web analytics

Kejadian Luar Biasa yang Mengiringi Kelahiran Sang Nabi

0 0
Read Time:4 Minute, 55 Second

Islam adalah salah satu keyakinan yang sangat menghargai jasa para pahlawannya. Hal ini terbukti ketika kita mulai memasuki dunia pendidikan, di mana kita sebagai kaum Muslim diajarkan tentang para tokoh bersejarah yang pernah berjasa dalam agama ini. Mulai dari para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan seterusnya. Tak hanya itu, bahkan saat kita belum memasuki dunia persekolahan, kita sudah diajari tentang agama Islam.

Salah satu dari pengajaran tersebut adalah pengetahuan penting tentang siapa tuhan kita, siapa nabi kita, serta rukun iman dan rukun islam. Dalam pembahasan kali ini, kita akan membahas suatu keistimewaan Nabi Muhammad Saw yang telah ada sebelum beliau diangkat menjadi nabi dan rasul.

Nabi Muhammad Saw lahir di Mekah, tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awwal pada tahun Gajah. Bahkan sebelum beliau dilahirkan, ibunya telah merasakan beberapa keajaiban serta keistimewaan yang dibawa oleh beliau. Menurut beberapa riwayat, saat Siti Aminah mengandung Nabi Muhammad, ia tidak merasakan berat dari bayi yang dikandungnya. Bahkan, ia selalu mendapatkan mimpi-mimpi indah setiap kali tidur. Dalam salah satu mimpinya, ia diberitahu bahwa dirinya sedang mengandung seorang anak yang kelak akan menjadi pemimpin umat manusia.

Tak hanya itu, bahkan ketika Nabi Muhammad Saw. masih berada di dalam kandungan Siti Aminah, muncul cahaya yang terpancar dari dalam rahimnya, yang menerangi seluruh penduduk Mekah. Pada saat itu, seluruh alam semesta seolah-olah memberikan tanda kebahagiaan atas akan lahirnya seorang yang sangat mulia di bumi. Menurut riwayat Ibnu Abbas, pada malam kehamilan Rasulullah, semua makhluk berbicara tentang kabar gembira ini, serta para malaikat bersujud memuji kebesaran Allah SWT dan menyampaikan doa untuk keselamatan dunia.

Setelah mengetahui beberapa keistimewaan Rasulullah saat dalam kandungan, mari kita berpindah pada saat Siti Aminah melahirkan Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah dilahirkan, Siti Aminah berada di dalam rumah, sementara kakek Rasulullah sedang bermunajat di Ka’bah. Saat itulah, Siti Aminah merasa gelisah, lalu datanglah empat wanita cantik, anggun, dan dipenuhi cahaya terang. Menurut kitab An-Ni‘matul Kubra karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-Syafi‘i, perempuan pertama dari keempat wanita itu adalah istri Nabi Adam AS, yang juga merupakan ibu dari seluruh umat manusia. Dalam kehadirannya, ia berkata, “Sungguh, berbahagialah engkau, wahai Aminah!” Kedatangan keempat wanita tersebut bukanlah secara kebetulan, melainkan atas kehendak Allah SWT untuk menemani Siti Aminah saat masa persalinan.

Wanita kedua adalah istri Nabi Ibrahim AS, yang datang dengan tujuan serupa. Ia duduk di sebelah kiri Aminah untuk memberikan dukungan spiritual. Wanita ketiga adalah Asiyah binti Muzahim, istri Fir‘aun yang beriman kepada Allah Swt. Ia duduk di sebelah kanan Aminah untuk memberi ketenangan. Wanita terakhir adalah Maryam binti Imran, ibunda Nabi Isa AS. Ia duduk di hadapan Aminah untuk membantu proses persalinan, melengkapi kehadiran empat wanita mulia tersebut.

Keistimewaan ini juga terjadi bersamaan dengan peristiwa besar lainnya, yaitu dilindunginya Ka’bah dari serangan Raja Abrahah yang rakus akan ketenaran. Ia ingin menghancurkan Ka’bah karena merasa keberadaannya merusak eksistensi gereja megah yang dibangunnya di Yaman. Abrahah mengumpulkan pasukan besar yang dilengkapi dengan seekor gajah. Namun, saat memasuki wilayah Jazirah Arab, gajah tersebut mogok berjalan ketika diarahkan ke Ka’bah, tetapi mau bergerak saat diarahkan ke arah lain. Di saat itulah, Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya dengan mengirimkan burung Ababil yang membawa kerikil dari neraka dan menghancurkan pasukan Abrahah secara total.

Bersamaan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW, terjadi pula peristiwa langka lainnya: padamnya api agama Majusi yang telah menyala selama 1.000 tahun. Dalam kepercayaan mereka, api adalah elemen yang memberikan perlindungan dan kesejahteraan. Namun, pada saat kelahiran Rasulullah, api itu padam—menandakan bahwa beliau akan memerangi kebatilan dan menegakkan tauhid. Di waktu yang sama, berhala-berhala di sekitar Ka’bah runtuh sebagai pertanda akan berakhirnya era kemusyrikan dan dimulainya ajaran tauhid.

Setelah mengetahui keistimewaan yang terjadi saat dan sebelum kelahiran beliau, ada pula kisah ketika beliau membutuhkan asuhan dan didikan yang bersih dari pengaruh kaum jahiliah. Dalam masyarakat Arab saat itu, ada tradisi menitipkan anak kepada keluarga di pedesaan agar tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat.

Kisah ini bermula di sebuah kampung bernama Kabilah Sa‘ad bin Bakir yang sedang dilanda paceklik. Salah satu keluarga di sana mengalami kesulitan ekonomi. Para wanita dari desa tersebut pergi ke Mekah untuk menawarkan jasa menyusui (ASI). Karena Nabi Muhammad SAW terlahir yatim, banyak dari mereka ragu untuk mengambilnya, khawatir tidak akan mendapatkan upah. Akhirnya, hanya beliau yang tersisa. Keluarga Halimah As-Sa‘diyah pun mengambil Nabi Muhammad kecil untuk diasuh.

Ketika Nabi Muhammad berada di pangkuan Halimah, ia merasakan ASI-nya penuh dan segera bisa menyusuinya. Secara bersamaan, kantong susu unta tua milik mereka juga terisi penuh. Ini menjadi awal dari berkah yang mereka alami. Dalam perjalanan pulang, unta dan keledai mereka bergerak cepat seolah membawa sesuatu yang istimewa. Sesampainya di kampung, hewan ternak mereka tiba-tiba menjadi gemuk dan mengalirkan susu, sementara ternak milik tetangga tetap kurus.

Ketika Nabi Muhammad SAW tumbuh menjadi anak yang kuat, Halimah melihat dua sosok bercahaya mendatangi beliau dan membelah tubuhnya untuk mensucikan hati dan mengisinya dengan iman dan ketakwaan. Karena khawatir, Halimah segera mengembalikan beliau kepada Siti Aminah. Namun, setelah mendengar keajaiban-keajaiban yang terjadi sejak masa kehamilan, Halimah membujuk Siti Aminah agar Rasulullah tetap diasuh olehnya.

Pada usia 12 tahun, Rasulullah diajak oleh pamannya, Abu Thalib, untuk berdagang ke Negeri Syam. Saat singgah di wilayah Bashra, mereka bertemu dengan seorang pendeta Yahudi bernama Buhaira, yang ahli dalam kitab Injil. Dalam pertemuan itu, Buhaira melihat tanda-tanda kenabian pada diri Rasulullah dan memperingatkan Abu Thalib:

“Engkau benar. Sekarang, segera bawa pulang anak ini ke negerimu dan jagalah ia dari orang-orang Yahudi. Karena, demi Allah, jika mereka melihatnya di sini, pasti mereka akan berbuat jahat kepadanya. Ketahuilah, keponakanmu ini akan memegang urusan yang sangat besar.”

Setelah mendengar penjelasan Buhaira, Abu Thalib segera membawa Rasulullah kembali ke Mekah.

Demikianlah penjelasan mengenai keistimewaan-keistimewaan yang terjadi sebelum, saat, dan sesudah kelahiran Rasulullah SAW. Siti Aminah tidak sendiri dalam proses kelahiran putranya, melainkan dibantu oleh wanita-wanita hebat dari kalangan tokoh tauhid.

Wallahu a‘lam.

 

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Ramadhan & Lebaran Mendunia

Ramadhan & Lebaran Mendunia

NU dan Sejarahnya

NU dan Sejarahnya

Aam al-Huzn: Dari Luka Kehilangan Menuju Cahaya Isra Mi’raj

Aam al-Huzn: Dari Luka Kehilangan Menuju Cahaya Isra Mi’raj

Membaca Ulang Ikrar Pelajar Indonesia dalam Arus Perubahan Zaman

Membaca Ulang Ikrar Pelajar Indonesia dalam Arus Perubahan Zaman

Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Hermeneutika dan Penafsiran Al-Qur’an

Hermeneutika dan Penafsiran Al-Qur’an