web analytics

Membango: Menguak Misteri “Kenapa Santri Sering Melongo?”

Ilustrasi Amarah
0 0
Read Time:1 Minute, 36 Second

Tulisan ini tidak membahas merek kecap yang satu sachetnya lebih mahal dari kecap lainnya. Bukan juga membahas klub bola berjargon “You’ll Never Walk Alone” yang pincang tertatih setelah ditinggal sang pelatih.

Dan untuk melongo, bagi yang belum paham, itu senada dengan melamun, termenung, tercenung, mengap, termangu, bengong, bingung, galau, risau, kacau, pakau, dan au-au lainnya.

Sebagai konsistensi penulis dan hormat pada literasi, diksi melongo kita tetapkan dengan melamun. Oke? Oke!

Pernakah kalian menemukan dan memperhatikan santri yang sering melamun di teras asrama? Perihal apakah gerangan?

Tidak menutup kemungkinan, acap kali atau bahkan seringnya kita menemukan santri yang melamun di teras asrama: duduk, sendiri, tatapan kosong, bersandar kepala, seraya sebal-sebul asap rokok mengangkasa menembus cakrawala!

Perihal ini, hanya ada 2 kemungkinan:

Pertama, meratapi nasib.

Also Read: Buku Itu Kita

Setiap orang tentu punya ngeluhnya masing-masing. Beban tugas dan kemampuan, kadang tidak berjalan sinkron. Begitu pun santri, nasib datang kadang memang untuk diratapi. Entah perihal hafalan dan hukuman, uang menipis di akhir bulan, hingga percintaan yang tidak sejalan. Wah, kasihan… kasihan…

Di sisi lain, saat benar-benar tidak kuat, ia bermaksud mencari solusi: konsul pada teman seperjuangan.

Tapi, apa tanggapannya?

“Kamu mah masih mending! Aku malah… Bla… Bla…”

Yah, awalnya meratapi nasib, malah jadi adu nasib!

Kedua, karena kenyang.

Lah, apa hubungannya kenyang dengan melamun alias melongo?

Imam al-Ghazali memberikan keterangan dalam kitab Bidayatul Bidayah:

أما البطن فحفظه من تناول الحرام والشبهة وحرص على طلب الحلال فاءذا وجدته فحرصه على أن تقتصر منه على ما دون الشبع فاءن الشبع يقسي القاثب ويفسد الذهن ويبطل الحفظ ويثقل الأعضاء عن العبادة والعلم ويقوي الشهوات وينصر جنود الشيطان

“Adapun perut, maka jangan kau isi ia dengan barang haram atau syubhat. Berusahalah untuk mencari yang halal. Jika engkau telah mendapatkan yang halal, berusahalah mengkonsumsinya tidak sampai kenyang. Sebab, perut yang kenyang bisa membekukan hati, merusak akal, menghilangkan hafalan, memberatkan anggota badan untuk beribadah dan menuntut ilmu, memperkuat syahwat, serta membantu tentara setan.”

Paham?

Wallahu a’lam.

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Hari-Hari Bersama Buku

Hari-Hari Bersama Buku

Buku Itu Kita

Buku Itu Kita

Nasib Pendidikan, Buruh, dan Santri Sepuh

Nasib Pendidikan, Buruh, dan Santri Sepuh

Pendidikan untuk Kaum Buruh: Antara Janji Emansipasi dan Kenyataan Eksploitasi

Pendidikan untuk Kaum Buruh: Antara Janji Emansipasi dan Kenyataan Eksploitasi

Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah Arti Sebuah Nama