Ramadhan selalu identik dengan peningkatan ibadah. Masjid lebih ramai, tilawah Al-Qur’an lebih sering terdengar, dan doa-doa dipanjatkan dengan intensitas yang lebih dalam. Namun di antara semua amalan itu, ada satu nilai yang menonjol dan memiliki dampak langsung terhadap kehidupan sosial: kedermawanan. Bulan Ramadhan bukan hanya tentang hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga tentang tanggung jawab horizontal terhadap sesama manusia.
Dermawan pada dasarnya adalah sikap batin sebelum ia menjadi tindakan lahiriah. Ia lahir dari cara pandang terhadap harta dan kepemilikan. Orang yang dermawan menyadari bahwa apa yang dimilikinya bukan sepenuhnya miliknya, melainkan amanah yang mengandung hak orang lain. Karena itu, memberi bukan dianggap sebagai kehilangan, melainkan sebagai pemenuhan tanggung jawab moral dan spiritual.
Puasa sebagai ibadah utama Ramadhan memiliki peran penting dalam membentuk sikap ini. Ketika seseorang menahan lapar dan dahaga, ia tidak sekadar menunaikan kewajiban agama, tetapi juga belajar merasakan keterbatasan dirinya. Lapar yang biasanya bisa segera diatasi, pada siang hari Ramadhan harus ditahan. Dari pengalaman inilah empati tumbuh. Rasa tidak nyaman yang dialami secara sadar membuka ruang untuk memahami kondisi mereka yang hidup dalam kekurangan secara permanen.
Di titik ini, dermawan menemukan konteksnya. Empati yang tidak diwujudkan dalam tindakan hanya akan menjadi perasaan sesaat. Ramadhan mendorong agar empati tersebut diterjemahkan menjadi sedekah, infak, dan berbagai bentuk kepedulian sosial. Tidak mengherankan jika selama bulan ini aktivitas berbagi meningkat signifikan. Masyarakat berlomba-lomba menyediakan makanan berbuka, menyalurkan bantuan, dan memperkuat solidaritas.
Namun pertanyaan pentingnya adalah: apakah semangat dermawan ini bersifat musiman? Jika kedermawanan hanya muncul di bulan Ramadhan, maka ada yang belum tuntas dari proses pembelajaran spiritual tersebut. Ramadhan sejatinya adalah madrasah pembentukan karakter. Selama sebulan, umat Islam dilatih mengendalikan diri, menata niat, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Dermawan seharusnya menjadi salah satu hasil permanen dari latihan itu.
Dalam konteks sosial yang lebih luas, kedermawanan memiliki makna strategis. Ketimpangan ekonomi dan kemiskinan masih menjadi realitas yang dihadapi banyak masyarakat. Negara dan sistem ekonomi memiliki peran besar dalam mengatasinya, tetapi solidaritas individu tetap menjadi elemen penting. Ramadhan menghadirkan momentum kolektif yang memperkuat kesadaran bahwa kesejahteraan bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama.
Yang juga perlu ditegaskan, dermawan bukan monopoli orang kaya. Nilai kedermawanan tidak ditentukan oleh besar kecilnya nominal, tetapi oleh kelapangan hati. Seseorang bisa berbagi melalui tenaga, waktu, perhatian, bahkan senyuman yang tulus. Ramadhan mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kapasitas untuk memberi, sesuai dengan kemampuannya.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Washiyatul Musthofa:
ياعلي إن أولياء الله تعالى لم ينالوا سعة رحمة الله ورضوانه بكثرة العبادة ولكن نالوها بسخاوة النفس والاستهانة بالدنيا
“Wahai Ali sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak akan memperoleh luasnya rahmat Allah dan ridho-Nya dengan banyaknya ibadah, tetapi mereka memperolehnya dengan sifat dermawannya diri dan merendahkan dunia.”
ياعلي السخي قريب من الله قريب من رحمته بعيد من عذابه والبخيل بعيد من الله بعيد من رحمته قريب من عذابه
“Wahai Ali, orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan Rahmat-Nya, dan dan jauh dari siksa-Nya. Sedangkan orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari Rahmat-Nya, dan dekat dengan siksa-Nya.”
Pada akhirnya, korelasi antara dermawan dan Ramadhan terletak pada transformasi nilai. Ramadhan menggeser orientasi hidup dari sekadar mengejar kepemilikan menuju membangun kontribusi. Jika setelah Ramadhan seseorang lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih ringan tangan untuk berbagi, maka di situlah makna bulan suci itu menemukan relevansinya. Dermawan bukan hanya amalan tambahan, melainkan cerminan keberhasilan menjalani Ramadhan itu sendiri.