Spiritualitas seorang mu’min tidak hanya di lihat dari sebarapa banyak ilmu yang ia miliiki, tapi juga sejauh mana ia dapat membagikan ilmunya tersebut untuk kesejahteraan umat.
Dalam suatu kesempatan KH Reza Ahmad Zahid, menuqil dari kitab adabu alim wa mutaalim, karya KH Hasyim Asyari,
“Tinggi–tinggi nya derajat seorang mu’min, adalah mengajar”
Hal ini menunjukan bahwa dengan mengajar, seseorang akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.
Mengapa demikian? Sebab pertama, nasyrul ilmi waddin, ia menyebar luaskan dan menyiarkan ilmu dan agama, yang kedua ketika seorang murid yang mendapatkan ilmu dari seorang guru, dan murid tersebut mengamalkan ilmunya, maka seorang guru mendapatkan pahala jariyah yang akan terus mengalir.
sesuai dengan hadist Nabi SAW.
“إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”
“ketika anak adam (manusia) meninggal, maka terputusnya amal nya kecuali tiga hal: yakni, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mau mendoakan kedua orang tua nya”
Dikalangan santri lirboyo, ada dawuh dari mbah yai sepuh yang sangat masyhur yang sampai saat ini masih terjaga dan tetap dilestarikan.
“santri lek mulih ojo lali madep dampar”
Dampar sendiri memiliki makna sebagai meja kecil yang digunakan seorang guru ketika mengajar, tetapi ketika dampar tersebut dimaknai demikian, hal tersebut mempersempit pemahaman santri ketika pulang, dampar disini dimaknai sebagai metode mbah yai dalam menggelorakan semangatnya mensyiarkan ilmu, artinya ketika sudah pulang, santri harus bisa untuk menyalurkan ilmunya untuk kemaslahatan masyarakat.
Hal ini juga mengisyaratkan bahwa ketika mempunyai ilmu seorang santri wajib untuk menyebarkannya, salah satunya dengan cara mengajar, dengan kita mengajar kita dapat membagikan ilmu yang kita miliki kepada orang lain, dan dengan mengajar bisa jadi, menjadi lantaran ilmu yang dimiliki seorang santri menjadi bermanfaat.
Membagikan ilmu pun tidak hanya harus menunggu sampai menjadi guru, atau sampai menjadi dosen, dimanapun manusia berada, manusia dituntut untuk menyebarkan ilmu, menyebarkan ilmu sangat lekat sekali kaitannya dengan manusia, tidak melihat profesi atau jabatan yang dimiliki, menyebarkan ilmu wajib dilakukan meskipun hanya sedikit ilmu yang dimiliki.
Seperti yang dikatakan Nabi SAW.
“sampaikan lah dariku walau hanya satu ayat”
Sayyidina ali karomallahu wajhah, yang oleh nabi di juluki sebagai babul ilmi pernah berkata:
”aku adalah budak, bagi siapa pun yang mengajariku ilmu. walau hanya satu huruf”
Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa sangat penting sekali kedudukan seorang yang guru bahkan ketika hanya mengajari satu huruf saja, sayyidina ali siap untuk menjadi budaknya, artinya orang yang memberikan ilmu laksana tuan dari sang murid.
Secara eksplisit, hal tersebut menjelaskan bahwa mereka yang mengajarkan ilmu kepada kita, walau hanya satu huruf, wajib hukumnya bagi kita untuk menghormati dan mematuhi perintahnya, Dan kalau orang yang hanya mengajarkan satu huruf saja menurut sayyidina ali layak untuk dihormati dan dipatuhi perintahnya, bagaimana dengan guru dan kyai kita, yang dengan kesabaran dan keikhlasannya mendidik, mengajarkan dan menuntun kita tanpa henti, perlu diketahui bahwa, seorang murid tidak akan memperoleh kemanfaatan ilmunya kecuali dengan ridho guru.
Hadis nabi yang lain,
“Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah”
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang tidak hanya disimpan, tetapi juga di amalkan untuk kebaikan diri sendiri dan kemaslhatan umat, ilmu tanpa amal seperti halnya pohon tanpa buah, mempunyai wujud tapi tidak memberi manfaat.