Ibnu Taimiyah. Nama lengkapnya ialah Abul Abbas Taqiyuddin. Ia lahir di Haram, Damaskus, tahun 1236 M dan wafat 1328 M. Nama ini begitu populer di dunia muslim sampai hari ini. Para pengagumnya menyebutnya syekh al-Islam (guru besar Islam), al-imam (sang pemimpin), mujaddid (pembaru), muhaddits (ahli hadits), dan “jenderal”. Untuk predikat terakhir ini, ia pernah memimpin sebuah pasukan untuk melawan pasukan Mongol di Syakhab, dekat Kota Damaskus, Suriah, tahun 1299 Masehi, dan mendapat kemenangan yang gemilang. Pada Februari 1313, ia juga bertempur di Kota Jerusalem.
Di dunia muslim, ia dikenal sebagai pemimpin dan pendiri aliran Islam “Salafi”. Pendapat-pendapatnya kontroversial. Umumnya, orang mencapnya sebagai pemimpin kaum radikal atau fundamentalis. Pandangan-pandangannya memengaruhi Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri aliran yang dikenal dengan namanya “Wahabi”.
Tulisan ini tidak membicarakan pikiran-pikirannya yang kontroversial dan radikal itu. Namun, saya ingin menceritakan hal-hal yang menarik dan penting darinya yang mungkin bisa dijadikan teladan.
Membaca di Toilet
Ada hal yang menarik dari tokoh ini. Ia adalah salah seorang kutu buku. Sejak kecil, ia sangat hobi membaca. Di mana saja, kapan saja, dan dalam kondisi apa saja, ia gunakan waktunya untuk membaca lalu menulis.
Jika suatu saat sedang asyik membaca, lalu terpaksa harus pergi untuk mandi atau buang air, ia tetap membaca dengan caranya sendiri. Bila ia sudah masuk toilet, ia akan memanggil cucunya untuk menemaninya di luar kamar. Sambil melakukan keperluannya di dalam kamar mandi itu, ia meminta si cucu membacakan kitab dan ia mendengarkannya. Ia mengatakan:
إِقْرَأْ وَرْفَعْ صَوْتَكَ حَتَّى أَسْمَعْ.
“Cucuku, bacakan kitab ini dengan suara keras, ya, agar kakek bisa mendengarnya.” (Qimah al-Zaman).
Menulis di Penjara
Di samping seorang kutu buku, Ibnu Taimiyah juga penulis yang sangat produktif. Karya-karyanya mencapai lebih dari tiga ratus buku yang meliputi berbagai disiplin ilmu: tafsir, hadits, teologi, mantik, ushul fiqh, fiqh, dan lain-lain. Ibnu Taimiyah sering berlawanan pendapat dengan penguasa. Beberapa kali ia dipenjara, bahkan ia juga mati di penjara. Penulis biografi Ibnu Taimiyah mengatakan:
“Manakala Ibnu Taimiyah berada di penjara, ia gunakan seluruh waktunya untuk membaca dan menulis, di samping, tentu saja, ibadah. Penjara bukanlah halangan baginya untuk menulis buku, makalah, atau surat-surat. Tulisan-tulisan itu lalu dikirimkan kepada sahabat-sahabatnya, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Suatu saat, sipir penjara merampas surat-surat dan tulisan-tulisannya yang mengkritisi dan menentang kebijakan penguasa. Pena, kertas, dan tintanya dirampas.
Meski begitu, ia tidak pernah patah arang. Ia terus menulis dengan arang. Ia banyak berdakwah dengan menulis surat kepada kawan-kawannya, dan teman-temannya memakai arang.
Jika tak ada lagi pena, tinta, dan kertas, ia gunakan waktu-nya untuk membaca al-Qur’an, shalat, dzikir, dan munajat.”
Ketika Ibnu Taimiyah ditanya perihal siapakah orang yang dipenjara dan ditawan, ia menjawab:
المَحْبُوسُ : مَنْ حُبِسَ قَلْبُهُ عَنْ رَبِّهِ تَعَالَى ، وَالْمَأْسُوْرُ مَن أَسَرَه هَوَاهُ.
“Orang yang dipenjara adalah ia yang hatinya terhalang dari mengingat Tuhan. Orang yang ditawan adalah ia yang hatinya tertawan oleh hawa nafsunya.”