Begitu saya masuk mobil, saya kaget dengan sopir taksi onlinenya, wajahnya nampak muda, 28 tahunan, “njenengan Usiannya berapa pak?” tannyaku untuk mengakhiri penasaran, “Saya sudah kepala tiga lebih mas, anak saya sudah dua, istri ada dirumah, nampak masih muda ya mas?”.
“Loh, masak pak”
“ya memang mas, awet enom kulo meskipun umure tuwo, kuncine ki ora usah mikir jeru-jeru mas, wong kabeh ki wes ditentokne, kabeh ki yo mong titipane pengeran, nyapo dipikir mumet, nko nek teko ngomah bojone nyengeni yawes dirungokne”. Jelasnya,
Nampak komunikatif si bapak ini, tahu kalau saya santri, ia melanjutkan tipsnya menghindari over thinking, “Urip iki mas pokoknya ikhtiar, do’a, terus sabar, jangan kebalik. Ikhtiar disek seng maksimal, trus doa bar kui tinggal sabar nerima ing pandome pengeran, sesimpel iku urip iki mas”. Jelasnya dengan yakin, saya tambah penasaran dengan bapak ini, kok sebegitu dalam dan sesederhana itu memahami hidup.
Kemudian, sambil merayapi padatnya jalanan Kota Kediri, ia lanjut menerangkan, kira-kira begini, “kenapa kok kita mengawali dengan ikhtiar? ya jelas mas, di do’a-do’a itu yang disebut robabana atina fiddunya hasanah dulu baru kemudian akhirot. kamudian di hadits pun juga berbunyi, ‘Man aroda dunya faalaihi bil ilmih waman aroda alakhiroh faalaihi bililmih waman arodahuma faalaihi bil ilmih’ lagi-lagi dunia dulu yang disebutkan mas, artinya meskipun tujuan kita akhirot, Bagaimanapun kita tidak boleh mengabaikan dunia”. Jelas bapak itu,
Saya semakin bertanya-tanya bapak ini kayak tidak orang biasa, melihat mobilnya pun juga sudah di modifikasi. Kemudian saya mencerna kata-katanya, ada benarnya juga. Dunia, seperti dihadits juga disebut adunya mazruatul akhirot. dunia sebagai ladang untuk bekal di Akhirot.
Mengenai ikhtiar dulu yang didahulukan, saya teringat potongan surat alfatihah, ‘iyyaka na’bud wa iyyaka nasta’in’, menyembah kepadaNya dulu baru minta pertolonganNya. Tentu menyembah perlu usaha dibanding meminta tolong yang tinggal menengadah tanpa susah.
Kemudian mengenai do’a setelah ikhtiar itu juga telah disebutkan di potongan surat alfatihah diatas, dalam tafsirnya, Syek Ashowi juga mengatakan,
وقدم العبادة على الأستعانة، لأنها وصلة لطلب الحاجة
“dan didahulukan ibadah terhadap minta pertolongan, karena pertolongan adalah wasilah untuk mencapai hajat”
kita tahu bekerja, mencari rizki halal, menafkahi keluarga adalah bagian dari ibadah dan do’a adalah minta pertolongan kepada Allah. Maka dalam hal ini, berdoa berada di nomor dua. “Jangan dibalik mas, kalau kita sabar dulu, berdoa, lalu ikhtiarnya diakhirkan nanti malah tidak kerja-kerja, tiduran terus, malah pasrah mulu dan cenderung mengeluh, maka yang pas itu bekerja dulu, ikhtiar dulu”. Tegas sibapak, kami pun hampir sampai Pondok.
Dalam hal doapun Allah Swt. berfirman, ادعونى استجب لكم
“Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku kabulkan”
Nah untuk sabar terletak diakhir sangatlah wajar. Sabar menjadi alarm bagi kita bahwa manusia hanyalah pemeran yang endingnya nurut sama Dalang. Manusia tidak memiliki kehendak mutlak sama sekali, semua usaha kita absolut pada kehendakNya.
Disini, misal hasil ikhtiar tadi tidak sesuai ekpektasi, maka perlu dievaluasi, jangan sampai mengeluh apalagi menyerah, toh mengeluh, menggerutu, menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, marah-marah apalagi sampai over thinking itu semua tidak akan merubah hasil.
Kita perlu sabar dan rela, dengan itu pikiran bisa jernih dan positif sehingga bisa mengevaluasi secara akurat dan beraksi secara maksimal. Teringat sebuah hadits Qudsi,
أنَا اللهُ لآ إِلهَ إِلاَّ أَنَا مَنْ لَمْ يَشْكُرْ عَلَى نَعْمَآئِي وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلآئِي وَلَمْ يَرْضَ بِقَضَآئِي فَلْيَتَّحِذْ رَبًّا سِوَآئِي
Artinya: “Aku Allah, tiada Tuhan melainkan Aku; siapa tidak bersyukur atas nikmat-nikmat pemberian-Ku, tidak bersabar atas ujian-Ku dan ridla terhadap kepastian qadla-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.” Begitu kerasnya Allah memperingatkan hambanya yang tidak bersabar.
Lalu ketika hasil sesuai yang kita inginkan maka jangan lupa untuk bersyukur jangan sampai abai dan lalai terhadap nikmat yang didapat,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya,
“Dan (ingatlah) tatkala Pemelihara kalian mengumumkan bahwasanya jika kalian bersyukur, maka sungguh Aku akan tambah untuk kalian (akan nikmat). Dan jika kalian kufur, sesungguhnya siksa-Ku sangatlah pedih.”
Nah, tawaran hidup enjoy dan anti over thinking yang ditawarkan bapak driver ini akankah kita tertarik menjalankannya? ‘terlihat’ mudah bukan, penting kita jangan protes dengan proses. Karena yang lancar belum tentu kelar, yang lambat pun belum tentu tersendat.
Akhirnya kami sampai ditujuan, sebelum turun bapak itu bilang, kalau dia mengurus Yayasan yang menampung anak punk, ia juga mengaku kalau kenal dan sering cangkruk’an dengan Gus Reza. Bahkan kenal dekat dengan beberapa tokoh penting Pondok Lirboyo. Sebenernya siapa sih bapak ini, mana sudah pamitan lagi? hemmm. Setidaknya saya ucapkan Terimakasih atas Ilmunya.
Dari Pak Driver ini saya juga ingat adagium arab, ‘Huddil hikmah min Ai syai’in’ Ambillah pelajaran darimanapun asalnya.