalan yang kedua yakni penanggalan hijriyah, berbeda dengan tahun Masehi yang lahir dari tradisi kristiani, penanggalan Hijriyah lahir dari peradaban Islami. Penanggalan ini dimulai pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, tepatnya tahun ke-17 Hijriyah (sekitar 638 M). Pada masa itu pemerintahan Islam semakin luas sehingga mulai muncul masalah administrasi seperti surat-surat negara yang tidak memiliki penanda tanggal secara jelas.

Berangkat dari permasalahan tersebut, para sahabat kemudian bermusyawarah untuk menentukan penanggalan resmi umat Islam. Dari musyawarah tersebut terdapat beberapa usulan diantaranya dimulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, tahun beliau diangkat menjadi rasul, dan tahun diturunkannya Al-Qur’an. Namun, Umar memilih satu peristiwa yang dianggap paling istimewa karena membawa perubahan besar bagi dakwah Islam, yakni peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah.

Hijrah bukan hanya sekadar berpindah tempat, tetapi juga fondasi lahirnya umat Islam yang berdaulat. Karena itulah penanggalan ini diberi nama Hijriyah. Karena kalender ini tidak hanya dibuat untuk kepentingan politik atau ekonomi, melainkan sebagai identitas budaya umat Islam itu sendiri.

Selain itu, kalender Hijriyah juga erat kaitannya dengan ibadah. Ibadah umat Islam membutuhkan ketepatan waktu berdasarkan bulan Hijriyah yang meliputi Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqo’dah, dan Dzulhijah. Dari masing-masing bulan tersebut menjadi penanda penting dalam menjaga keteraturan ibadah.

Perbedaannya dengan kalender Masehi, kalender Hijriyah menggunakan kalender lunar atau kalender berbasis bulan sebagai penanda pergantian bulan. Setiap awal bulan ditandai dengan munculnya hilal dan bulan sabit tipis menjadi simbol pergantian waktu. Satu bulan dihitung berdasarkan siklus bulan mengelilingi bumi yang berlangsung sekitar 29,5 hari. Dalam satu tahun terdapat 12 bulan, sehingga total hari dalam kalender Hijriyah hanya sekitar 354 hari, atau 11 hari lebih pendek dari kalender Masehi.

Meskipun keduanya memiliki latar belakang berbeda tetapi tidak saling bertentangan. Kalender Masehi membantu peradaban menyelaraskan kegiatan dunia modern, sementara kalender Hijriyah digunakan sebagai penentu ibadah umat Islam.

Kesimpulannya, baik Masehi maupun Hijriyah hanyalah dua cara manusia menata waktu. Yang satu menatap matahari, yang satu menatap bulan. Tetapi keduanya menunjukkan hal yang sama yakni bahwa hidup selalu berjalan maju dan sejarah manusia tercatat melalui perputaran waktu yang kemudian berlalu.

Waallahu a’lam

 

 

About Post Author

Anisafu

Mengabdi untuk Mengabadi
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">

Mengabdi untuk Mengabadi

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Isra’ Mi’raj VS Astronaut

Isra’ Mi’raj VS Astronaut

Gengsi: Penjara Tak Kasat Mata yang Merusak Diri

Gengsi: Penjara Tak Kasat Mata yang Merusak Diri

Kenapa Harus Pesantren?

Kenapa Harus Pesantren?

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam

Keutamaan Bulan Rojab dan Amalan yang Mustajab

Keutamaan Bulan Rojab dan Amalan yang Mustajab

Surga Berada di Telapak Kaki Ibu

Surga Berada di Telapak Kaki Ibu