web analytics

Analogi Militansi Media Pondok Jatim dan Perjuangan Komite Hijaz Nahdlatul Ulama

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">
0 0
Read Time:3 Minute, 8 Second

Banyak yang meyakini kisruh di tubuh PBNU sekarang sejatinya yang kisruh hanya PBNU, NU-nya sendiri tidak kisruh. Memang terbukti, di akar rumput bahkan lembaga-lembaga PBNU masih berjalan seperti biasa. Memang ada beberapa yang kena imbas, namun Mbah-mbah Muslimat tetap berangkat pengajian, sahabat Fatayat tetap lantang menyuarakan mars-nya, rekan dan rekanita IPNU-IPPNU tetap menjalankan Makestanya, Lazisnu tidak berhenti menghimpun dan menyalurkan bantuan ke lokasi bencana, dan Banser yang sampai saat ini masih ro’an di wilayah bencana Sumatera sana.

Di struktur memang sedang amburadul, tapi di lingkup kultur NU tidak berhenti mencetak kader-kader yang siap dan sigap untuk umat. Salah satunya adalah geliat yang dilakukan Media Pondok Jawa Timur (MPJ). Pada tanggal 19–21, MPJ mengadakan event Multaqo di Pondok Al-Kamal Blitar, semacam acara puncak penutup tahun kalender kerja. Untuk diketahui, MPJ merupakan kumpulan santri yang mengelola akun media resmi pondok pesantren di Jawa Timur dan santri yang konsen di bidang media.

Militansi khodim (sebutan anggota) MPJ dalam berorganisasi sampai saat ini mengingatkan saya dengan perjuangan heroik Komite Hijaz. Bagaimana tidak, waktu yang seharusnya libur malah digunakan untuk lembur, pesertanya datang dari berbagai wilayah Jawa Timur, panitianya pun juga habis-habisan menyiapkan diri. Mbak Lala, pengurus Pondok Ngunut Tulungagung ini sampai izin meninggalkan pesantrennya berangkat ke Jember dengan uang sendiri demi memfasilitasi dan mendata peserta. “Saya melebur keinginan saya untuk libur demi bisa menyukseskan acara ini dan berkhidmat kepada santri.”

Gus Baba, pengasuh Pesantren MHI Jember, rela meninggalkan santri-santrinya. “Mumpung Jember yang jadi sohibul bait, kapan lagi. Untuk tugas ngasuh santri izin ke dewan dzuriyah demi ngopeni santri yang datang dari berbagai kota ini,” tegasnya. Selain itu, Gus Baba mengakomodasi konsumsi dengan menghidangkan nasi mandhi puluhan porsi kepada tamu. “Nasi mandhi tidak seberapa, tidak ada apa-apanya sama sekali dibanding dengan perjuangan ulama terdahulu,” pungkasnya.

Multaqo MPJ ini murni pro bono dan swadaya dari santri dalam segala pengadaannya. Tidak ada investor besar tertentu, apalagi bantuan dari pemerintah. Dengan kekuatan santri saling bahu-membahu untuk bisa menyukseskan acara ini, demi niat khidmah konten untuk pesantren. Militansi MPJ ini ternyata menular hingga Lampung, di mana satu elf Media Santri Lampung (MPL) berangkat ke Jember dengan biaya ditanggung masing-masing.

Militansi MPJ ini sepintas mirip dengan perjuangan Komite Hijaz dahulu, di mana KH Wahab Hasbullah dan Syekh Ghonaim al-Misri mengarungi kapal dari Laut Jawa hingga Laut Persia. Secara harakah dan fikrah, Komite Hijaz dan MPJ ini mirip. Ketika Kiai Wahab dan Syekh Ghonaim pada 1926 jauh-jauh ke negeri Arab demi sebuah misi menegakkan ajaran Aswaja, mengorbankan segala sumber dayanya. Bahkan beliau tidak berkenan dibiayai dan menggunakan uang pribadi dalam perjalanan berbulan-bulan itu. Hasilnya, ketika kembali ke Nusantara membawa berita besar dan berdirilah Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam lingkup daerah, khodim MPJ ini menirukan jejak langkah pendiri NU terdahulu, sama-sama mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya sendiri, berswadaya, menegakkan ajaran Aswaja via media. Lalu untuk tahun ini pulang membawa oleh-oleh baru berupa ilmu-ilmu baru dari para pemateri, di antaranya Ning Khilma Anis yang memberikan materi literasi, Nasio Patriotik yang mengajari ilmu fotografi dan videografi, serta Gus Hans yang membuka wawasan tentang media pesantren.

Apabila dilihat dari jumlah peserta MPJ Fest yang terus meningkat sejak penyelenggaraan pertamanya pada 2021 di Pesantren Mahika Sidoarjo, bisa dikatakan militansi MPJ terus bertambah, entah dari kualitas maupun kuantitasnya.

Militansi dan eksistensi MPJ ini memberikan catatan yang tak terelakkan pada jam’iyah Nahdlatul Ulama bahwa di sektor struktural tidak kehabisan kader berkualitas yang berkhidmat dengan ikhlas, meskipun sektor strukturalnya masih bertengkar. Tentu ini menjadi petunjuk yang jelas bahwa pemuda Nahdlatul Ulama di sektor akar rumput bisa bergelut dan menjalankan massa sedemikian banyaknya serta ngopeni kreativitas santri meskipun tanpa konsesi yang “seksi” dari pemerintah maupun unsur aghniya’ lainnya.

Sekian, salam militan.

elnahrowi, Khodim MPJ dari Ponpes Al-Mahrusiyah Lirboyo

About Post Author

Elnahrowi

Santri Pondok Al-Mahrusiyah yang suka Menulis dan Berjurnalis. Asal dari Sragen Jawa Tengah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">

Santri Pondok Al-Mahrusiyah yang suka Menulis dan Berjurnalis. Asal dari Sragen Jawa Tengah

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Rosulullah, Isra Mi’raj, dan Sholat

Rosulullah, Isra Mi’raj, dan Sholat

Kita Perlu Bercanda Untuk Hidup yang Membosankan Ini!

Kita Perlu Bercanda Untuk Hidup yang Membosankan Ini!

Urgensi Barang Ori

Urgensi Barang Ori

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam

Hal Yang Harus Di Lakukan Pada Tahun Baru; Perspektif Islam

Tahun Baru Datang Lagi, Tapi Sudahkah Kita Benar-Benar Berubah?

Tahun Baru Datang Lagi, Tapi Sudahkah Kita Benar-Benar Berubah?

Tanggung Jawab Manusia Terhadap Lingkungan

Tanggung Jawab Manusia Terhadap Lingkungan