Indonesia adalah negara yang sangat mencintai kedamaian. Ini terbukti dari masyarakatnya yang sangat menjunjung tinggi toleransi. Dalam kesehariannya, masyarakat Indonesia hidup dalam lingkup yang multikultural dan plural. Tak ayal jika sejak kecil masyarakat Indonesia telah belajar serta bisa menghargai orang lain.
Pada saat ini, jumlah masyarakat Indonesia yang melansir dari data BPS (Badan Pusat Statistik) adalah sebanyak 284 juta jiwa lebih, yang mana hal ini bertambah dari 2024 sebanyak 1,7 jiwa. Masyarakat yang majemuk ini sendiri memiliki beberapa kelebihan, di antaranya: membangun jiwa toleransi terhadap sesama, belajar menghargai antar sesama umat manusia, dan masih banyak lagi hal-hal positif dari masyarakat kita yang majemuk.
Akan tetapi, dari masyarakat kita yang majemuk, terkadang bisa memicu perpecahan dan perang saudara. Untungnya, dengan adanya beberapa instansi keamanan yang meredamnya, hal itu tidak pernah terjadi kembali.
Seperti yang baru-baru ini kita dengar serta kita lihat bersama, adanya beberapa massa yang melakukan perbuatan anarkis yang membuat ketenteraman bangsa kita terguncang. Awal dari semua ini adalah adanya tuntutan dari mahasiswa serta masyarakat yang mengajukan penghapusan tunjangan gaji DPR yang membesar, sementara pajak PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) membesar. Memang kebijakan ini membuat beberapa masyarakat muak dan terbebani dari segi finansial. Tetapi apakah dibenarkan cara menyuarakan aspirasi dengan tindakan anarki seperti itu?
Sebelum melanjutkan pembahasan, mari kita lihat dahulu arti dari anarki yang diambil dari kata anarkisme sendiri. Anarkisme adalah sebuah gerakan politik yang mengupayakan penghapusan negara, kapitalisme, dan semua bentuk otoritas serta hierarki yang memaksakan kekuasaan atas individu. Salah satu tujuan dari gerakan ini adalah untuk mewujudkan masyarakat yang lebih baik daripada sebelumnya.
Dari pengertian di atas, apakah dibenarkan melakukan tindakan anarki (melempar, menghancurkan, dan merusak) dalam menyuarakan aspirasi rakyat? Sebelumnya, mari kita lihat dampak dari perbuatan itu sendiri. Dampak pertama yang dapat kita lihat adalah adanya beberapa aset negara yang rusak, perbaikan beberapa aset negara yang dirusak, serta bisa membuat macet rancangan pembangunan di beberapa daerah terpencil.
Jika kita telah mengerti beberapa dampak dari gerakan ini, seharusnya kita sebagai masyarakat harus lebih bijak dalam menyuarakan aspirasi. Pun dengan merusak serta menjarah aset negara serta pemerintah, apakah kita bisa mengurangi beban dari masyarakat sebelumnya? Mungkin jawabannya bisa jadi tidak. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya, seluruh pembangunan yang ada di negeri ini menggunakan pajak yang dibayar oleh masyarakat. Bahkan seharusnya kita merasa kasihan kepada beberapa golongan yang memiliki kondisi finansial yang rendah. Dengan gerakan seperti itu, kita bisa menghilangkan beberapa daerah yang seharusnya mendapatkan bansos (bantuan sosial) dari pemerintah. Sementara dengan aksi yang ekstrem itu, kita menghilangkan data-datanya dan berimbas pada tidak terlaksananya bantuan tersebut ke masyarakat kecil.
Untungnya saja, dengan beberapa instansi keamanan yang langsung menindak tegas gerakan tersebut, hal ini tidak merambah ke seluruh kawasan kota, kabupaten, atau bahkan hingga ke pedesaan.
Seperti ungkapan R.A. Kartini, bahwa “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dalam kondisi sebelumnya yang hampir chaos karena ulah beberapa orang, dan sekarang kita menjadi lebih damai dengan suasana yang tenang meskipun masih ada beberapa kebijakan dari pihak keamanan yang bertujuan untuk menciptakan suasana kondusif. Tapi lihat sekarang, kita berada di bulan yang sangat spesial dan sangat agung. Seolah-olah keadaan ini disiapkan untuk meredakan amarah masyarakat. Kenapa demikian? Karena tanpa kita sadari bulan ini adalah bulan kelahiran dari orang yang paling agung di dunia. Keagungannya hampir dikenal oleh seluruh orang yang ada di dunia, dan ajarannya pun merebak hingga ke seluruh pelosok negeri.
Bulan ini adalah Rabi’ul ‘Awal, bulan kelahiran dari nabi besar umat Islam sedunia yakni Nabi Muhammad SAW. Kisah kelahiran dari sosok yang mulia ini memiliki banyak sekali keajaiban yang terjadi. Salah satunya adalah: ibundanya (Siti Aminah) tidak merasakan keberatan saat mengandungnya, padamnya api sesembahan Majusi yang tak pernah padam selama 1000 tahun kemudian di saat kelahirannya, ibundanya didatangi oleh 4 orang perempuan yang mulia pada zamannya. Orang mulia itu adalah: istri dari Nabi Adam AS, istri Nabi Ibrahim AS, Asiyah binti Muzahim, dan Maryam binti Imran selaku ibunda dari Nabi Isa AS.
Tak ayal jika pada hari ini kita memperingati hari kelahirannya dengan khidmat dan rasa bahagia. Dalam peringatannya sendiri, banyak sekali tradisi ataupun budaya yang kita miliki, salah satunya adalah Grebeg Keraton Jogjakarta. Kata Grebeg ini sendiri berasal dari kata “Gumrebeg” yang memiliki arti perayaan. Perayaan ini memiliki rangkaian prosesi yang terstruktur. Rangkaiannya sendiri ialah:
Itulah beberapa kondisi serta perayaan Maulid yang ada dalam masyarakat Indonesia yang sangat majemuk.
Wallahu A‘lam.