Mondok merupakan pilihan tepat bagi sebagian banyak orang sebagai tempat pendidikan karakter, jiwa, dan ilmu pengetahuan dunia akhirat. Bukan tanpa alasan, di era zaman yang mengalami transformasi pesat, mengharuskan seorang pemuda atau anak untuk bijak dalam mencari tempat belajar. Bukan mendiskreditkan tempat belajar lainnya, tapi pondok pesantren merupakan tempat paripurna dalam menempa pendidikan anak. Bukan hanya berfokus pada pembentukan akal, pesantren juga berfokus pada pengembangan dan pembentukan akhlaq untuk meneguhkan karakter dan jiwa agar seimbang menghadapi gempuran zaman yang penuh godaan dan tantangan. Karna sejatinya, posisi akhlaq memiliki derajat awal ketimbang ilmu, seperti ungkapan Imam Malik pada seorang pemuda Quraisy:
تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
“Pelajari;ah Adab, sebelum mempelajari ilmu”.
Meskipun demikian, orang yang awal mondok pasti menghadapi banyak cobaan. Bukan tanpa alasan, yang sebelumnya hidup di lingkup keluarga dengan penuh pendampingan dan kasih sayang kini memasuki lingkungan baru, yang pasti menghadapi gertakan lingkungan yang berbeda. Mereka harus hidup di lingkungan asing dan orang asing yang tidak mereka kenal. Adaptasi pasti harus di terapkan agar mereka bisa menyatu dengan hal yang baru itu. Isak tangis, rasa rindu pada keluarga pasti hadir bagi seorang yang awal mondok. Tak jarang lamunan pada keluarga sering menjadi kegiatan sehari-hari.
Tapi semua itu pasti kan berlalu seiring berjalannya waktu, karna kerinduan dan kesedihan pasti akan hilang dengan pengaruh lingkungan dan penyesuaian diri. Meskipun demikian, awal mondok secara tidak langsung mengajari kita agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menjadi pribadi yang lebih mandiri tanpa bantuan keluarga. Namun, selain usaha seorang yang mondok, penting juga sokongan do’a dan usaha dari orang tua. Do’a dan usaha menjadi bagian penting bagi keberhasilan seoarang anak yang mondok. Semua memiliki peran krusial masing-masing. Do’a orang tua yang di panjatkan pada tuhan untuk anaknya, menjadi sumbangsih nyata yang tak kasat mata. Karna semua tetap tergantung pada kuasa tuhan, bagi keberhasilan anak dalam mondok. Itulah pentingnya do’a orang tua, yang pasti lebih ampuh mengetuk pintu langit dari pada do’a seorang wali pada keberhasilan anaknya.
Seperti tercatat dalama beberapa riwayat adab, seperti dalam Adabul Mufrad) ;
دَعْوَةُ الوَالِدِ لِوَلَدِهِ تَخْرِقُ السَّمَوَاتِ
Artinya: “Doa orang tua untuk anaknya menembus langit.”
Rosululloh juga bersabda;
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ المَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ المُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
Artinya: “Tiga doa yang dikabulkan yang tidak ada keraguan padanya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian (musafir), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Bahkan, menurut Kiai Anwar Manshur sebagai salah satu pengasuh Pondok Pesantren Liboyo, pernah berkata” Kuncine wong mondok iku ono telu, anak e tenanan, wong tuwone tenanan, lan gurune tenanan” ( Kuncinya orang mondok itu ada tiga, anaknya serius, orang tuanya serius, dan gurunya juga serius)
Itulah pentingya hubungan anak dan orang tua, selain itu juga di tambah dengan guru yang selalu mendampinginya. Karna guru dalam pondok pesantren, secara status adalah sebagai pengganti orang tuanya. Semoga kita yang sedang mondok, masih bisa mendapatkan dukungan dari penjelasan tadi. Dan tentunya mendapatkan apa yang kita tuju dalam mondok di pesantren.
Sekian….