web analytics

3 Tingkatan Puasa

0 0
Read Time:1 Minute, 42 Second

Ramadhan adalah bulan ibadah. Dari sekian macam ibadah dengan macam lipat pahalanya, puasa merupakan tokoh utamanya.

Sebagaimana menurut etimologinya, puasa adalah shaum (صوم)  atau shiyam (صيام)  memiliki makna arti al imsaku (الإمساك) yang artinya menahan diri. Ya, puasa memang harus menahan diri untuk tidak makan dan minum, sejak matahari terbit hingga matahari terbenam; mulai subuh sampai maghrib.

Dan padahal yang namanya puasa bukan hanya sekedar menaham lapar dan dahaga saja. Tapi juga menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa; dari hukumnya hingga pahalanya.

Apakah kita tau, bahwa puasa memiliki tingkatan?

Dijelaskan dalam kitab Durrotunnasihin karangan Syekh Utsman bin Hasan Asy-Syakir:

يقال الصوم ثلاث درجات: صوم العوام وصوم الخواص و صوم خواص الخواص

“Dikatakan, bahwa puasa memiliki 3 tingkatan: puasa orang awam, puasa orang khusus, dan puasa orang paling khusus.”

أما صوم العوام، فكف البطن والفرج عن قضاء الشهوة

Pertama, puasa orang awam.

Yaitu puasa yang hanya dalam bentuk menahan diri dari pemenuhan kebutuhan dan keinginan dari perut (dengan makan dan minum), juga farji (dengan hubungan badan).

وأما صوم الخواص فهو صوم الصالحين وهو كف الجوارح عن الآثام

Kedua, puasa orang khusus.

Yaitu puasanya orang shalih. Mereka berpuasa tidak hanya urusan perut dan farji, tapi juga menahan anggota badan dari berbuat dosa: mata yang melihat, lisan yang berbicara, telinga yang mendengar, tangan yang meraih, kaki yang melangkah, hingga perut yang mengolah.

وأما صوم خواص الخواص: فصوم القلب عن الهمم الدنية والأفكار الدنيوية وكفه عما سوى الله بالكلية

Ketiga, puasa orang paling khusus.

Ini tingkat tertinggi. Kelas elit. Pangkat paling istimewa dan luar biasa itu hanya bisa dicapai dengan orang yang istimewa dan luar biasa pula: yaitu puasa dengan menahan dan menjaga hati dari keinginan-keinginan rendah dan pikiran-pikiran duniawi, dan pelepasan sepenuhnya dari segala sesuatu selain Allah.

Para sufi, mereka mencapai tingkat ini.

Meskipun begitu, kita bisa melihat, seberapa mampu dan di mana tingkat puasa kita. Berusaha menjadi orang yang naik derajat dan tingkatnya tentu bagus. Tapi alangkah lebih bagus dan harus, kita optimalkan dan perbaiki tingkat letak puasa kita: sejak dari yang terendah.

Selamat menunaikan ibadah puasa!

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Al-Quran, Antara Keindahan dan Keluasannya

Al-Quran, Antara Keindahan dan Keluasannya

Ngaji Salalimul Fudhola: Membedah Sifat Ghoflah di Balik Tradisi Bukber!

Ngaji Salalimul Fudhola: Membedah Sifat Ghoflah di Balik Tradisi Bukber!

9 Wasiat Penghambaan Diri Dalam Kitab Salalimul Fudhola

9 Wasiat Penghambaan Diri Dalam Kitab Salalimul Fudhola

 Rokok Membatalkan Puasa, Kok Bisa?

 Rokok Membatalkan Puasa, Kok Bisa?

Golongan Yang Wajib Membayar Fidyah Puasa

Golongan Yang Wajib Membayar Fidyah Puasa

Apa Hukum Menyikat Gigi dan Berkumur Saat Puasa?

Apa Hukum Menyikat Gigi dan Berkumur Saat Puasa?