Akhir-akhir ini rasanya banyak sekali orang tersinggung, mereka yang mudah sekali untuk tersinggung.
Bukan bermaksud untuk mengesampingkan, mengecualikan, dan mengucilkan perasaan, sisi emosional dan unsur afektif, tapi mereka yang tersinggung dan merasa dirugikan dari komedi, kejujuran; komedi yang jujur?
Justru logika saya yang berekasi: nggak habis pikir dengan orang seperti itu!
Kita harus membahasnya.
Berbicara soal humor, komedi, parodi, lelucon, candaan, lawak, dagelan, jenaka, atau apapun istilahnya yang dapat menciptakan ngakak kocak haha, hihi, wkwk, awokawok, xixixi, ang ang ang; satu fakta yang harus kita ketahui bahwa, manusia adalah satu-satunya makhluk tuhan yang bisa bercanda, bisa tertawa.
Ya, hanya manusia.
Hal itu benar.
Meskipun ada istilah “ayam tertawa”, sebenarnya ia tidak tertawa. Hanya saja suaranya ditafsirkan seperti orang tertawa. Itu hanya pembacaan kita. Yang punya sense of laugh hanya manusia. Dalam istilah Yunani, homo sapiens, manusia yang tertawa disebut homo ridens.
Friedrich Nietzsche mengatakan, “You higher men, learn to laugh.”
Wahai kalian orang-orang yang lebih tinggi derajatnya, belajarlah untuk tertawa.
Sebegitunya, untuk hanya tertawa, kita butuh belajar.
Memang, seberapa serius, kaku, dan membosankannya menjadi manusia?
Kita sebagai manusia, tentu adalah makhluk yang lebih tinggi derajatnya dibanding makhluk bumi lainnya; tumbuhan dan hewan. Kita dimuliakan sebab diberikan pikiran dan perasaan, potensi dan ekspresi, juga fasilitas lain untuk keberlangsungan hidup.
رَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ ٧٠
“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al Isra ayat 70)
Kita tentu harus menghadapi hidup ini dengan serius, fokus, sungguh-sungguh, maksimal, kerja keras, semampunya dan sekuat tenaga. Tapi untuk hidup yang tanpa humor, tanpa ada tertawa, tanpa bercanda. Itu akan tidak seru sekali! Tidak manusiawi sekali!
Tertawa adalah bentuk pengungkapan syukur dan pemenuhan pikiran, perasaan, potensi, dan ekspresi kita sebagai manusia, homo ridens, satu-satunya makhluk yang dianugerahi kemampuan tertawa.
Apa kita kira Nabi tidak pernah dan tidak butuh tertawa? Keseharian hidup beliau hanya perihal ibadah dan dakwah yang serius?
Ada cerita menarik:
Suatu hari, Nabi dan Ali sedang duduk bersama makan kacang. Setiap Ali makan kacang, kulitnya diletakkan di depan Nabi. Lalu, dengan nada bercanda, Ali berkata, “Wah, saya tidak mengira ternyata Rasulullah suka makan kacang. Kacang sebanyak itu dimakan sendirian.” Ali berkata begitu karena kulit kacang di depan Nabi banyak sekali—termasuk kulit kacang kirimannya. Rasulullah pun menjawab, “Iya, tapi saya masih mending, kulitnya saya tinggal. Saya lihat di depanmu bersih, kulitnya saja sampai tidak ada. Kamu makan juga, ya?”
Jika sampai pada akhirnya, ada pertanyaan bodoh yang menanggapi: “Sebenarnya, humor itu untuk apa?” “Urgensi apa yang mengharuskan kita untuk bercanda?” “Apa tujuan dan pentingnya tertawa?”
Dr. Fahruddin Faiz menjelaskan dalam bukunya, Menjadi Manusia, Menjadi Hamba, setidaknya humor memiliki 4 fungsi.
Pertama, fungsi primer dan esensinya, untuk bahagia. Tak ada lagi tujuan yang lebih tinggi dan pasti dalam hidup, selain mencapai bahagia. Al Farobi menyebutnya ultimate good dan humor memenuhi kebutuhan bahagia itu.
Kedua, katarsis.
Humor dapat membersihkan segala sifat-sikap buruk, gelap, hitam, kotor, hal-hal terikat dan kesumpekkan, dalam pemurnian jiwa. Itu katarsis. Humor membuat jiwa kita lebih bebas dan ringan, lebih lapang dan luang.
Tapi ingat, dalam Islam, tertawa itu boleh, malah dianjurkan agar hati manusia tidak mati. Hanya saja, mesti hati-hati, sebab overdosis tertawa juga bisa mengeraskan hati.
Ketiga, humor sebagai defence mechanism.
Dalam praktiknya, banyak hal yang tidak bisa, tidak baik, dan tidak tepat untuk hal-hal yang ingin kita sampaikan. Entah perihal objek, suasana, hingga topik pembahasan itu sendiri. Termasuk perihal dalam penyampaian kritik. Untuk meminimalisir atau menghindari ketersinggungan, humor adalah cara yang ampuh untuk menyampaikan pendapat dan kritik. Atau malah bentuk perlawanan?!
Simon Wiesenthal, aktivis Austria, mengatakan, “Humor is the weapon of unarmed people!”
Humor adalah senjata orang-orang yang tidak bersenjata; kita, warga biasa.
Humor adalah salah satu cara untuk melawan dan tetap waras.
Hingga dampaknya, dari pendapat dan kritik yang kita sampaikan secara subjektif dengan defence mechanism humor, menciptakan fungsi humor yang keempat dan terakhir, yaitu sebagai kesadaran diri dan intropeksi.
Sadar itu penting. Sadar itu harus. Kesadaran adalah modal utama seseorang dalam hidup; baik-buruk, benar-salah. Tapi nyatanya, tidak semua orang memahami dan menerapkan itu. Tidak semua orang mendapatkan itu dari dirinya sendiri. Ada kalanya, kesadaran malah didapat dari orang lain. Baik dengan ucapan atau tindakan, nasihat atau kritik.
Dan humor, membuat kesadaran itu menjadi terasa seru.
Jadi nggak perlu baper!
Karena sebagaimana hipotesis Henri Bergson, basis kelucuan manusia adalah akal. Intelektual. Bukan emosi. Kalau pakai emosi, manusia mungkin justru tidak lucu. Ketika kita melihat orang jatuh terpeleset, dan kita tertawa, kita menertawainya karena kita memandangnya dengan akal. Kalau pakai hati, kita malah tidak akan tertawa. Kita justru akan kasihan.
Lah kok bisa, udah dikritik, diingatkan, dibuat sadar, dan menggunakan humor; masih baper?!
Kok nggak terima?!
Kok marah-marah?!
Ah nggak asik ah!
Huh, payah!
Life too short to be serious all the time. So, if you can’t laugh at yourself, call me, i’ll laugh at you.
Hidup terlalu singkat untuk selalu serius. Jadi, jika kamu tidak bisa menertawakan dirimu sendiri, hubungi aku, aku akan menertawakanmu.