Di tengah zaman yang penuh akan pemikiran, perilaku, asumsi, opini, adat, budaya, dan segala hal yang pastinya tiap orang berbeda-beda, karakter tawassuth menjadi suatu yang penting bagi generasi bangsa bahkan bagi semua orang. Karena ber-tawassuth memiliki beberapa manfaat, di antaranya:
Menciptakan masyarakat yang harmonis, stabil, dan toleran dengan menghindari ekstremisme, menumbuhkan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan, serta mendorong keadilan dan saling menghargai perbedaan, terutama dalam konteks keberagaman di Indonesia, sejalan dengan nilai moderasi beragama.
Tawassuth adalah sikap moderat atau netral dalam beragama dan kehidupan, tidak terlalu keras dan tidak terlalu bebas, serta berimbang antara akal dan wahyu. Sikap ini merupakan salah satu karakter utama dalam ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) untuk mencapai keadilan dan keseimbangan.
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً
Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143)
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sikap tawassuth tercermin dalam Pancasila. Negara yang dihiasi dengan berbagai suku, kepercayaan, adat, budaya, dan bahasa kurang lengkap apabila tidak dibubuhi sikap tawassuth dalam masing-masing warga negaranya. Apabila tidak memiliki sikap tawassuth, bangsa yang kaya juga beragam akan macam-macam seperti Indonesia bisa dan mungkin terjadi permusuhan, perpecahan, hingga pemberontakan.
Walisongo yang berhasil menerjemahkan sikap tawassuth merupakan salah satu faktor keberhasilan dakwah Islam di Nusantara. Walisongo yang memanfaatkan berbagai aspek kehidupan masyarakat untuk jalan dakwah, baik melalui kehidupan sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, hingga politik mampu membuat warga berbondong-bondong memeluk Islam tanpa dipaksa.
Sikap tawassuth juga menjadi salah satu prinsip utama tasawuf karena merupakan fondasi penting dalam mencampai kesempurnaan akhlak dan keseimbangan hidup. Dengan ber-tawassuth kita dapat menghindari sikap berlebihan dalam ibadah (seperti, mengasingkan diri sepenuhnya dari kehidupan sosial) dan sikap meremehkan urusan agama.
Keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah (hablun min an-nas) dan hubungan manusia dengan sesama manusia serta alam (hablun min an-nas) pun dituntun dalam ajaran tasawuf. Terlebih fondasi akhlak mulia atau penyucian jiwa merupakan tujuan akhir dari tasawuf. Sikap tawassuth adalah bagian dari akhlak mulia yang diajarkan dalam tasawuf.
اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰى اَلَّا تَعْدِلُوْااِعْدِلُوْا هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Maidah: 8)
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terlepas dengan kegiatan sosial dalam masyarakat (tentu beragam ras, suku, juga agama). Dengan menerapkan sikap tawassuth kita dapat menjaga keseimbangan dan perdamaian. Hal itu membuat sikap ini bisa diterima disegala lapisan masyarakat.
Sikap ini pun baik dalam menghadapi persoalan yang terjadi. Sikap tawassuth yang melekat pada diri seseorang akan menjadikannya bijaksana karena mampu membantu kita dalam mengambil keputusan dengan baik dan benar. Lingkungan pun mudah menerima sikap ini, sehingga memudahkan kita dalam mengajak ke jalan kebaikan.