Di tengah gempuran tren digital di kalangan Gen Z saat ini, menjaga gengsi sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi kesehatan mental dan finansial. Banyak dari kita yang salah kaprah dalam memaknai gengsi. Kita lebih sering memujanya sebagai simbol status daripada memahaminya sebagai bentuk integritas diri. Di tengah gempuran standar media massa saat ini, banyak individu terjebak dalam miskonsepsi mengenai gengsi dan menyamakannya dengan validasi digital
Dalam konteks ini, kita cenderung terjebak pada pemikiran bahwa gengsi adalah tentang memiliki barang terbaru atau gaya hidup paling mengesankan di media sosial. Padahal, gengsi yang sehat adalah tentang integritas dan kemandirian. Kesalahan dalam memaknai gengsi hanya akan membawa kita pada kecemasan sosial yang tak berujung, di mana kita sibuk membangun citra, sementara identitas asli perlahan memudar.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada pencarian validasi sosial, tetapi juga mengancam kesehatan mental individu. Gengsi yang tidak terkendali bagaikan racun karena menciptakan ekspektasi yang mustahil dipenuhi secara konsisten. Ketika seseorang lebih memprioritaskan pandangan orang lain daripada kedamaian dirinya, kesehatan mental menjadi taruhannya. Depresi dan kecemasan sering kali bermula dari kondisi ini—saat kita lelah mengejar validasi yang tidak pernah memberikan kepuasan sejati
Tidak sedikit pula masyarakat yang memaksakan gengsi melampaui batas kemampuan ekonominya. Ketika realitas tidak mampu menopang gaya hidup tersebut, individu kerap jatuh dalam keterpurukan mental karena merasa gagal memenuhi standar sosial yang mereka ciptakan sendiri.
Dalam merespons fenomena ini, kita perlu menyadari bahwa akar permasalahannya terletak pada pergeseran nilai harga diri yang kini terlalu bergantung pada validasi publik. Untuk memutus rantai miskonsepsi tersebut, kita perlu mengalihkan fokus dari validasi eksternal menuju penerimaan diri (self-acceptance).
Solusi utamanya bukanlah menghapus rasa gengsi sepenuhnya, melainkan membangun kembali standar harga diri berdasarkan pencapaian nyata dan kejujuran finansial. Di era digital yang penuh tekanan ini, keberanian untuk tampil apa adanya merupakan bentuk kesehatan mental yang tinggi. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam urusan dunia) dan janganlah engkau memandang orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih layak agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)
Dengan menerapkan prinsip ini, kita tidak hanya menyelamatkan diri dari keterpurukan mental, tetapi juga mulai membangun identitas yang lebih autentik dan bermartabat.