Mungkin Hari Dinosaurus terdengar asing di telinga kalian. terlebih bagi kalian yang tidak lahir sebagai dinosaurus, dan mati dalam keadaan rawrr. Tidak apa-apa. Saya memaklumi itu. Karena memang perlu perhatian, pengetahuan, pengalaman, dan cinta yang mendalam, terutama untuk bisa memahami dan mengimani hari dinosaurus ini.
Biar saya tular jelaskan:
Hari Dinosaurus terlahir dari inisiatif para guru sains di Amerika pada selasa ketiga bulan Mei. Ya, memang se-spesifik itu. Tanggal itu dipilih karena bertepatan dengan hari libur selepas ujian, yang diharapkan para siswa itu mengisi waktu liburnya dengan tetap bisa belajar dan berkunjung ke museum-museum atau kegiatan sains. Hal ini hanya sebatas merebak dan berkembang secara nasional di sana.
Sampai ledakan besar itu terjadi.
Joe Wos, seorang kartunis asal Amerika, menyadari akan kelalaiannya dalam menangkap momen penting para guru dan siswa sekolah itu, dari apa yang mereka namakan sebagai Hari Dinosaurus, berupa ikut menyuara-rayakan karyanya di momen itu.
Sabagai seorang seniman maze (labirin gambar), ia segera berkutat dengan pelampiasan idenya, dan memposting hasil karyanya ke dalam blognya dengan caption “Happy Dinosaur Day”, tertanggal 1 Juni.
Hingga, media sosial dan mesin pencarian melaksanakan tugasnya. Setiap gambar dan kalimat direkam. Setiap penguploadan, pencarian, saling terkait dan menyambungkan satu sama lain.
Sampai pada akhirnya, mudah saja untuk setiap garis “Hari Dinosaurus” seketika langsung tertuju pada suatu titik postingan blog Joe Wos itu: sebagai pencetus, penggagas, penginisiasi, perintis, dan pelopor untuk pertama kalinya di media sosial.
Di Hari Dinosaurus ini kita belajar, bahwa:
“Sebuah kesalahan yang dipercaya banyak orang akan dianggap sebagai kebenaran.”
Itu kenapa, jangan sekali-kali menormalisasikan sebuah kesalahan, entah karena bodoh (ikut-ikutan) atau bercandaan, bisa berdampak pada tumpulnya kepekaan terhadap nilai-nilai rasional, emosional, dan sosial. Tak lagi menjadi manusiawi yang bijak dan berdaya.
Yang bodoh semakin terlena dengan kebodohannya.
Berani saja tidak cukup untuk melawan pemerintah yang dzolim.
Hal lain, di Hari Dinosaurus ini kita belajar, bahwa:
“Sedikit lebih beda itu lebih baik, daripada sedikit lebih baik.”
Tidak sedikit, persaingan inovasi baik dari manusia yang berpikir, selalu dimenangkan oleh inovasi baik yang beda: unik, bukan aneh. Hal itu tentu secara tidak langsung memperkokoh dan memperkukuh identitas dan kekhasan.
Berbeda berarti harus siap sepi, dan sepi berarti harus siap capek.