web analytics

Isra’ Mi’raj VS Astronaut

1 0
Read Time:6 Minute, 29 Second

Isra’ Mi’raj adalah peristiwa mahadahsyat yang dilalui oleh Nabi Muhammad sebagai perjalanan menerima wahyu. Perjalanan yang tidak bisa dinalar karena hanya terjadi dalam semalam. Nabi Muhammad dari Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi ke Baitul Maqdis,
Masjidil Aqsa, Palestina dengan jarak 1.500 km (diistilahkan dengan sebutan Isra’) dan peristiwa Mi’raj ketika Nabi Muhammad naik dari Bumi langsung ke Sidratul Muntaha di langit ke tujuh.

Dalam perjalanannya, Nabi Muhammad (mengendarai Buraq) ditemani oleh Malaikat Jibril. Karena malaikat berasal dari cahaya, maka kita asumsikan malaikat bergerak dengan kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km perdetik. Dengan kecepatan cahaya, mudahlah perjalanan Isra’ Nabi Muhammad.

Masalah selanjutnya berkaitan dengan teori Anihilasi, yaitu proses fisika ketika sebuah partikel materi dan antipertikelnya saling bertabrakan, saling memusnahkan sepenuhnya, dan mengubah seluruh massa mereka menjadi energi dalam jumlah besar, sering kali dalam
bentuk foton (sinar gamma).

Memang malaikat (makhluk cahaya) yang badannya tersusun dari foton-foton yang sangat ringan, sehingga tidak mengalami kendala untuk bergerak dengan kecepatan cahaya. Sedangkan Rasulullah adalah manusia yang badannya tersusun atas organ-organ yang terdiri atas sel-sel yang juga tersusun dari partikel-partikel yang lebih kecil yaitu atom, dan atom pun tersusun dari partikel sub atomik seperti, proton, neutron, serta elektron.

Dalam perhitungan fisika, jika materi yang mempunyai bobot (berat) bergerak dengan kecepatan cahaya maka materi tersebut akan terbakar karena saking cepatnya bergesekan dengan atmosfir. Kemungkinan kedua, materi tersebut akan tercerai-berai hingga menjadi
partikel sub atomik. Agar Rasulullah mampu mengikuti kecepatan Jibril, kita asumsikan jika Allah telah merubah jism Rasulullah menjadi cahaya.

Tidak berhenti di situ, masalah selanjutnya adalah langit ke tujuh atau Sidratul Muntaha. Dengan kecepatan cahaya, dalam waktu semalam (8 jam) Rasulullah belum bisa mengalahkan mengalahkan Voyager 1, objek manusia (paling jauh di luar angkasa) yang diluncurkan pada 1977, menjelajah alam semesta selama hampir 50 tahun dengan kecepatan 61.500 km/jam yang kini telah berjarak lebih dari 25 miliar kilometer dari bumi.

Menjelajah ruang dan waktu selama 8 jam dengan kecepatan cahaya berarti telah berjarak 8,64 miliar km dari bumi merujuk pada wilayah di luar tata surya, yang berada jauh melampaui planet Neptunus. Masih terlalu dekat bila menjelajah ruang dan waktu selama 8 jam.

Oleh karena itu, bisa kita anggap jika peristiwa Isra’ Mi’raj bukanlah perjalanan ruang dan waktu yang menjelajahi langit, seperti pada firman Allah,

الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ

(Dia juga) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih ketidakseimbangan sedikit pun. Maka, lihatlah sekali lagi! Adakah kamu melihat suatu cela? (QS. Al-Mulk: 3)

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍۗ وَهُوَبِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke (penciptaan) langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 29)

اَللّٰهُ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُه فِى السَّمَاۤءِ كَيْفَ يَشَاۤءُ وَيَجْعَلُه كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِه فَاِذَآ اَصَابَ بِه مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِه اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَۚ

Allahlah yang mengirim angin, lalu ia (angin) menggerakkan awan, kemudian Dia (Allah) membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya dan Dia menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka, apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, seketika itu pula mereka bergembira. (QS. Ar-Rum: 48)

Ketiga surat di atas memakai kata langit yang digunakan untuk menggambarkan lapisan-lapisan atmosfir Bumi. Sedangkan Mi’raj bukanlah perjalanan ke luar angkasa melewati lapisan-lapisan atmosfir, karena sejauh apapun menjelajah luar angkasa menembus bintang
sesungguhnya masih pada langit pertama, atau lebih tepatnya menjelajah langit pertama. Lalu bagaimana Rasulullah bisa menembus langit kedua sampai ketujuh? Melihat firman Allah,

اَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَّسْتَمِعُوْنَ فِيْهِۚ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍۗ

Apakah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan (hal-hal yang gaib)? Hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka itu datang membawa keterangan yang nyata. (QS. At-Thur: 38)

وَّاَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاۤءَ فَوَجَدْنٰهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَّشُهُبًاۖ

(Jin berkata lagi,) “Sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit. Maka, kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. (QS. Al-Jinn: 8)

يَّوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ فَتَأْتُوْنَ اَفْوَاجًاۙ وَّفُتِحَتِ السَّمَاۤءُ فَكَانَتْ اَبْوَابًاۙ

(yaitu) hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong. Langit pun dibuka. Maka, terdapatlah beberapa pintu. (QS. An-Naba: 18-19)

Dari ketiga firman Allah tersebut, kita mendapat gambaran bahwa ketujuh langit tersebut letaknya berdampingan tetapi tidak bisa ditembus karena perbedaan dimensi. Sebab itu, peristiwa Isra’ Mi’raj bukanlah sekadar perjalanan ruang dan waktu, tapi juga perjalanan menembus ruang dan waktu sendiri.

Dalam sejarah peradaban manusia, belum pernah ada yang mampu menembus serta menjelajah di luar ruang dan waktu. Percobaan menembus ruang dan waktu adalah subjek penelitian fisika teoretis dan kuantum yang berupaya memahami apakah batasan ruang tiga dimensi dan aliran waktu satu arah dapat dilampaui. Saat ini, “menembus” waktu lebih condong ke arah manipulasi dilatasi waktu (memperlambat waktu) atau simulasi kuantum, bukan menciptakan mesin waktu fisik seperti di film fiksi ilmiah. Hal tersebut seperti yang dibuktikan oleh Einstein dengan Teori Relativitasnya yang menyatakan bahwa ruang dan waktu tidaklah absolut melainkan merupakan fenomena yang fleksibel, relatif, dan dinamis seperti proses alam semesta lainnya.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِه لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَه لِنُرِيَه مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Isra: 1)

Rasulullah dapat menyaksikan segala tata peradaban dari langit pertama sampai langit ketujuh karena telah berada pada dimensi yang paling tinggi. Hal tersebut menyebabkan Rasulullah dapat membaca masa lalu dan masa yang akan datang, karena telah mencapai perjalanan di luar lingkar ruang dan waktu yang ada pada langit dunia atau langit pertama.

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Bayangkan Jika Kita Tidak Menulis

Bayangkan Jika Kita Tidak Menulis

Hikayah dan Hikmah di Balik Istimewanya Bacaan Tahiyat

Hikayah dan Hikmah di Balik Istimewanya Bacaan Tahiyat

Tantangan Besar di Balik Organisasi Besar

Tantangan Besar di Balik Organisasi Besar

Gengsi: Penjara Tak Kasat Mata yang Merusak Diri

Gengsi: Penjara Tak Kasat Mata yang Merusak Diri

Kenapa Harus Pesantren?

Kenapa Harus Pesantren?

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam