Hari demi hari,
Detik berdetik tak lagi bernadi,
Tahun barganti tahun peradaban manusia hidup dalam
Kecemasan
Meskin menjadi kaya,
Kaya menjadi miskin,
Mereka beradu Nasib di bumi yang satu,
Kekuasaan, kerakusan, merampas segala hal yang baik.
Mata buta
Hati mati,
Rasa sirna
Gelap tak ada cinta
Si miskin melarat dan menjerit,
Si kaya menjilat di kaki penguasa,
Hutan hutan digadaikan,
Emas dan perak merebbut nyawa,
Gunung-gunung ini tak kuasa menahan,
Air mata becucuran mengalir sepanjang kehancuran
Atas nama relusi kuasa,
Bukan atau yang maha kuasa,
Dengan berwenang-wenang bukan karena cinta,
Jadilah mereka raja dan penggendali kuasa.
Aturan dan cara main segala di main mainkan,
Ini negri suci yang diperjuangkan dengan hati, darah, dan air mata.
Janagan buat mereka mati berulang kali.
Peristiwa rengasdengklok
Tak cukup kah jadi peringatan
Sutan Syahrir membangun Gerakan bawah tanah, menculik sang
Proklamator, Soekarno dan Muhammad Hatta
Berpuluh-puluh tahun merdeka masih saja membawa pergi
Segenap lara,
Tanah-tanah tergusur mesin,
Air mata mengalir membawa duka,
Gunung-gunung hancur sepanjang harapan,
Menggadaika tanah, dengan ambisi dan kerakusan
Sudah cukup air mata, demi merdeka
Sudah cukup darah mengalir demi merdeka
Sudah cukup nyawa direnggut karena merdeka.
SUDAH CUKUP!!! Cukup!!!
Jangan buat kami marah menumpahkan darah sampai
Langit memerah
1945 menjadi sejarah panjang penderitaan
Merdeka sejak hati, atau mati karena merdeka,
Nyatanya tangisan sering bergema,
Mengebiri gulita di malam yang sunyi
Jejak langkah para pahlawan, dengan sengit memecah malam,
Berulang kali merobek sunyi, dengan peluru dan hantaman senjata,
Sejarah berulang kali menggores di langit ingatan.
Tapi mereka lupa!!!
Apa itu merdeka!!?
By: Ziatan Kahfi Ibrahim