web analytics

Peran Pesantren Terhadap Generasi Bangsa

0 0
Read Time:4 Minute, 0 Second

Mendengar kata Pesantren, mungkin sudah tak asing lagi di telinga kita. Ya, Pesantren merupakan lembaga pendidikan berbasis Agama Islam, yang telah berkembang pesat di Indonesia. Dalam metode pembelajaran, pesantren memadukan pembelajaran antara ilmu ke Agamaan dan non ke Agamaan (formal). Selain itu, pesantren juga menekankan pada pendidikan karakter, yang menjadi pondasi kuat dalam mencetak insan yang berakhlaqul Karimah.

Nah, dengan model pembelajaran tersebut bisa di katakan bahwa, pesantren sangat cocok dengan kondisi zaman saat ini, di mana banyak orang khususnya pemuda yang krisis moral dan juga mental.

Apalagi zaman sekarang, di rasa tidak cukup apabila hanya mempelajari ilmu umum (non agama) tanpa mempelajari ilmu agama. Seseorang harus seimbang dalam urusan belajar, yang dalam hal ini adalah memadukan kedua elemen ilmu tadi. Terdapat sebuah ungkapan dari sosok Mujtahid muthlaq yaitu imam As Syafi’i sebagai berikut;

من أراد الدنيا فعليه بالعلم ومن أراد الأخرة فعليه بالعلم ومن أرادهما فعليه بالعلم.

“Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka gapailah dengan ilmu, dan barangsiapa menginginkan akhirat maka gapailah dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka gapai juga dengan ilmu”.

Pesantren sejatinya adalah wadah dan pabrik dalam mencetak generasi muda yang berkualitas, baik dari segi intelektual, spiritual, dan juga emosinal. Walaupun toh pesantren identik dengan kesederhanaan, tetapi dalam urusan belajar pesantren sudah tak perlu di ragukan.

Kalau di lihat kalangan orang awam, seorang yang belajar atau mondok di pesantren mungkin terlihat sangat beda dengan belajar di luar pesantren. Menurut mereka seorang santri terlihat sangat patuh secara berlebihan terhadap para guru atau Masyayikh. Bahkan dari mereka ada yang beranggapan bahwa pesantren lebih mengarah pada konsep feodalisme (jarak berlebih/patuh berlebih) pada gurunya.

Tetapi, semua itu sebenarnya adalah asumsi yang salah kaprah dan perlu di luruskan. Karna Sekali lagi, pesantren tidak hanya sekedar mendidik dari segi pemikiran (intelektual), tetapi juga dari segi spiritual, dan juga emosinal.

Nah, salah satu implementasi dari pendidikan emosional adalah terbentuknya adab atau tatakrama, yang kemudian mengarah pada sikap santri/murid yang menghormati para gurunya. Seperti halnya santri mencium tangan kiai, berjalan menunduk atau merangkak yang merupakan bentuk adab santri kepada sang guru atau kiai. Bahkan seorang santri juga kerap membantu guru atau kiai dalam urusan sehari- hari, yang menjadi simbol penghormatan para santri.

Bahkan, hanya demi menghormati seorang guru, ‘Ali ibn Abi Thâlib Ra, pernah mengatakan dalam bentuk untaian hikmah, sebagaimana dikutip oleh Az-Zarnûjîy dalam kitab Ta’limul Muta’alimnya;

أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِى حَرْفًا وَاحِدًا: إِنْ شَآءَ بَاعَ وَإِنْ شَآءَ أَعْتَقَ وَإِنْ شَآءَ اِسْتَرَقَّ

“Aku adalah budak bagi orang yang telah mengajariku walau satu huruf. Kalau mau, bolehlah ia menjualku,  kalau mau, boleh juga ia memerdekakan aku.  kalau mau, bolehlah ia tetap memperbudakkan aku”.

Perlu di ingat, membentuk adab atau tatakrama yang luhur bukanlah hal mudah, butuh dedikasi yang tinggi dan juga ketulusan hati.

Dalam perihal ilmu, sebenarnya tidak hanya terlekat dalam otak atau tulisan, tetapi juga berada dalam hati. Yang terakhir inilah banyak orang belum bisa melakukannya, yaitu melekatkan ilmu dalam hati.  Karna hal tersebut bukanlah hal yang mudah, Ada sebuah tutur Syai’ir;

العلم في الصدور لا في السطور

“ilmu itu ada dalam dada, bukan di tulisan”

Juga di tambah ungkapan ibn Mas’ud;

ليس العلم بكثرة الرواية إنما العلم نور يقذف في القلب

Artinya: “Ilmu sejati bukanlah dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu sejati adalah cahaya yang terpatri di hati.”

Banyak sekarang orang yang pintar, tetapi moral dan akhlaq nya ambyar, banyak juga sekarang orang yang menyandang gelar, tetapi hidupnya tetap tak tergambar (masih belum jelas arah hidupnya).

Nah mungkin itu semua adalah efek dari ilmu yang tak sampai kehati. Atau mungkin dari segi keberkahan ilmu, itu zonk.

Karna esensi ilmu itu adalah hal mulia, dan bukan hal yang biasa. Maka seseorang dalam mencari ilmu, harus bersih dari hal-hal yang Munkar. Baik dari segi dhohir maupun bathin.

Imam As Syafii juga pernah berkata terkait hal ini;

و أخبرني بأن العلم نور # و نور الله لا يهدي للعاصي

Artinya: “Ia (Syekh Waki’) berkata padaku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.”

Untuk menanamkan ilmu dalam hati, dan menjadikannya sebagai ilmu yang berkah, maka perlu adanya tirakat dan kesinambungan dengan yang memberikan ilmu (guru). Di antaranya adalah dengan menghargai dan juga dengan ridho dari seorang guru.

Seperti ungkapan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki;

ثبات العلم بالمذاكرة وبركته بالخدمة ونفعه برضا الشيخ

“Tetapnya ilmu itu dengan mengulang-ulang, barokahnya ilmu dengan berkhidmah, dan manfaatnya ilmu dengan ridho guru.”

Sekali lagi, pesantren merupakan tempat pendidikan paripurna bagi generasi bangsa. Apa yang di ajarkan di Pesantren tidak lain adalah menjadikan generasi bangsa yang mumpuni baik dari segi intelektual, spiritual, dan emosional. Dan juga perlu di ingat, tak semua instansi pendidikan bisa menerapkannya.

 

About Post Author

Darul Said

Jurnalis Pesantren Berusaha menjadi yang terbaik, di antara yang baik "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
el mahrusy id

Jurnalis Pesantren Berusaha menjadi yang terbaik, di antara yang baik "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Al-Quran, Antara Keindahan dan Keluasannya

Al-Quran, Antara Keindahan dan Keluasannya

Ngaji Salalimul Fudhola: Membedah Sifat Ghoflah di Balik Tradisi Bukber!

Ngaji Salalimul Fudhola: Membedah Sifat Ghoflah di Balik Tradisi Bukber!

9 Wasiat Penghambaan Diri Dalam Kitab Salalimul Fudhola

9 Wasiat Penghambaan Diri Dalam Kitab Salalimul Fudhola

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an