Literasi merupakan istilah yang merujuk pada keahlian individual seseorang dalam bidang membaca, menulis, menghitung, berbicara dengan keahlian tertentu. Oleh karena itu dengan seorang yang menggeluti literasi atau menguasainya di pastikan orang tersebut memiliki kualitas pemikiran yang baik.
Tetapi tidak semua orang tertarik dengan literasi, padahal dengan literasi seseorang dapat menciptakan sebuah karya yang dapat membuat dunia ini terpesona dengannya, apalagi kalau karyanya fenomenal dan berkualitas, orang di dunia ini pasti akan mengenalnya lewat karnya bukan dengan medsosnya. Yah, seperti itulah tipsnya bila kita menciptakan sesuatu lewat jalan literasi, jangankankan ketika masih di dunia, ketika diri kita sudah tinggal nama pun, dengan sebuah karya yang terlahir dari literasi di pastikan kita akan dikenang orang.
Di dalam Islam sendiri banyak melahirkan tokoh-tokoh luar biasa dengan karya literasinya, jumlah pun sangat banyak yang salah satunya adalah dari ulama bidang tasawuh yaitu al-Imam al-Ghazali. Beliau di lahirkan di kota Thus, Iran dengan karya fenomenalnya yang berjudul Ihya’ Ulumuddin. Adalagi yang yan tak kalah saing pengarang kitab al-Fiyah Ibnu Malik yaitu Syaikh Muhamamad Jamaludin bin Ahmad bin Malik al Andalusi, merupakan ulama asal Andalusiah sekarang Spanyol.
Di Indonesia sendiri terdapat seorang ulama’ yang menciptakan sebuah karya yang tak kalah pamor dengan ilmuwan yang dikutip di atas tadi. Siapakah beliau, siapa lagi kalau bukan Syaikh Nawawi al Bantani. Dengan karya kitab Safinatus Najah fans fiqih, yang banyak di kaji di Nusantara bahkan dunia, menjadikannya sebagai salah satu ulama menginspirasi. Selain itu, ada juga ulama asal kediri yang mengarang kitab Sirojud Tholibin yang merupakan kitab syarah atau yang mengomentari kitab Ihya’ Ulumuddin, yang di karang oleh Syaikh Ihsan Jampes.
Mereka merupakan ulama yang telah menciptakan suatu karya fenomenal dan tentunya, termasuk tergolong dari pegiat literasi. Hal ini menjadi bukti nyata begitu pentingnya menguasai dunia literasi. Apalagi diri kita yang masih berada fase belajar dan usia muda. Usia muda merupakan masa produktif dalam menciptakan sebuah karya. Maka dari itu, jangan habiskan masa muda kita untuk berleha-leha tanpa adanya karya. Kita di beri kekuatan tubuh untuk bertindak, akal sempurna untuk berfikir.
Bisakah kita memaksimalkan nikmat yang ada, apalagi di usia muda. Seperti diterangkan dalam ceramah KH Reza Ahmad Zahid pada acara Ijazahan Tamatan Formal 2022 “Masa muda adalah masa emas, masa dimana pemuda melahirkan sebuah karya, oleh karena itu manfaatkan masa muda dengan semaksimal mungkin”.
Nah, apalagi kalau kita yang notabenya sebagai santri, harus bisa mencontoh dengan ulama terdahulu yang telah melahirkan sebuah karya. Di samping itu, sebagai santri juga harus bisa menjadi pesaing dengan dunia luar yang notabenya yang non santri, salah satunya dengan paham dengan dunia literasi. Karena dengan literasi bisa menjadi solusi untuk mengarungi dunia dan menghasilkan sebuah karya. Apalagi bila kita menkombinasikan literasi dengan dunia intelektual, yang sangat cocok dengan peradaban saat ini. Di kalangan para santri sendiri, masih minim dengan literasi. Oleh sebab itu mari kita bersama-sama melestarikan literasi di bumi Salafy.
Kita harus menunjukan bahwa santri juga bisa menguasai literasi, jangan sampai harkat martabat kita di kalahkan oleh kalangan non santri. Dan sebenarnya, literasi akan mengangkat derajat kita dan orang tercinta kita.