Di pesantren, santri belajar bagaimana menundukkan hati di hadapan ilmu. Ia belajar dari keteladanan kiai, dari kesunyian malam, dari aroma kayu di dapur, hingga dari air wudu yang menetes di lantai surau. Doa, tirakat, dan riyadhah-nya memantulkan cahaya pada setiap ilmu sebagai langkah keberhasilan para santri.
Pesantren telah banyak melahirkan generasi bangsa yang unggul secara intelektual dan spiritual. Namun di sisi lain, kita juga harus ingat bahwa pesantren sendiri lahir dari keikhlasan hati para kiai. Salah satu mutiara keteladanan itu adalah KH. Imam Yahya Mahrus (Mbah Imam) — sosok yang menjadi cahaya bagi Pesantren Lirboyo, khususnya di lingkungan Al-Mahrusiyah.
Beliau adalah pendiri PP. HM. Al-Mahrusiyah, yang telah mengorbankan harta bendanya demi pembangunan pondok pesantren. Sebagai pendiri pertama, jejak perjuangannya menjadi bukti keikhlasan dalam mendirikan sarana pendidikan dan pembinaan santri.
Momentum Harlah PP. HM. Al-Mahrusiyah ke-37 mengajak para santri untuk bernostalgia mengenang kesederhanaan sosok Mbah Imam. Seperti diceritakan oleh putra keduanya, KH. Melvien Zainul Asyiqin, beliau pernah menjual satu-satunya mobil yang dimiliki demi membeli sebidang tanah untuk pembangunan pesantren—bahkan tanpa sepengetahuan istrinya, Ny. Hj. Zakiyatul Miskiyah. Dari kisah ini, kita belajar bahwa Mbah Imam bukan sekadar kiai, tetapi juga cermin pahlawan pendidikan dalam kesahajaan.
Ketulusan beliau juga tergambar dalam keseharian mendidik dan membersamai para santri. Dikisahkan oleh KH. Melvien Zainul Asyiqin, Mbah Imam turut langsung dalam proses pembangunan: mengaduk adonan semen, mengangkat ember ke lantai dua, bahkan ikut dalam pengecoran. Itulah bentuk nyata pengabdian yang lahir dari hati yang tulus.
Kesederhanaan inilah yang layak kita teladani, terutama bagi para santri yang menimba ilmu dari Romo KH. Imam Yahya Mahrus. Sebagaimana dawuh KH. Melvien Zainul Asyiqin, ada tiga perkara yang harus selalu diingat oleh para pencari ilmu ketika berada di pesantren atau majelis ilmu:
Sebab, hati akan menjadi lelah dan waktu akan terbuang sia-sia bila niat menuntut ilmu tidak dilandasi keikhlasan.
Nasehat ini bukan hanya untuk para santri di pesantren, tetapi juga untuk siapa pun yang sedang menuntut ilmu di mana pun berada. Nilai etika adalah fondasi moralitas bangsa. Diri kita ibarat gelas kosong—siap menampung ilmu dari para guru. Ilmu adalah cahaya, dan hati yang masih dihiasi kesombongan tak akan mampu menampung cahaya itu.
Kita sering kali lupa dan tak sadar, betapa mudahnya merasa bangga dengan prestasi diri, padahal ilmu Allah jauh lebih luas dari alam semesta. Masih banyak yang belum kita ketahui.
Santri yang unggul bukanlah ia yang merasa lebih suci dari yang lain. Ia tahu bahwa kemuliaan bukan pada status “santri”, melainkan pada kesadaran diri yang menumbuhkan ketulusan untuk berkhidmah kepada bangsa dan agamanya.