web analytics

Lahir Tanpa Darah dari Daerah

0 0
Read Time:2 Minute, 42 Second

Sebetulnya persoalan ini telah lama berenang-renang dalam kepala tanpa tujuan pasti. Entah sudah berapa tahun lamanya ia bertapa dalam kepala. Berawal dari rampung membaca novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau kerap disapa “Hamka”. Mahakarya tersebut berhasil menyebabkan persolan ini berenang-renang di dalam kepala. Bukan soal cinta, harta, maupun tahta, tapi soal darah, daerah, dan rumah.

Dalam cerita tersebut Zainuddin merupakan seorang anak dari lelaki yang bersuku Minang namun memutuskan untuk menikah dengan wanita bersuku Bugis dan menetap di Makassar. Setelah kedua orang tuanya meninggal Zainuddin memutuskan untuk kembali ke tanah kelahiran ayahnya guna belajar ilmu agama.

Sayangnya, masyarakat Minang yang menganut sistem kekerabatan matrilineal (menarik garis keturunan dari garis ibu) tidak menganggapnya sebagai orang Minang tulen. Ia sekadar dianggap sebagai seorang pendatang. Oleh karena itu, Zainuddin merasa tak punya rumah. Di Makassar dia dianggap tak berasal dari sana di Minang dia tak dianggap.

Dalam hal ini, tidaklah jauh berbeda nasib saya dengan Zainuddin. Bedanya kedua orang tua saya pun tentu pernah mengalami hal tersebut. Orang Jawa yang lahir di Pulau Sumatra. Pun sekarang di Indonesia telah menjamur suku Jawa. “Djawa adalah koentji”. Namun kita tidak sedang membahas Zainuddin ataupun saya sendiri, kita akan membahas fenomena tersebut secara umum.

Apabila ditelisik secara mendalam, fenomena seperti ini memiliki dampak pada negara.

Indonesia Miskin Budaya

Ketika ingin berumah tangga tanpa mementingkan suku, maka secara tidak langsung pudarlah kekayaan budaya dalam Indonesia. Karena hal tersebut akan menciptakan tiga kemungkinan, yakni asimilasi, akulturasi, atau tidak sama sekali.

Asimilasi merupakan jembatan peleburan dua budaya yang akan memperkaya wawasan keluarga, adat istiadat, kuliner, hingga bahasa yang dipelajari oleh anak-anak. Namun apabila proses ini tidak dilakukan dengan baik, maka dua budaya melebur menjadi satu dan membentuk budaya baru yang homogen, sehingga identitas asli budaya dapat memudar.

Sering dikira sama, namun kedua proses ini—asimilasi dan akulturasi—jelas berbeda. Dalam proses akulturasi budaya asli masih dipertahankan. Jadi, ketika dua budaya atau lebih yang saling bertemu dan memengaruhi, budaya asing tetap diterima tanpa menghilangkan ciri khas atau identitas dasar budaya asli. Oleh karena itu, walisongo menerapkan akulturasi dalam berdakwah.

Kemungkinan terakhir adalah yang paling buruk di antara yang lain. Indonesia memang kaya namun masyarakatnya sama sekali tidak. Apabila orang tua sudah tidak mampu mendidik seputar budaya kepada anaknya, atau bahkan tidak mengerti tentang budaya mereka sendiri. Maka tak hanya masyarakatnya yang miskin dana hingga pemikiran, bisa-bisa negaranya pun miskin.

Bahasa masihlah berhubungan dengan budaya, maka apa salahnya jika kita membahas bahasa juga. Orang tua yang berhasil melestarikan bahasa daerah kepada anaknya dapat dikategorikan telah berhasil memperkaya kosakata bahasa Indonesia dan identitas bangsa. Namun pengaruh modernisasi yang sangat pesat menjadi tantangannya. Dewasa ini, berkomunikasi menggunakan bahasa daerah dianggap kampungan di beberapa tempat yang telah mengalami modernisasi dan perubahan standar yang tinggi.

Perkawinan lintas budaya pada masa sekarang bukan lagi hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Lagi pula apabila hal tersebut diperlakukan dengan benar maka dampak-dampak positifnya pun tidak sedikit. Perkawinan lintas budaya bukan lagi menjadi persoalan. Persoalan yang sesungguhnya: Masih berbudayakah anak-anak bangsa? Masih berbudayakah remaja-remaja Indonesia? Masih dapat berharapkah sebuah bangsa? Kembali pada kasus awal seputar nasib Zainuddin. Di mana rumahnya? Apa sukunya? Siapa kerabatnya? Masih beragamakah dia?

Setidaknya kita Indonesia!

Also Read: Buku Itu Kita

Wallahu a’lam.

 

 

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Siklus yang Tak Pernah Putus

Siklus yang Tak Pernah Putus

Selamat Hari Dinosaurus!

Selamat Hari Dinosaurus!

Hari-Hari Bersama Buku

Hari-Hari Bersama Buku

Buku Itu Kita

Buku Itu Kita

Nasib Pendidikan, Buruh, dan Santri Sepuh

Nasib Pendidikan, Buruh, dan Santri Sepuh

Pendidikan untuk Kaum Buruh: Antara Janji Emansipasi dan Kenyataan Eksploitasi

Pendidikan untuk Kaum Buruh: Antara Janji Emansipasi dan Kenyataan Eksploitasi