web analytics

Apakah Literasi Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

0 0
Read Time:5 Minute, 8 Second

Kemerdekaan sering kali dipahami sebagai kebebasan dari penjajahan. Namun, ada bentuk kemerdekaan yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan kehidupan seseorang: kemerdekaan berpikir. Seseorang mungkin hidup di negara yang merdeka, bebas berbicara, bebas membaca, dan memiliki akses terhadap pendidikan. Tetapi jika pikirannya mudah diarahkan oleh informasi yang diterima tanpa pernah diperiksa, apakah ia benar-benar merdeka?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan di tengah kehidupan hari ini. Kita hidup dalam zaman ketika informasi begitu mudah ditemukan. Dahulu, seseorang harus pergi ke perpustakaan, membeli koran, atau menunggu siaran berita untuk memperoleh informasi. Kini, dengan sebuah telepon genggam, jutaan informasi dapat hadir dalam hitungan detik.

Kita dapat membaca berita dari berbagai belahan dunia, mengakses buku digital, mengikuti diskusi, mendengarkan ceramah, dan mempelajari berbagai ilmu tanpa harus meninggalkan tempat duduk. Sekilas, keadaan ini tampak seperti puncak kemerdekaan literasi: informasi semakin terbuka dan pengetahuan semakin dekat.

Namun, di situlah paradoksnya.

Kita mungkin tidak lagi kesulitan mendapatkan informasi. Persoalan kita justru berubah menjadi: bagaimana menentukan informasi mana yang layak dipercaya?

Dahulu, tantangan literasi adalah keterbatasan akses. Sekarang, kita berhadapan dengan kelimpahan informasi.

Membaca, misalnya, tidak lagi selalu berarti memahami. Di media sosial, seseorang dapat membaca puluhan bahkan ratusan unggahan dalam sehari. Namun, berapa banyak yang benar-benar dipahami? Berapa banyak yang diperiksa kebenarannya? Berapa banyak yang hanya berhenti sebagai informasi yang lewat di layar?

Budaya membaca hari ini juga semakin sering berhenti pada judul. Sebuah berita dibaca hanya dari judulnya, kemudian dibagikan. Sebuah potongan video ditonton beberapa detik, lalu dianggap cukup untuk memahami keseluruhan peristiwa. Sebuah kutipan yang tampak meyakinkan langsung dipercaya karena sesuai dengan pendapat yang sudah kita miliki.

Kita ingin segera tahu, segera berkomentar, segera membagikan, lalu berpindah ke informasi berikutnya.

Padahal, memahami sesuatu membutuhkan waktu.

Membaca tidak sekadar melihat rangkaian kata. Membaca berarti memahami, mempertanyakan, menghubungkan, dan menempatkan informasi dalam konteksnya. Karena itu, orang yang membaca banyak belum tentu memiliki kemampuan literasi yang baik.

Literasi justru menuntut kita untuk sesekali berhenti dan bertanya: Dari mana informasi ini berasal? Apa konteksnya? Benarkah demikian? Adakah sudut pandang lain?

Persoalan menjadi semakin rumit ketika algoritma masuk ke dalam kehidupan kita.

Ketika membuka media sosial, kita merasa bebas memilih apa yang ingin dilihat. Kita dapat mengikuti akun yang disukai, mencari topik yang diminati, dan melewati konten yang tidak menarik. Namun, apa yang muncul di layar tidak sepenuhnya hadir secara kebetulan.

Algoritma mempelajari apa yang kita tonton, sukai, komentari, dan cari. Dari sana, sistem berusaha menyajikan konten yang dianggap menarik bagi kita. Akibatnya, kita dapat berada dalam ruang informasi yang terasa sangat nyaman karena isinya sesuai dengan minat dan pandangan kita.

Tetapi kenyamanan tidak selalu berarti kebenaran.

Jika seseorang terus-menerus disuguhi informasi yang menguatkan pandangannya sendiri, ia dapat semakin sulit melihat sudut pandang yang berbeda. Bukan karena informasi lain tidak tersedia, melainkan karena informasi tersebut semakin jarang hadir di hadapannya.

Di sinilah pertanyaan tentang kemerdekaan berpikir menjadi lebih rumit.

Apakah kita benar-benar bebas memilih, atau kita hanya bebas memilih dari apa yang disodorkan kepada kita?

Kita memang bebas menggulir layar ke atas dan ke bawah. Namun, siapa yang menentukan apa yang muncul sebelum kita menggulirnya?

Kelimpahan informasi juga membuat hoaks lebih mudah menyebar. Informasi yang salah dapat beredar dengan cepat, terutama ketika dikemas secara menarik, mengejutkan, atau menyentuh emosi.

Sering kali, sesuatu dipercaya bukan karena benar, tetapi karena terasa benar.

Informasi yang membuat kita marah akan lebih mudah menarik perhatian. Informasi yang menguatkan keyakinan kita akan lebih mudah diterima. Sebaliknya, informasi yang meminta kita membaca panjang, memeriksa data, dan mempertimbangkan konteks sering kali terasa membosankan.

Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting.

Berpikir kritis bukan berarti selalu curiga terhadap segala sesuatu. Bukan pula berarti merasa paling pintar dan menganggap orang lain selalu salah. Berpikir kritis berarti memiliki keberanian untuk menunda kesimpulan, memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan bersedia mengubah pendapat ketika menemukan alasan yang lebih kuat.

Dengan kata lain, kemerdekaan berpikir membutuhkan kerendahan hati.

Kita perlu berani mengatakan, “Saya belum tahu,” ketika memang belum tahu. Kita juga perlu mampu mengatakan, “Saya mungkin keliru,” ketika menemukan bukti yang menunjukkan kesalahan kita.

Jika membaca merupakan cara kita menerima dan memahami dunia, maka menulis adalah cara kita merespons dunia.

Menulis merupakan salah satu bentuk kemerdekaan karena melalui tulisan seseorang dapat menyampaikan gagasan, merekam pengalaman, menyuarakan keresahan, dan menawarkan perspektif. Namun, kebebasan menulis juga tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab.

Di zaman ketika siapa pun dapat menulis dan menyebarkan sesuatu dalam hitungan detik, kemampuan menulis harus berjalan bersama kemampuan memeriksa fakta. Jangan sampai kebebasan berekspresi berubah menjadi kebebasan menyebarkan informasi yang keliru.

Menulis dengan merdeka bukan berarti menulis tanpa batas. Justru orang yang benar-benar merdeka dalam menulis adalah mereka yang mampu menggunakan kebebasannya dengan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, tantangan literasi hari ini bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi. Informasi sudah tersedia di mana-mana. Tantangannya adalah bagaimana kita tidak menjadi manusia yang dikendalikan oleh informasi.

Kita perlu membangun kembali kebiasaan membaca secara utuh. Tidak berhenti pada judul. Tidak terburu-buru membagikan sesuatu hanya karena sesuai dengan pendapat kita. Tidak menganggap sebuah potongan video sebagai gambaran lengkap sebuah persoalan. Dan tidak menjadikan banyaknya orang yang mempercayai sesuatu sebagai bukti bahwa sesuatu itu benar.

Kemerdekaan berpikir membutuhkan usaha. Kita perlu membaca lebih dari satu sumber, mendengarkan pandangan yang berbeda, memeriksa konteks, mengenali bias, dan bertanya sebelum percaya.

Sebab, penjajahan terhadap pikiran tidak selalu hadir dalam bentuk larangan membaca. Kadang-kadang, ia justru hadir dalam bentuk terlalu banyak hal yang kita baca tanpa pernah benar-benar kita pikirkan.

Maka, dalam momentum kemerdekaan, barangkali kita perlu memperluas kembali makna merdeka. Merdeka bukan sekadar bebas membuka aplikasi, membaca informasi, atau menyampaikan pendapat. Merdeka adalah ketika kita memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang layak dipercaya, apa yang perlu dipertanyakan, dan apa yang harus ditolak.

Kita boleh hidup di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti. Tetapi jangan sampai arus tersebut membawa pikiran kita ke mana saja tanpa pernah kita tentukan arahnya.

Sebab, kemerdekaan yang paling sulit diperjuangkan mungkin bukan kemerdekaan untuk berbicara, melainkan kemerdekaan untuk berpikir.

Dan selama kita masih membiarkan algoritma menentukan apa yang kita lihat, judul menentukan apa yang kita percaya, dan emosi menentukan apa yang kita bagikan, satu pertanyaan akan terus relevan:

Apakah kita benar-benar bebas berpikir, atau hanya bebas memilih dari apa yang disodorkan kepada kita?

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Menjaga Ta’aluq: Ikatan Hati Santri dan Orang Tua

Menjaga Ta’aluq: Ikatan Hati Santri dan Orang Tua

Tajdiddun Niat dan Pondok Pesantren

Tajdiddun Niat dan Pondok Pesantren

Budaya dan Pesantren

Budaya dan Pesantren

Peran Besar Budaya Dalam Dakwah Walisongo

Peran Besar Budaya Dalam Dakwah Walisongo

Kebesaran NU dan Dedikasi Para Pendiri untuk Bangsa

Kebesaran NU dan Dedikasi Para Pendiri untuk Bangsa

Saya Ingin Menjadi Seperti Pak Tohari

Saya Ingin Menjadi Seperti Pak Tohari