Berangkat dari banyaknya kasus anak yang tidak percaya diri, penakut, pasif, hingga sering memendam emosi berhasil membuat saya berdesus melalui coretan ini. Sering terdengar di telinga, bahwa anak mengalami rasa sungkan juga segan yang berlebihan apabila berbincang, berkomunikasi, dan berdiskusi dengan orang tua. Telah menjamur agaknya hal tersebut di telinga para remaja ketika saling bertukar cerita.
Rasa sungkan tersebut telah mengakar kuat di Indonesia akibat didikan dari orang tua yang kurang tepat. Selain itu, tokoh ayah yang gengsi dan kaku pun telah menjamur di Indonesia akibat tuntutan sosial-budaya patriarki dan warisan pola asuh masa lalu. Pria sering kali dididik untuk menyembunyikan kerapuhan agar terlihat kuat di mata keluarga.
Pola didikan turun-temurun ini membuat rasa gengsi dan sifat kaku timbul menyelimuti kasih sayang seorang ayah pada anak. Fenomena yang berlangsung entah berapa lama tersebut membuat sosok seorang ayah pada suatu keluarga sering memendam keluh kesahnya, berdiam diri di malam hari berteman kopi sembari berpikir solusi atas masalah yang dihadapi keluarga dan pribadi.
Situasi tersebut telah bertahan lama dari generasi ke generasi yang lain. Maka dari itu, mari kita bahas! Kita putuskan rantai semacam itu untuk menciptakan rasa aman, nyaman, dan keluarga yang harmonis dari berbagai aspek tentunya.
Kekurangan
Bermula atas sifat-sifat negatif anak yang dapat dihasilkan dari situasi di atas, maka situasi tersebut dapat digolongkan dalam hal yang tidak atau kurang baik apabila terus diterapkan. Meski bertujuan membentuk pribadi yang sopan, meminimalisir konflik dengan berdiam diri, serta memiliki kepatuhan yang tinggi, parenting anak dengan cara di atas tentu sangat tidak relevan di zaman sekarang.
Solusi
Mengingat situasi “segan” tersebut berasal dari parenting yang tidak efisien, maka akarnya (orang tua) adalah solusi untuk memperbaiki permasalah tersebut. Hal pertama yang diperlukan bagi orang tua adalah reorientasi pola asuh. Dapat dimulai dari validasi emosi anak, orang tua (tidak hanya ibu) perlu memberi ruang anak untuk berekspresi tanpa langsung menghakimi.
Semua orang tua pasti akan melarang apabila anaknya mendekati atau mengenal perkara yang tidak baik, hanya saja caranya bisa saja salah. Rasa khawatir dan cemas yang begitu tinggi pada orang tua memicu bentakan pada anak untuk tidak perlu mengetahui atau mendekati hal yang dilarang, memarahi, pun menakuti tanpa memberi alasan yang pasti. Budaya yang telah basi macam ini pun dapat diganti dengan memberikan pemahaman kepada anak. Pastikan orang tua menjelaskan alasan logis di balik sebuah aturan.
Selain itu, forum keluarga santai semacam diskusi ringan untuk mendengar pendapat anak pun perlu diadakan, seperti memilih makanan, tujuan liburan, atau perkara yang dapat diselesaikan dengan musyawarah. Orang tua pun perlu tetap tegas dalam menetapkan batasan, namun tanpa disampaikan dengan tenang tanpa perlu membentak dan mengancam.
Adapun agar anak tetap menjadi pribadi yang sopan dan hormat dapat ditekankan ketika anak membantah. Ketika orang tua dibantah, maka perlu untuk menjelaskan cara beragumen yang baik, menjelaskan bahwa pendapat anak yang bertentangan orang tua harus disampaikan dengan nada bicara yang tenang dan kalimat yang santun.
Beberapa aspek parenting tersebut beriringan dengan empat pilar hak anak secara umum. Dengan menerapkan hal tersebut sesuai porsi, maka anak mendapatkan hak juga didikan yang baik dari orang tua yang secara tidak langsung akan memutus rantai kehidupan keluarga yang canggung.
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍۢ وَٰحِدَةٍۢ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًۭا كَثِيرًۭا وَنِسَآءًۭ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًۭا
“Wahai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu (bermula) dari diri yang satu (Adam), dan yang menjadikan daripada (Adam) itu pasangannya (Hawa), dan juga yang membiakkan dari keduanya lelaki dan perempuan yang ramai. Dan bertakwalah kepada Allah yang kamu selalu meminya dengan menyebut-nyebut nama-Nya, serta peliharalah hubungan (silaturahmi) kaum kerabat; karena sesungguhnya Allah senantiasa memerhatikan kamu.” (QS. An-Nisa’: 1)
Wallahu a’lam.