Setelah mengerti tentang SOP yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru, maka alangkah baiknya jika kita memandang SOP seorang murid kepada gurunya. Emang ada, min? Kalau untuk seorang guru saja ada, pastilah untuk seorang murid lebih dari ada.
Dan sebelum masuk ke dalam pembahasannya, alangkah baiknya kita menyiapkan diri terlebih dahulu karena pembahasan kali ini mungkin ada beberapa dari kalian yang berpikir kritis, hal ini bisa terasa mengganggu. Tapi selalu ingat bahwa ini hanyalah sebagai pengetahuan semata dan alangkah baiknya pengetahuan ini kita praktikkan, baik secara sadar ataupun tidak sadar.
Dalam kegiatan belajar mengajar, yang paling dibutuhkan adalah kondisi kelas yang kondusif. Mengapa demikian? Karena suasana kelas yang kondusif (tidak terlalu gaduh serta tidak terlalu mencekam) dapat membantu para murid dan guru terhindar dari miskomunikasi yang mengakibatkan kesalahpahaman dalam materi.
Akan tetapi kekondusifan kelas tidak hanya menjadi kewajiban para guru, melainkan para murid pun harus mengerti kewajibannya sebagai murid selain belajar sungguh-sungguh. Maka dari itu, seorang murid harus mengerti bagaimana cara menjaga sikap dalam kelas agar suasana tetap nyaman dalam belajar.
1. Bagi para murid, alangkah baiknya memiliki adab kepada para gurunya dengan selalu membersihkan hati dari perilaku su’udzon terhadap guru sendiri.
Kenapa demikian?
Karena dengan hati yang bersih dan lapang, seorang murid akan mudah menerima, menghafal, serta memanfaatkan ilmu yang telah didapatnya. Ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:
فقد صح عن رسول الله ﷺ: أنه قال ألا إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب
Artinya: Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika daging itu baik, seluruh tubuh menjadi baik. Jika daging itu rusak, seluruh tubuh menjadi rusak. Ingatlah, daging itu ialah hati.
Dari sabda Nabi di atas, sepatutnya seorang murid selalu memiliki hati yang bersih kepada gurunya agar dimudahkan dalam menuntut ilmu darinya.
Kemudian masih ada pertanyaan, bagaimana jika seorang guru selalu mengajarkan hal-hal baik akan tetapi ia sendiri tidak melakukannya? Untuk jawabannya memang menyulitkan. Akan tetapi jika kita berpindah kepada perkataan seorang filsuf Yunani Kuno bernama Marcus Aurelius bahwa:
“Kamu memiliki kendali atas pikiranmu—bukan peristiwa di luar dirimu. Sadarilah ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.”
Maka dari sekecil itu, tetaplah pada arah bahwa seorang murid harus selalu memiliki adab kepada gurunya. Karena hanya itu yang bisa kamu lakukan untuk dirimu sendiri dan bukan untuk gurumu atau siapa pun itu.
2. Selalu bersikap rendah hati kepada gurunya, walaupun gurunya lebih muda daripada dirinya sendiri. Seperti yang dikatakan oleh salah satu penyair:
العلم حرب للفتى المتعالي * كالسيل حرب للمكان العالي *
Artinya: “Ilmu itu tidak akan mencapai pemuda yang menyombongkan diri, sebagaimana air bah tidak akan mencapai tempat yang tinggi.”
Dari kutipan syair di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa seorang murid harus selalu menjaga sifat rendah hati kepada gurunya. Dan tak hanya itu saja, tetap menjaga harga diri agar dalam kerendahan hatinya tidak memunculkan sifat rendah diri yang dapat mengganggu kesehatan mental.
Kemudian bagaimana jadinya jika seorang murid memiliki nasab yang lebih baik dari gurunya seperti para Gus dan para cucu Nabi Muhammad SAW? Dalam hal ini, alangkah baiknya selalu mengutamakan sifat rendah hati yang mendalam. Karena sebagus apa pun nasabmu di hadapan gurumu, jika kamu tetap sebagai muridnya maka usahakan selalu menjaga tata krama yang pernah kamu pelajari darinya.
3. Para murid seharusnya yakin kepada keahlian gurunya serta kebersihan dirinya. Seperti yang dikisahkan bahwa pada suatu ketika para ulama Mutaqaddimin selalu bersedekah agar mereka ditutup matanya dari aib para gurunya.
Tak hanya itu saja, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib R.A berkata:
وروينا عن أمير المؤمنين علي بن أبي طالب ﵁ قال من حق المعلم عليك أن تسلم على الناس عامة وتخصه دونهم بتحية وأن تجلس أمامه ولا تشيرن عنده بيدك ولا تغمزن بعينيك
Artinya: “Termasuk kewajibanmu terhadap guru ialah engkau memberi salam kepada orang-orang secara umum dan mengkhususkannya dengan suatu penghormatan. Hendaklah engkau duduk di depannya dan tidak memberi isyarat di dekatnya dengan tanganmu ataupun mengedipkan kedua matamu.”
Dari perkataan Ali bin Abi Thalib di atas, ternyata masih banyak yang harus diperhatikan oleh seorang murid seperti:
• Tidak mengobrol dengan teman sebangku.
• Tidak merasa bosan bersamanya.
Para murid harus meyakini keilmuan yang dimiliki gurunya agar tidak menimbulkan rasa su’udzon. Dan jika ternyata persangkaan kalian salah, maka alangkah baiknya selalu menambah pengetahuan dari bacaan lain ataupun mencari guru lain agar mendapat pemahaman yang lebih luas.
Selain dari penuturan di atas, secara global dapat diambil bahwa seorang murid harus selalu memiliki rasa hormat kepada gurunya agar tidak menimbulkan kemarahan dari gurunya. Dan jika suatu saat kalian telah melakukannya dan kenyataan di lapangan berbeda, maka alangkah baiknya selalu ingat perkataan Marcus Aurelius dalam buku hariannya yang ia beri nama Meditations:
“Kamu memiliki kendali atas pikiranmu—bukan peristiwa di luar dirimu. Sadarilah ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.”
Marcus Aurelius, Meditations
Wallahu ’Alam.