web analytics

Banyak Membaca, Sedikit Paham

0 0
Read Time:3 Minute, 38 Second

Pernahkah kita membaca belasan halaman buku, tetapi setelah menutupnya justru tidak tahu apa yang baru saja dibaca? Atau menyelesaikan beberapa halaman kitab, lalu ketika ditanya tentang isinya, yang tersisa hanya ingatan samar-samar?

Kita membaca, tetapi tidak benar-benar memahami. Kita menamatkan halaman, tetapi tidak membawa pulang gagasan.

Inilah salah satu ironi dalam dunia literasi: banyak membaca, sedikit paham.

Di zaman ketika bahan bacaan begitu mudah ditemukan, persoalan kita barangkali bukan lagi tentang bagaimana mendapatkan bacaan. Buku tersedia di perpustakaan, toko buku, maupun dalam bentuk digital. Kitab pun semakin mudah diakses. Informasi datang hampir tanpa jeda. Namun, banyaknya bacaan tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya pemahaman.

Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan membaca dengan terburu-buru. Kita sering menjadikan jumlah halaman sebagai ukuran keberhasilan. Semakin banyak halaman yang selesai, semakin merasa produktif. Akhirnya, mata hanya sibuk mengejar baris demi baris, sementara pikiran tidak benar-benar mengolah apa yang sedang dibaca.

Padahal, membaca bukan perlombaan.

Ada kalanya satu halaman perlu dibaca dua atau tiga kali. Ada kalanya sebuah paragraf menuntut kita berhenti sejenak untuk memikirkan maksudnya. Bahkan, ada bacaan yang baru terasa maknanya setelah kita selesai membacanya untuk kedua kalinya.

Penyebab lain adalah membaca tanpa tujuan. Kita membuka buku hanya karena ingin membaca, tanpa mengetahui apa yang hendak dicari atau dipahami. Akibatnya, perhatian mudah berpindah. Belum selesai satu halaman, tangan sudah ingin membuka ponsel. Belum selesai memahami satu gagasan, pikiran sudah melompat ke hal lain.

Belum lagi kebiasaan membaca sambil melakukan banyak hal sekaligus. Membaca sambil membuka media sosial, membalas pesan, atau berpindah-pindah aplikasi membuat perhatian terpecah. Kita mungkin masih melihat tulisan, tetapi tidak sepenuhnya hadir di dalam bacaan.

Kemudian, ada satu hal yang sering dilupakan: membaca bukan berarti mengingat.

Apa yang kita baca tidak otomatis menetap dalam ingatan. Bacaan perlu diolah kembali agar tidak cepat menguap. Karena itu, setelah membaca beberapa halaman, cobalah berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: Apa yang baru saja saya baca? Apa gagasan utamanya? Apa yang paling penting dari bagian ini?

Jika kita mampu menjelaskannya kembali dengan bahasa sendiri, berarti bacaan tersebut mulai benar-benar dipahami.

Cara sederhana ini dapat diterapkan oleh siapa saja, termasuk santri dalam membaca buku maupun kitab. Sebelum membaca, tentukan terlebih dahulu tujuan kita. Jika hendak membaca kitab, misalnya, ketahui pembahasan apa yang sedang dipelajari. Jangan sekadar mengejar halaman. Pahami apa yang sedang dibicarakan.

Saat menemukan bagian penting, tandai seperlunya. Tidak semua kalimat harus diberi stabilo. Catat kata kunci, gagasan utama, atau keterangan yang menurut kita penting. Catatan tidak harus panjang. Beberapa kata yang mampu mengingatkan kita pada satu pembahasan terkadang sudah cukup.

Jika menemukan istilah yang belum dipahami, jangan langsung melewatinya. Cari maknanya atau tanyakan kepada guru. Dalam membaca kitab, hal ini menjadi semakin penting karena satu istilah dapat berkaitan dengan pembahasan yang lebih luas.

Setelah selesai membaca, lakukan satu kebiasaan sederhana: tutup buku dan ceritakan kembali.

Tidak perlu meniru bahasa penulis. Gunakan bahasa sendiri seolah-olah kita sedang menjelaskan kepada teman. Jika masih kesulitan menjelaskan, mungkin ada bagian yang belum benar-benar kita pahami. Bukalah kembali bagian tersebut, lalu baca dengan lebih perlahan.

Bagi santri, kebiasaan muthalaah juga dapat dibuat lebih aktif. Jangan hanya membaca teks kemudian berpindah ke halaman berikutnya. Cobalah memberi pertanyaan pada bacaan: Apa maksud penulis? Mengapa pendapat ini disampaikan? Apa hubungannya dengan pembahasan sebelumnya? Bagaimana penerapannya dalam kehidupan?

Dengan begitu, membaca tidak lagi menjadi aktivitas pasif. Kita tidak hanya menerima tulisan, tetapi berdialog dengan tulisan.

Dan jangan lupa untuk mengulang.

Bacaan yang penting layak dikunjungi kembali. Tidak harus membaca seluruh buku dari awal. Cukup buka kembali catatan, tanda-tanda penting, atau bagian yang pernah dianggap sulit. Pengulangan membuat pengetahuan yang semula hanya singgah menjadi lebih kuat dalam ingatan.

Pada akhirnya, ukuran seorang pembaca bukan hanya berapa banyak buku yang telah ia tamatkan atau berapa halaman kitab yang telah ia baca. Yang lebih penting adalah apa yang berubah dalam dirinya setelah membaca.

Apakah ia menjadi lebih tahu? Apakah cara berpikirnya bertambah luas? Apakah ia mampu menjelaskan kembali apa yang dipelajarinya? Dan yang paling penting, apakah pengetahuan itu memberi pengaruh pada sikap dan kehidupannya?

Sebab, buku tidak ditulis hanya untuk memenuhi rak. Kitab tidak dipelajari hanya untuk mengejar khatam. Di balik setiap halaman, ada pengetahuan yang menunggu untuk dipahami.

Maka, tidak perlu terburu-buru menjadi pembaca yang banyak.

Jadilah pembaca yang benar-benar membaca.

Sebab, satu halaman yang dipahami dengan baik bisa jauh lebih berarti daripada seratus halaman yang hanya lewat di depan mata.

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Seimbang Antara Sosial, Spiritual, dan Intelektual

Seimbang Antara Sosial, Spiritual, dan Intelektual

Pentingnya Tafakkur

Pentingnya Tafakkur

Aku Agus, Kamu Kalis

Aku Agus, Kamu Kalis

Soal Cinta, Kita Memang Payah!

Soal Cinta, Kita Memang Payah!

Dari Pareidolia, Saya Belajar

Dari Pareidolia, Saya Belajar

Selamat Ulang Tahun, Baca-Tulis!

Selamat Ulang Tahun, Baca-Tulis!