Abdul Wahab Asy-Sya’rani adalah seorang ulama besar dalam tradisi tasawuf Islam yang hidup pada abad ke-16 Masehi. Beliau dikenal sebagai ahli fikih, sufi, penulis produktif, serta seorang pendidik yang memiliki pengaruh luas di dunia Islam, khususnya di Mesir. Namanya sering dikaitkan dengan berbagai karya tasawuf dan nasihat spiritual, termasuk kitab Washiyatul Musthofa, yang berisi nasihat-nasihat Nabi Muhammad kepada sahabatnya. Melalui karya-karyanya, Asy-Sya’rani berusaha menyatukan ajaran syariat dengan praktik tasawuf yang mendalam.
Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga
Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’rani lahir pada tahun 898 H / 1492 M di desa Qalqasyandah, wilayah Mesir. Beliau berasal dari keluarga yang dikenal memiliki latar belakang keilmuan dan spiritualitas yang kuat. Ayahnya adalah seorang ulama yang saleh dan memiliki perhatian besar terhadap pendidikan agama. Lingkungan keluarga yang religius ini sangat memengaruhi perkembangan spiritual dan intelektual Asy-Sya’rani sejak usia dini.
Sejak kecil, beliau sudah menunjukkan kecerdasan yang menonjol. Ketika masih sangat muda, ia telah mempelajari berbagai ilmu dasar agama seperti membaca Al-Qur’an, ilmu tajwid, dan dasar-dasar fikih. Setelah ayahnya wafat, Asy-Sya’rani kemudian diasuh oleh kakaknya yang juga seorang ulama. Dari sinilah perjalanan intelektualnya semakin berkembang.
Pendidikan dan Perjalanan Menuntut Ilmu
Untuk memperdalam ilmu agama, Asy-Sya’rani kemudian pergi ke Kairo, pusat keilmuan Islam di Mesir. Di sana ia belajar kepada banyak ulama besar pada masanya. Salah satu tempat yang menjadi pusat studinya adalah Al-Azhar University, yang sejak lama dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia.
Di Kairo, beliau mempelajari berbagai disiplin ilmu Islam, antara lain:
Selain belajar ilmu syariat, Asy-Sya’rani juga tertarik mendalami tasawuf. Ia kemudian berguru kepada banyak guru spiritual. Salah satu guru yang paling berpengaruh dalam kehidupan rohaninya adalah Ali al-Khawwas. Dari gurunya inilah ia memperoleh banyak pelajaran tentang kehidupan zuhud, kesederhanaan, dan kedekatan kepada Allah.
Perjalanan Spiritual dan Kehidupan Tasawuf
Setelah menyelesaikan pendidikan formalnya, Asy-Sya’rani mulai menjalani kehidupan sebagai seorang sufi. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana, bahkan sering hidup dalam kondisi yang serba terbatas. Namun justru dari kesederhanaan inilah lahir kedalaman spiritual yang luar biasa.
Dalam ajaran tasawufnya, ia menekankan bahwa jalan menuju Allah tidak boleh meninggalkan syariat. Menurutnya, tasawuf sejati harus selalu sejalan dengan hukum Islam. Ia sering mengkritik sebagian kelompok sufi yang dianggap menyimpang dari ajaran syariat.
Asy-Sya’rani juga dikenal sebagai ulama yang sangat peduli kepada masyarakat miskin. Ia sering membantu orang-orang yang membutuhkan dan menjadikan rumahnya sebagai tempat berkumpulnya para penuntut ilmu, fakir miskin, dan para pencari jalan spiritual.
Karya-Karya Ilmiah
Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’rani merupakan penulis yang sangat produktif. Sepanjang hidupnya, ia menulis puluhan karya dalam bidang tasawuf, fikih, dan nasihat keagamaan. Beberapa karyanya bahkan menjadi rujukan penting dalam tradisi keilmuan Islam.
Di antara karya-karyanya yang terkenal antara lain:
Kitab Washiyatul Musthofa menjadi salah satu karya yang populer di berbagai pesantren di dunia Islam, termasuk di Indonesia. Isi kitab ini menekankan pentingnya akhlak, ibadah, kesederhanaan, dan ketakwaan kepada Allah.
Pemikiran dan Pengaruh
Pemikiran Asy-Sya’rani memiliki ciri khas yang menekankan keseimbangan antara syariat dan hakikat. Ia menolak pemahaman tasawuf yang meninggalkan hukum Islam, dan sebaliknya juga menolak pendekatan fikih yang kering dari dimensi spiritual.
Menurutnya, seorang Muslim harus menjalankan tiga hal sekaligus:
Pendekatan ini membuat ajaran Asy-Sya’rani diterima luas oleh berbagai kalangan ulama, baik yang fokus pada fikih maupun tasawuf.
Selain itu, ia juga dikenal sebagai ulama yang sangat menghormati perbedaan mazhab. Dalam kitab Al-Mizan Al-Kubra, ia menjelaskan bahwa perbedaan pendapat di antara para ulama sebenarnya merupakan rahmat bagi umat Islam.
Kehidupan Pribadi
Dalam kehidupan sehari-hari, Asy-Sya’rani dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan penuh kasih. Ia sering mengingatkan murid-muridnya agar tidak mengejar popularitas atau kedudukan dunia. Menurutnya, ilmu harus digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membantu sesama manusia.
Banyak murid yang datang dari berbagai daerah untuk belajar kepadanya. Majelis ilmunya menjadi salah satu pusat pembelajaran tasawuf di Mesir pada masa itu.
Wafatnya
Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’rani wafat pada tahun 973 H / 1565 M di Kairo, Mesir. Kepergiannya meninggalkan warisan keilmuan yang sangat besar bagi dunia Islam. Hingga saat ini, karya-karyanya masih dipelajari di berbagai lembaga pendidikan Islam, terutama di pesantren dan majelis tasawuf.
Pemikirannya tentang keseimbangan antara syariat dan tasawuf terus menjadi inspirasi bagi banyak ulama dan pencari ilmu. Ia dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah tasawuf Islam yang berhasil menjembatani antara dimensi hukum dan spiritual dalam agama.
Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’rani adalah contoh ulama yang berhasil memadukan keilmuan yang luas dengan kedalaman spiritual. Melalui karya-karyanya seperti Washiyatul Musthofa, ia menyampaikan pesan-pesan moral dan nasihat keagamaan yang tetap relevan hingga sekarang.
Warisan intelektualnya tidak hanya memperkaya tradisi tasawuf, tetapi juga membantu umat Islam memahami bahwa kehidupan beragama yang ideal adalah kehidupan yang menyeimbangkan ilmu, ibadah, akhlak, dan kedekatan kepada Allah. Karena itu, nama Asy-Sya’rani tetap dikenang sebagai salah satu ulama besar yang memberikan kontribusi penting dalam perkembangan pemikiran Islam.