Bulan Ramadhan adalah syahru ibadah, bulan ibadah. Karena memang, Ramadhan menjadi momentum untuk meningkatkan kadar nilai dan kualitas kita dalam beribadah; waktu, kondisi, suasana, dan ganjaran yang begitu besar Allah berikan pada saat bulan Ramadhan.
Dari berbagai macam ibadah yang bisa dilakukan di bulan Ramadhan—terkhusus ibadah berupa sholat—selain sholat 5 waktu, kita selalu berfokus dan lebih memprioritaskan perhatian kita pada sholat tarawih ataupun sholat qiyamul lail lain seperti tahajud.
Kita menjadikan waktu malam di bulan Ramadhan seolah satu-satunya waktu yang tepat untuk khusyu untuk beribadah. Waktu malam seolah menjadi waktu yang istimewa untuk beribadah. Apalagi dengan dalih mengejar malam lailatul qadar, semua kemampuan dan kapasitas ibadah kita kerahkan di waktu malam.
Padahal tidak seperti itu juga.
Padahal ada suatu waktu yang namanya pagi.
Padahal ada suatu ibadah yang namanya sholat dhuha!
Menurut kitab Fasholatan Komplit, dijelaskan bahwa hukum sholat dhuha adalah sunah muakkadah atau sunah yang sangat dianjurkan. Waktunya sholat dhuha yaitu dimulai dari terbitnya matahari yang sudah agak meninggi (kira-kira jam 7) sampai tergelincirnya matahari. Sholat dhuha dilakukan dengan cara munfarid atau tidak perlu berjama’ah.
Sedikitnya rokaat sholat dhuha yaitu 2 rokaat dan paling banyak yaitu 12 rokaat dengan salam di setiap 2 rokaatnya.
Adapun niat sholat dhuha sebagai berikut:
اُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى
Saya niat sholat sunah dhuha 2 rokaat karena Allah ta’ala.
Perihal pelaksanaan sholat dhuha, terdapat juga rekomendasi surat yang perlu di baca di masing-masing rokaatnya. Masih dalam kita Fasholatan Komplit, hal tersebut turut dijelaskan:
Ketika kita hanya melaksanakan sholat dhuha dengan 2 rokaat, maka rokaat yang pertama berupa surat asy-Syams dan rokaat yang kedua berupa surat ad-Dhuha. Kemudian ketika melaksanakan sholat dhuha lebih dari 2 rokaat, di sebelum 2 rokaat yang terakhir bisa membaca surat al-Kafirun dan al-Ikhlas.
Pada saat selesai melaksanakan sholat dhuha, kemudian bisa membaca do’anya:
اَللَّهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاؤُكَ وَالبَهَاءَ بَهَاؤُكَ وَالجَمَالَ جَمَالُكَ وَالقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اَللَّهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ وَإِنْ كَانَ فِي الأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَيَسِّرْهُ وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِي مَا آتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ اَللَّهُمَّ بِكَ أُصَاوِلُ وَبِكَ أُحَاوِلُ وَبِكَ أُقَاتِلُ ثُمَّ يَقُوْلُ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
Dengan begitu, sholat dhuha memang sangat amat dianjurkan untuk dilaksanakan. Sholat dhuha adalah wasilah yang baik dalam pembuka pintu rezeki di pagi hari, terlebih jika turut membaca surat al-Waqi’ah di setelahnya.
Berikut adalah keterangan-keterangan perihal faidah dan hikmah sholat dhuha:
ويسن الضحى لقوله تعالى “يسبحن بالعشي والإشراق قال ابن عباس صلاة الإشراق صلاة الضحى. روي الشيخان عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : أوصاني خليلي بثلاث: صيام ثلاثة أيام من كل شهر، وركعتي الضحى، وأن أوتر قبل أن أنام,
“Shalat dhuha disunahkan berdasarkan firman Allah SWT, ‘Bertasbih bersama dia di waktu petang dan pagi.’ Ibnu Abbas menafsirkan shalat isyraq adalah shalat dhuha. Bukhari-Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa ‘Rasulullah pernah berwasiat tiga hal kepadaku: puasa tiga hari dalam setiap bulan, shalat dhuha dua raka’at, dan witir sebelum tidur.’” (Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in)
من حافظ على شفعة الضحى غفرت له ذنوبه وإن كانت مثل زبد البحر
“Siapa yang membiasakan (menjaga) shalat dhuha, dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
من صلى الضحى ركعتين لم يكتب من الغافلين
“Orang yang mengerjakan shalat dhuha tidak termasuk orang lalai,” (HR Al-Baihaqi dan An-Nasa’i).
يصبح على كل سلامي من أحدكم صدقة، وأمر بالمعروف صدقة، ونهي عن المنكر صدقة، ويجزئ عن ذلك ركعتان يركعهما من الضحي
“Setiap pagi, ruas anggota tubuh kalian harus dikeluarkan sedekahnya. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar adalah sedekah, dan semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua raka’at,” (HR Muslim).
Bahkan hal ini pun turut tercantum dalam kitab Washiyatul Musthofa:
ياعلي عليك بصلاة الضحى في السفر والحضر فإنه إذا كان يوم القيامة ينادي مناد من فوق شرف الجنة أين الذين كانوا يصلون الضحى؟ أدخلوا من باب الضحى بسلام أمنين وما بعث الله من نبي إلا وأمره بصلاة الضحى
“Wahai Ali, tetaplah kamu untuk selalu melaksanakan sholat dhuha baik dalam keadaan sedang berpergian atau sedang berada di rumah. Sesungguhnya di hari qiyamat ada seorang penyeru yang mengumumkan dari atas puncak (kubah) surga, ia mengumumkan: ’Di mana orang-orang yang selalu melaksanakan sholat dhuha? Masuklah ke surga melalui pintu dhuha dengan aman selamat sentosa, dan Allah tidak mengutus seorang nabi punk ecuali ia diperintahkan untuk sholat dhuha.”