web analytics

Surga Berada di Telapak Kaki Ibu

Ning Hj. Niswatul Arifah beserta segenap Pemenang Kegiatan MATSABA 2025
ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">
0 0
Read Time:4 Minute, 15 Second

Ungkapan di atas tentunya sudah masyhur di telinga kita. Bukan hanya sekedar metafora semata tetapi mengungkapkan tentang betapa tingginya kedudukan seorang Ibu. Kalimat ini bukan hanya simbol penghormatan, melainkan juga mencerminkan bahwa hidup seorang anak, baik di dunia maupun akhiratnya itu bergantung bagaimana ia berakhlak terhadap ibunya. Bahkan Rasulullah , ketika ada sahabat Jahimah meminta pendapat Rasulullah atas niatnya untuk ikut berjihad, Rasulullah lebih menganjurkan sahabat Jahimah untuk tinggal saja di rumah bersama ibunya. Sebagaimana Hadist dari riwayat An- Nasai’i dalam kitab Mu’jam Al- Kabir

أن جاهمة جاء إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال : يا رسول الله ، أردت أن أغزو و قد جئت أستشيرك . فقال : هل لك من أم ؟ قال : نعم . قال : فالزمها ، فإن الجنة تحت رجليها

“ Sungguh Jahimah datang kepada Nabi SAW. lalu ia berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin berperang, dan aku datang untuk meminta petunjukmu. Nasi SAW. bersabda: Apakah engkau memiliki Ibu ? Jahimah menjawab: Ya. Nabi SAW. bersabda: Tinggallah bersamanya, karena sungguh surga di bawah kedua kakinya. “

Peran seorang Ibu merupakan cerminan kasih sayang Ilahi yang bersifat Ar- Rahman. Dari mulai bagaimana seorang Ibu mencintai anaknya tanpa memandang apapun. Ia rela mengorbankan apapun untuk anaknya, rela menganggung rasa sakit, kesulitan dan kelelahan untuk anaknya. Dari mulai harus mengandung selama 9 bulan, melahirkan, menyusui, sampai merawatnya. Ibu adalah pelabuhan pertama dan terakhir bagi anaknya. Dalam kesedihan sang anak, pelukan dan nasihat seorang ibu selalu manawarkan ketenangan, menjadikannya ‘Surga’ yang menentramkan di tengah badai dunia.

Selain menjadi sumber kasih sayang seorang anak, Ibu juga menjadi Madrosatul Ula bagi anaknya. Ia adalah pendidik pertama dan utama yang akan membentuk karakter anaknya. Bagaimana seorang Ibu menanamkan ajaran agama, etika, dan adab sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan. Karena ia adalah sosok guru pertama yang akan mengajarkan banyak hal kebaikan sebelum seorang anak belajar di luar rumah.

Ibu juga adalah surga ketika ia mendo’akan anaknya dalam kesunyian. Ia memohonkan keselamatan, perlindungan, dan kesuksesan untuk anaknya, bahkan ketika anak itu tidak pernah tahu bahwa ia dicintai sedalam itu.

Agar seorang anak bisa mendapatkan ‘Surga’ itu, maka ia harus menempatkan ibunya pada posisi yang mulia dalam hidupnya sebagaimana hadits Rasulullah tadi. Sudah seharusnya seorang anak untuk selalu berbakti terhadap ibunya, bukan hanya sekadar membantu, tetapi memuliakan ibunya dengan akhlak yang baik. Senantiasa mentaati perintahnya juga menjadi sebab seseorang dekat untuk memasuki surga. Sebagaimana penjelasan Imam Al- Munawi dalam kitab At- Taisir bi Syarhil Jami’ Ash- Shagir:

يعني لزوم طاعتهن سبب قريب لدخول الجنة

“ Bahwasannya selalu menaati para ibu adalah menjadi sebab dekatnya seseorang untuk memasuki surga “

Seorang anak juga dianjurkan untuk mendahulukan ibunya sebelum orang lain. Sebagaimana Hadits riwayat Abi Hurairah R.A. dalam kitab At- Tahliyah

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال: يا رسول الله ، من أحق بحسن صحابتي؟ قال: أمك قال: ثم من ؟ قال: أمك قال: ثم من؟ قال: أمك قال: ثم من؟ قال: أبوك

Ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi SAW. lalu berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak aku perlakukan dengan sebaik- baiknya ?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi: “Kemudian siapa ?” Beliau menjawab: “ Ibumu.” Ia bertanya lagi: “Kemudian siapa ? “ Beliau menjawab: “ Ibumu.” Ia bertanya lagi: “Kemudian siapa ? “ Beliau menjawab: “ Ayahmu.”

Dari hadits di atas dapat kita lihat, bahwa pengulangan kata ibu dalam sabdanya Nabi menunjukkan peran seorang ibu yang sangat krusial dalam Islam. Bahkan hak birrul walidain terhadap ibu tiga kali lipat lebih besar dibanding hak birrul walidain terhadap seorang Ayah.

Sebagaimana Allah juga menjelaskan dalam firmannya tentang larangan untuk menyakiti hati orang tua dengan berkata kasar terhadapnya :

و قضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه و بالوالدين إحسانا إما يبلغن عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لهما أف و لا تنهر هما و قل لهما قولا كريما

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak, jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. (QS Al-Isra: 23)

Sebagai salah satu bentuk bakti kita. Seorang anak juga tentunya harus selalu senantiasa mendo’akan kedua orang tuanya terutama seorang ibu. Karena kualitas hidup seorang anak itu sangat ditentukan oleh ridhonya.

Seperti salah satu cerita seorang Tabi’in. Namanya Uwais al-Qarni, ia adalah sosok zuhud dari Yaman yang namanya harum di langit meski tidak dikenal di bumi. Ia hidup sederhana, jauh dari hingar- bingar kota, namun memiliki hati yang terikat kuat terhadap baktinya  kepada sang Ibu yang renta dan sakit- sakitan. Setiap helaan napasnya seolah dituntun oleh satu tekad: bahwa ridha Allah terletak pada ridha seorang ibu. Dalam banyak riwayat diceritakan, bahwa Uwais menggendong ibunya dalam perjalanan menuju Baitullahberjalan menembus gurun pasir yang gersang. Hingga Rasulullah SAW. menyebut namanya di hadapan para sahabat, bahwa ada seorang pemuda dari Yaman yang do’anya mustajab, yang kemuliaannya bukan karena pangkatnya, melainkan karena baktinya yang sempurna kepada Ibunya.

Dari kisah singkat ini, menunjukkan bahwa Allah mengangkat derajat seseorang karena baktinya terhadap seorang Ibu. Bahkan Uwais menjadi seseorang yang do’anya mustajab. Lalu sudahkah kita membalas satu saja dari ribuan pengorbanan seorang Ibu ?

Selamat Hari Ibu !

Wallohu A’lam

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
hari ibuopini
ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Isra’ Mi’raj VS Astronaut

Isra’ Mi’raj VS Astronaut

Gengsi: Penjara Tak Kasat Mata yang Merusak Diri

Gengsi: Penjara Tak Kasat Mata yang Merusak Diri

Kenapa Harus Pesantren?

Kenapa Harus Pesantren?

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam

Antara Tahun Baru Hijriyah dan Masehi

Antara Tahun Baru Hijriyah dan Masehi

Keutamaan Bulan Rojab dan Amalan yang Mustajab

Keutamaan Bulan Rojab dan Amalan yang Mustajab