web analytics

Makan, Kenyang, dan Sumber Kehancuran

0 0
Read Time:6 Minute, 27 Second

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَاۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Hud ayat 6)

Setiap makhluk di muka bumi ini pasti diberi rezeki oleh Allah. Pasti. Baik di darat atau di laut. Baik manusia, hewan, atau tumbuhan. Semua Allah beri rezeki. Dan perihal rezeki, tidak semerta-merta sesempit makna soal uang atau harta. Bukan juga melulu soal apa yang kita mau. Rezeki adalah suatu hal bermanfaat yang kita butuhkan.

Meskipun tidak selalu kita mau.

Meskipun tidak selalu kita tau.

Dari sekian macam rezeki, sebutlah rezeki berupa diberi makan. Setiap makhluk hidup pasti butuh makan. Setiap yang punya perut pastu butuh makan. Ya, kita semua butuh makan karena tubuh kita butuh asupan energi. Tentu saja, kalau tidak makan, kita semua akan mati. Selain sekunder dan tersier, makan merupakan kebutuhan yang primer. Kebutuhan yang pokok.

Selagi kita berusaha dan berdo’a, rezeki yang kita gunakan untuk makan pasti akan datang dengan sendirinya, meski dari arah yang tidak kita duga.

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ۝٢ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ۝٣

“… Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At Thalaq ayat 2-3)

Oleh karena makan adalah kebutuhan primer, kebutuhan pokok dan inti, tentu ini adalah hal penting. Dan setiap hal penting pasti ada hal-hal yang harus diperhatikan.

Dalam adab-adab yang harus diterapkan dalam makan, tentu sangat banyak. Mulai seperti membaca do’a sebelum makan, makan dengan menggunakan tangan kanan, makan tidak boleh dengan posisi berdiri, tidak boleh mencaci maki makanan, dan masih banyak yang lainnya.

Terkhusus di bulan Ramadhan, setelah hampir 14 jam berpuasa, waktu maghrib seolah berubah menjadi gelanggang perang balas dendam untuk semua makanan yang diguling dikunyah lalu ditelan menghantam lambung dengan bertubi-tubi. Menahan berpuasa yang tidak 1×24 jam full, seolah kita adalah orang yang kelaparan belum makan berbulan-bulan.

Kita sering berlebihan saat makan mengakibatkan terlalu kenyang. Dan terlalu kenyang itu tidak baik.

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf, Ayat: 31)

Rasulullah sendiri menganjurkan pada umatnya agar tidak berlebihan dalam makan dan minum. Beliau menyarankan agar seseorang makan dan minum dalam kadar yang sedikit, cukup makan beberapa suapan dengan kadar yang dapat menegakkan punggungnya. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam hadits:

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه

“Tiada tempat yang manusia isi yang lebih buruk ketimbang perut. Cukuplah bagi anak adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya) maka hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas.” (HR. Ahmad)

Dalam hadits di atas tersirat pemahaman bahwa jika seseorang tidak merasa cukup dengan makanan yang hanya dapat menegakkan punggungnya (makanan yang sedikit) maka hendaknya kadar makanan dan minuman yang dikonsumsi tidak melebihi kadar dua pertiga perut, agar ia dapat menyisakan sepertiga perutnya untuk bernapas dengan mudah. Berdasarkan ketentuan di atas, para ulama berpandangan bahwa makan terlalu kenyang (al-akl fauqa as-syiba’) sebagai perbuatan yang tidak baik.

Sebagian ulama, seperti Imam An-Nawawi dan Imam Ar-Rafi’i menghukumi makan terlalu kenyang sebagai perbuatan makruh, sedangkan ulama lain menghukumi sebagai perbuatan yang diharamkan. Hal ini secara tegas dijelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:

وصرح الشيخان بكراهة الأكل فوق الشبع وآخرون بحرمته

“As-Syaikhan (Imam An-Nawawi dan Ar-Rafi’i) menegaskan kemakruhan makan terlalu kenyang. Sedangkan ulama lain berpandangan tentang keharaman hal tersebut.” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 3, hal. 367)

قَالَ فِي الْآدَابِ : قَالَ الْحَنَفِيَّةُ الْأَكْلُ فَوْقَ الشِّبَعِ حَرَامٌ . قَالَ الْمَشَايِخُ مِنْهُمْ : إلَّا فِي مَوْضِعَيْنِ : أَنْ يَأْكُلَ فَوْقَ الشِّبَعِ لِيَتَقَوَّى لِصَوْمِ الْغَدِ . (الثَّانِي) : إذَا نَزَلَ بِهِ ضَيْفٌ ، وَقَدْ تَنَاهَى أَكْلُهُ وَلَمْ يَشْبَعْ ضَيْفُهُ وَيَعْلَمُ أَنَّهُ مَتَى أَمْسَكَ أَمْسَكَ الضَّيْفُ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَأْكُلَ فَوْقَ الشِّبَعِ لِئَلَّا يَصِيرَ دَاخِلًا فِي جُمْلَةِ مَنْ أَسَاءَ الْقِرَى

“Berkata dalam kitab al-Adab: ‘Ulama Hanafiyah berpandangan bahwa makan terlalu kenyang adalah haram’. Para masyayikh dari mazhab Hanafiyah melanjutkan: ‘Kecuali pada dua tempat yakni ketika makan terlalu kenyang dengan tujuan agar kuat berpuasa di hari esok, dan ketika kedatangan tamu, saat perutnya sudah kenyang, tamunya masih belum kenyang, dan dia mengerti bahwa ketika dia selesai makan, maka tamunya pun ikut selesai, maka dalam hal ini makan terlalu kenyang bukanlah hal yang dipermasalahkan supaya ia tidak tergolong orang yang buruk dalam memberi suguhan.” (Syekh Muhammad bin Ahmad bin Salim As-Safarini, Ghida’ al-Albab Syarh Mandzumat al-Adab, Juz 2, Hal. 89)

Itu kenapa, Imam Asy Syafi’i membagi kadar takaran badan kita: 1/3 untuk makan, 1/3 untuk minum, dan 1/3 untuk bernafas. Semua itu harus proporsional dan optimal. Jangan sampai ada yang melebihi batas untuk resiko yang tidak baik.

Tapi di luar itu, dari sekian adab dan tatakrama makan yang harus kita perhatikan, dari sisi tasawuf yang lain, adalah pentingnya kita untuk mengetahui asal muasal rezeki yang kita dapat. Dari mana ia berasal, dengan bagaimana kita mencarinya, sebelum pada akhirnya dikonsumsi dan masuk ke dalam tubuh kita.

Dalam hal ini, Nabi Muhammad Saw memberikan nasihat kepada Sayyidan Ali, dalam kita Washiyatul Musthofa:

يا علي من أكل الحلال صفا دينه ورق قلبه ولم يكن لدعوته حجاب. ياعلي من أكل الشبهات إشتبه عليه دينه وأظلم قلبه, ومن أكل الحرام مات قلبه وخف دينه وضعف يقينه وحجب الله دعوته وقلت عبادته

“Wahai Ali, barangsiapa yang makanannya halal, maka bersih agamanya dan lembut hatinyaserta do’anya terkabul tak terhalang.

Wahai Ali, barang siapa yang makanannya syubhat (tidak jelas halal/haramnya) maka remang-remanglah agamany dan gelaplah hatinya. Barang siapa yang makanannya haram maka mati hatinya dan tipis agamanya, lemah keyakinannya, Allah akan menghalangi terkabulnya do’a serta sedikit ibadahnya.”

Wallahu a’lam.

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Tuntunan Membaca Surat Al-Qur’an dalam Shalat dan Waktu Tertentu

Tuntunan Membaca Surat Al-Qur’an dalam Shalat dan Waktu Tertentu

Steril dari Ragam Pernikahan Masa Jahiliyah, Inilah Bentuk Penjagaan Nur Rasulullah SAW

Steril dari Ragam Pernikahan Masa Jahiliyah, Inilah Bentuk Penjagaan Nur Rasulullah SAW

Dermawan dan Makna Ramadhan

Dermawan dan Makna Ramadhan