web analytics

Semakin Kaya Semakin Jauh dari Tuhan, Kok Bisa?

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">
0 0
Read Time:4 Minute, 9 Second

Secara umum, semua orang ketika ditanya ‘Apakah ingin kaya?’ Tentu jawabanya ‘Iya’. Kaya, memang tidak salah. Justru jika kita kaya, akan semakin mudah dalam memajukan agama. Lalu mengapa semakin jauh dari Tuhan? Kaya yang akan penulis bahas di sini adalah suatu nikmat yang menjerat dan mengakibatkan kita jauh dari Allah SWT. Saat kita merasa hidup baik-baik saja tetapi jauh dari Allah. Tidak pernah sholat, tidak pernah membaca Al-Qur’an, tidak pernah menjalani perintahnya, bisa jadi perasaan baik-baik saja itu adalah istidraj.

Sebelum masuk kepembahasan, mari kita lihat arti istidraj dari segi etimologi (bahasa) dan terminology (istilah). Secara etimologi, kata istidraj berasal dari kata الدرج yang artinya berjalan, درّج yang berarti naik, تدرّج naik, maju, bertambah, استدرج berarti menipu, mendekatkan secara berangsur-angsur.

Secara terminologi, istidraj berarti kenikmatan materi secara lahir semakin ditambah, semantara kenikmatan materi secara batin semakin dikurangi, sementara dia tidak menyadarinya.

Istidraj identik dengan meningkat nikmat setahap demi setahap menuju kehancuran dan kebinasaan. Adanya Istidraj untuk menguji dan menggiring menuju kesesatan, bentuk peringatan dari Allah agar hamba-Nya kembali ke jalan-Nya. Seseorang yang sedang diuji istidraj akan merasa bahwa berbagai kenikmatan yang dimiliki adalah kemuliaan dari Allah.

Dia selalu berbuat maksiat, tetapi diselimuti kemewahan dunia. Allah berikan harta berlimpah padahal dia jarang bersedekah. Allah karunia rezeki, padahal dia jarang sholat, tidak suka nasehat, dan terus berbuat maksiat. Hidupnya dikagumi, dihormati, padahal akhlaknya entah ke mana. Dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 44 Allah mengingatkan:

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ

Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”

Istidraj bisa terjadi kepada siapa saja, baik orang awam maupun ahli ibadah. Ada orang yang takut ketika mendapatkan kenikmatan sementara yang sejatinya adalah murka Allah. Ada juga orang yang tidak beriman merasa bahwa nikmat dan kesenangan itu pantas ia dapatkan.

Bagi siapa saja yang sedang diliputi kenikmatan, merasakan rezeki yang lancar, kenaikan pangkat, dan kesenangan dunia lainnya. Maka orang itu harus menjaga diri dan waspada, karena bisa jadi orang itu sedang dilanda istidraj.

Untuk mengenali istidraj, kita harus mengetahui ciri-cirinya, yaitu: Nikmat dunia yang semakin bertambah namun keimanan yang menurun, mendapat kemudahan hidup meski terus menerus bermaksiat, rezeki selalu bertambah meski terus lalai dalam ibadah, semakin kaya namun semakin kikir, jarang sakit tetapi selalu sombong. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam al-Hikam:

خِفْ مِنْ وُجُوْدِ إِحْسَانِهِ إِلَيْكَ وَدَوَامِ إِسَاءَتِكَ مَعَهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ اسْتِدْرَاجاً سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

“Takutlah pada perlakuan baik Allah kepadamu di tengah durhakamu yang terus-menerus terhadap-Nya. Karena, itu bisa jadi sebuah istidraj, seperti firman-Nya, ‘Kami meng-istidraj-kan mereka dari jalan yang mereka tak ketahui’.”

Adapun salah satu kisah seseorang yang ditimpa istidraj, yaitu Raja Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan. Dia mati dengan keadaan mengenaskan, hingga jasadnya sengaja diawetkan oleh Allah sebagai pembelajaran kepada orang-orang. Allah memberikan nikmat istidraj semasa hidupnya agar semakin lalai dan menjauh dari-Nya. Lalu pada akhirnya, Allah membinasakannya dengan sebuah musibah berupa kematian yang mengenaskan.

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati ketika hidup selalu diberi kemudahan tanpa ada cobaan dan ujian, apalagi jarang beribadah dan bersedekah, tetapi nikmat selalu merekah. Adakalanya kita sedang dilanda istidraj. Begitu bahayanya istidraj, sampai-sampai Umar bin Khattab pernah berdoa,

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu menjadi mustadraj (orang yang ditarik dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan).”

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
100 %

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Menjadi Manusia Juga Merusak Alam

Menjadi Manusia Juga Merusak Alam

Pahlawan di Medan Hawa Nafsu dan Kebodohan

Pahlawan di Medan Hawa Nafsu dan Kebodohan

Relevansi Dakwah Digitalisasi Bagi  Santri

Relevansi Dakwah Digitalisasi Bagi Santri

Sedikit Langkah Kecil Untuk Memulai Perubahan

Sedikit Langkah Kecil Untuk Memulai Perubahan

Pernikahan Bukan Perkara Main-Main!

Pernikahan Bukan Perkara Main-Main!

Dari Papan Tulis ke Layar Cahaya: Santri Menembus Dunia Maya

Dari Papan Tulis ke Layar Cahaya: Santri Menembus Dunia Maya