Dalam sejarah kemanusiaan, hanya sedikit nama yang berdiri setegak cahaya seperti Sayyidah Maryam binti Imran. Beliau bukan hanya sosok perempuan mulia yang diabadikan dalam tradisi Islam, Kristen, dan Yahudi. Ia adalah simbol kesucian, kepatuhan, dan keteguhan iman yang melampaui batas zaman. Dalam al-Qur’an, namanya disebutkan sebanyak tiga puluh empat kali lebih banyak dari nama perempuan manapun, dan satu-satunya yang dijadikan nama surah khusus yaitu Surah Maryam, menunjukkan betapa agung kedudukannya dalam perspektif langit dan bumi.
Disisi lain, kemuliaan Maryam bukanlah hadiah instan. Kemuliaan yang dimiliki adalah buah dari kesungguhan, ketaatan, ujian berat, serta proses perjuangan yang tidak terlihat oleh pandangan manusia. Biografinya adalah perjalanan spiritual seorang perempuan yang tidak hanya diuji fisiknya, tetapi juga kejernihan hatinya dan kekuatan imannya dalam memikul amanah Ilahi yang melampaui batas logika dunia.
Sayidah Maryam lahir dari pasangan Imran dan Hannah, keluarga yang dikenal suci dan teguh beribadah. Dalam riwayat, Hannah adalah perempuan salihah yang lama mendambakan keturunan. Ketika doanya dikabulkan, ia pun bernazar bahwa anak yang dikandungnya akan ia serahkan sepenuhnya sebagai pelayan Baitul Maqdis. Ia berharap melahirkan laki-laki, tetapi takdir Allah berkata lain. Anak itu adalah perempuan. Pada masa itu, perempuan tidak biasa didedikasikan untuk pengabdian rumah ibadah. Namun Hannah berserah diri, dan Allah menerima nazarnya. Ia menamakan anak itu Maryam, yang berarti ’perempuan yang selalu beribadah’.
Sejak lahir, Maryam berada dalam perlindungan Allah dan dipelihara oleh Nabi Zakaria. Dari kecil ia menapaki kehidupan yang seluruhnya dipenuhi ibadah, kesunyian, dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Al-Qur’an menggambarkan keajaiban-keajaiban kecil yang menaungi masa kecilnya. Nabi Zakaria sering mendapati makanan surga di mihrabnya, dan Maryam menjawab dengan ketenangan penuh keyakinan:
“itu dari sisi Allah”
(QS. Ali ‘Imran: 37)
Ujian Terbesar Sayidah Maryam adalah ketika mengandung Nabi Isa tanpa seorang Ayah. Bukan karena tanpa ikatan suami istri, tetapi karena kehendak ilahi yang memberikan sirr (rahasia) dibalik peristiwa yang terjadi. Puncak perjuangan Maryam terjadi ketika malaikat Jibril datang menyampaikan kabar yang mengejutkan alam semesta ia akan mengandung seorang anak laki-laki, dan kelak menjadi seorang nabi. Untuk seorang perempuan yang menjaga diri secara luar biasa, kabar ini adalah badai besar. Sayidah Maryam bukan hanya diuji secara fisik, melainkan martabat dan kehormatannya terguncang dihadapan masyarakat. Ia memahami betapa berat konsekuensi sosial dari kehamilan tanpa suami. Namun ia tetap menjawab dengan ketundukan:
“Aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih darimu, jika engkau bertakwa.”
(QS. Maryam: 18)
Maryam kemudian mengasingkan diri ke tempat yang jauh. Dalam kesendirian itu ia menanggung beban yang sangat berat, bukan hanya sakit fisik perempuan yang melahirkan, tetapi juga sakit sosial berupa ketakutan akan fitnah dan cemoohan. Pada saat paling rapuh, ketika ia berkata bahwa lebih baik ia mati daripada menanggung aib yang tidak ia lakukan, Allah menguatkannya. Di tengah kontraksi dan air mata, Allah menumbuhkan pohon kurma dan mengalirkan air sebagai penghibur. Ia pun melahirkan Nabi Isa dengan kekuatan spiritual yang hanya mungkin diberikan kepada seseorang yang benar-benar dicintai oleh Allah.
Setelah melahirkan, ujian Sayidah Maryam belum berakhir. Ia harus kembali ke kaumnya, memikul bayi tanpa ayah dan sosok suami disampingnya. Secara manusiawi, ini adalah kondisi yang paling rentan untuk seorang perempuan. Mungkin bagi generasi saat ini berpotensi terjadinya baby blues yang kerap kali menimpa seorang ibu yang baru melahirkan. Namun Maryam tidak disuruh berdebat. Allah memerintahkannya untuk berpuasa dari kata-kata.
“Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah: Sesungguhnya aku bernazar berpuasa, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang pun hari ini.”
(QS. Maryam: 26)
Sayidah Maryam menghadapi masyarakat yang mencemoohnya dengan diam, sementara bayi kecil itu, Nabi Isa, justru sudah bisa berbicara membela kehormatan Ibunya. Tidak ada sejarah perempuan lain yang dibela langsung oleh bayinya sebagai mukjizat.