Selain penuh bahagia, Idul Fitri juga menjadi momen yang penuh berarti. Banyak hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari momen setahun sekali, maksimal seminggu sebagai durasinya itu.
Idul Fitri atau kembali suci, adalah konsekuensi dari ibadah kita di bulan Ramadhan. Berlipatnya ganjaran dan diberikannya ampunan, membuat kita kembali suci, seperti bayi yang baru dilahirkan.
Idul Fitri juga menjadi titik awal untuk penerapan pembiasaan, dari apa yang kita lakukan selama Ramadhan; ibadahnya, disiplinnya, kesehatannya, hingga moralitasnya. Mencoba mengingat dan melakukan sesuatu apa yang didapat dari makna syahru tarbiyah. Hal-hal baik yang kita dapat selama Ramadhan, harus dipertahankan dan ditingkatkan di luar bulan Ramadhan. Idul Fitri adalah garis startnya.
Di lain sisi, bisa dibilang, Idul Fitri adalah masa evaluasi diri kita di bulan Ramadhan. Hal yang buruk harus dihindari dan tinggalkan, hal yang baik dilakukan dan tingkatkan. Hasil evaluasi ini sangat berguna untuk dijadikan modal dan landasan kita bersikap di luar bulan Ramadhan
Selain itu, Idul Fitri atau yang dikenal dengan lebaran, lekat halnya dengan hal-hal raya dan semarak; pakaian baru, masakan-makanan, dan hadiah-hadiah. Hal itu sebagai ungkapan bahagia atas kemenangan melawan hawa nafsu selama bulan suci Ramadhan.
Kenapa Idul Fitri selalu dikaitkan dengan itu dan sebenarnya apa esensi dari Idul Fitri?
Syekh Sulaiman al Bukairami menjelaskan dalam kitabnya, Hasiyah al-Bujairami alal Khatib, juz 5, hal. 412:
فائدة: جعل اللّه للمؤمنين في الدنيا ثلاثة أيام: عيد الجمعة والفطر والأضحى، وكلها بعد إكمال العبادة وطاعتهم. وليس العيد لمن لبس الجديد بل هو لمن طاعته تزيد، ولا لمن تجمل باللبس والركوب بل لمن غفرت له الذنوب.
“Faidah: Allah swt menjadikan tiga hari raya di dunia untuk orang-orang yang beriman, yaitu, hari raya jum’at, hari raya Fitri, dan Idul Adha. Semua itu, (dianggap hari raya) setelah sempurnanya ibadah dan ketaatannya. Dan Idul Fitri bukanlah bagi orang yang menggunakan pakaian baru. Namun, bagi orang yang ketaatannya bertambah. Idul Fitri bukanlah bagi orang yang berpenampilan dengan pakaian dan kendaraan. Namun, Idul Fitri hanyalah bagi orang yang dosa-dosanya diampuni.”
Rugi sekali orang yang pada bulan Ramadhan hanya mendapatkan lapar dan haus dahaga. Rugi sekali orang yang pada momen Idhul Fitri ketaatannya tidak bertambah dan dosanya tidak diampuni. Seharusnya bagi mereka, tidak ada ’raya’ dan ’Idul Fitri’.
Idul Fitri atau lebaran juga menjadi momentum yang problematis dan dilematis. Pertanyaan-pertanyaan, “Kapan lulus?”, “Kapan kerja?”, “Kapan nikah?”, “Kapan punya anak?” dan kapan kapan lainnya seakan siap menghantui telinga sebagian orang dan menjadi momok yang menyeramkan bagi mereka. Tak jarang, sesuatu yang terlahir dari hal problematis dan dilematis akan berdampak pada hal-hal traumatis.
Kumpul keluarga yang sangat krusial karena satu sama lain saudara yang sulit dan lama tidak jumpa, kumpul keluarga yang seharusnya hangat dan berjalan dengan syahdu; menjadi suram karena terpantik api kalimat sederhana dari basa-basi yang tidak perlu.
Satu hal yang digarisbawahi, padahal Idul Fitri atau lebaran adalah momen yang tepat untuk bersilaturahim, momen yang tepat untuk berbagi dan saling memaafkan.
Dengan itu, sebagai bentuk penyadaran, mari kita sedikit membahasnya!
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia bersilaturahim.” (HR. Bukhari).
Sejatinya, bahwa selalu tidak ada kesia-siaan dalam kebaikan. Tidak sedikit kiranya, bahwa hal kecil akan dibalas besar, hal ringan akan dibalas berat.
Sebut saja dari apa yang dikatakan dalam hadist di atas. Hanya karena bersilaturahim, kita akan memperoleh rezeki yang lapang dan umur yang panjang.
Seberapa sulit usaha untuk kita bersilaturahim? Hanya sekedar mendatangi, bersalaman, dan berbincang dengan orang yang dijadikan objek.
Lalu bandingkan dengan rezeki lapang dan panjang umur. Rezeki itu bukan hanya soal uang, tapi juga kesehatan, kebahagiaan. Sedangkan umur, siapa yang mampu menentukan untuk memanjang dan memendekkannya?
Mumpung ini momen yang tepat: mari bersilaturahim!