web analytics

Al-Fatih: Penakluk Konstantinopel, Pemimpin yang Saleh

0 0
Read Time:1 Minute, 38 Second

Namanya Muhammad II. Namun, dunia lebih mengenalnya dengan satu gelar: Al-Fatih, sang penakluk. Pada usia 21 tahun, pemuda dari Daulah Utsmaniyah itu berhasil menaklukkan Konstantinopel, kota yang selama berabad-abad dikenal sebagai salah satu kota dengan pertahanan paling kuat di dunia.

Konstantinopel bukan kota yang mudah ditundukkan. Tembok Theodosian yang berlapis menjadi pertahanan kokoh yang telah bertahan selama berabad-abad. Di baliknya terdapat parit, tembok luar, dan tembok dalam yang tingginya mencapai belasan meter dengan ketebalan beberapa meter. Banyak pasukan pernah datang, tetapi kota itu tetap berdiri. Sampai akhirnya, datang seorang pemuda yang kelak mengubah sejarahnya.

Pada 1453, Muhammad II mengepung Konstantinopel. Ketika rantai besar menutup jalur masuk menuju Golden Horn, ia menemukan cara lain: kapal-kapalnya ditarik melewati daratan dan diturunkan kembali ke perairan. Setelah pengepungan sekitar 54 hari, pada 29 Mei 1453, Konstantinopel akhirnya jatuh ke tangan Utsmani.

Tetapi, mengenal Al-Fatih hanya sebagai penakluk rasanya belum cukup.

Di balik sosok pemimpin muda yang berani itu, ada seorang Muslim yang sejak kecil ditempa dengan ilmu dan pendidikan agama. Ia belajar kepada para ulama, di antaranya Molla Gürânî dan Hocazâde Muslihuddin. Ia juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap ilmu agama dan pengetahuan.

Sejumlah riwayat menggambarkan Al-Fatih sebagai sosok yang tekun beribadah, dekat dengan Al-Qur’an, rajin berpuasa, memperbanyak salat malam, dan bermunajat kepada Allah. Baginya, keberhasilan tidak semata-mata lahir dari strategi dan kekuatan, tetapi juga dari ikhtiar yang disertai ketundukan kepada Allah.

Perhatiannya terhadap ilmu pun tidak berhenti pada dirinya sendiri. Setelah penaklukan, Al-Fatih membangun masjid dan lembaga pendidikan. Pada 1470, berdirilah Fâtih Külliyesi dengan delapan madrasah Sahn-ı Semân yang menjadi salah satu pusat pendidikan penting pada masa Utsmani.

Maka, ketika nama Al-Fatih disebut, kita tidak hanya sedang memperkenalkan seorang penakluk Konstantinopel. Kita sedang mengenal seorang pemimpin yang sejak muda dipertemukan dengan ilmu, ulama, ibadah, keberanian, dan tanggung jawab kepemimpinan.

Sebab di balik seorang penakluk yang menembus tembok kota, ada seorang Muslim yang terlebih dahulu berusaha menaklukkan dirinya sendiri.

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Mengenal Bulan-Bulan Masehi

Mengenal Bulan-Bulan Masehi

Tsunami Aceh: Pagi yang Menjadi Luka dan Ingatan Bangsa

Tsunami Aceh: Pagi yang Menjadi Luka dan Ingatan Bangsa

Menyelami Misteri Lautan: Dunia Asing yang Ada di Bumi

Menyelami Misteri Lautan: Dunia Asing yang Ada di Bumi

Hidup Damai ala Piagam Madinah

Hidup Damai ala Piagam Madinah

Mengenal Apa Itu FKUB?

Mengenal Apa Itu FKUB?

Ramadhan dan Lebaran yang Mendunia

Ramadhan dan Lebaran yang Mendunia