Kampung halamanku sungguh penuh dongeng. Mana ada ikan bisa jadi orang? Fisiknya saja jauh berbeda. Sulastri, seorang sepuh dalam koloni kami sering mendongeng tentang seorang lumba-lumba bernama Sarwo yang berhasil memecah nalar dan logika dengan berubah menjadi manusia dan menjelajah daratan.
Koloni kami sangat jarang bermigrasi. Bagaimana tidak? Kami hidup di perairan Indonesia, tepatnya Selat Malaka, Negeri yang sangat kaya akan sumber daya. Sehari-hari berenang ke sana-kemari, meski tanpa tujuan pasti, hati gembira itu pasti. Karena kami tak terkurung. Kami bebas. Saking bebasnya Sulastri terus berdongeng kisah Sarwo Sang Legenda kepada anak-anak dalam koloni.
Oh, ya. Selain sesama lumba-lumba, aku pun punya teman bernama Herman yang selalu berlayar dengan kapal motor komersial yang memanfaatkan diesel untuk berenang di atas permukaan laut. Setiap pagi kami selalu bermain bersama. Dia selalu tertawa apabila air menyembur ke mukanya. Meski seru aku tidak tahu apa pekerjaannya.
Pun berbeda dengan manusia lain. Herman mengerti bahasa dan maksudku. Ketika berenang bersama meninggalkan kapal bermotornya, aku selalu mengingat kejadian itu. “Kamu cantik sekali.” Baru kali itu aku dipuji oleh sesama makhluk hidup. Aku paling suka ketika Herman menepuk-nepuk dan mengelus-elus kepalaku. Rasanya sungguh nyaman.
Sarwo juga mengajariku berbahasa macam manusia, bereproduksi macam manusia, hingga berperilaku macam manusia. Tak bisa dipungkiri bahwa lumba-lumba memiliki beberapa kemiripan dengan manusia. Tujuh puluh persen tubuh manusia terdiri dari air.
Secara sosial kami tak jauh berbeda, kami sama-sama mamalia, karakteristik biologis pun macam manusia, terlebih kami jauh lebih pintar daripada manusia yang berperilaku macam binatang. Padahal sama-sama makhluk hidup memiliki keterkaitan, tapi manusia merasa mereka adalah paling sempurna. Padahal ibadah pun tak jarang kami lebih aktif.
***
“Aku punya seekor teman. Dia lumba-lumba betina. Dan aku jatuh cinta padanya.”
Mabuk laut terlalu membikinnya mengigau. Pikir seorang teman di sampingnya. Mereka duduk di geladak kapal sambil menikmati matahari tenggelam dan rayuan, nyanyian, juga tarian dari lumba-lumba di bawah bayangan matahari.
Sayangnya hari itu sungguh sial. Tentara yang berpatroli mencurigai aktivitas nelayan yang tengah dikerubuni lumba-lumba itu. Mereka menuduh dan menghukum Herman untuk mendekam di penjara selama lima tahun bersama teman-teman nelayannya.
Negeri yang kaya, tentu rakyatnya harus kaya. Bila tak kaya …
***
Sarwo adalah pemimpin koloni paling berjasa. Setiap hari koloni Sarwo selalu berenang ke sana-kemari menghindari predator bernama Orca. Tanggung jawab atas koloninya sangat besar hingga dia mengalami tekanan. Saking lamanya menjadi target operasi, koloni Sarwo mati satu persatu, ada pula yang berpisah. Menanggapi hal tersebut, Sarwo memiliki suatu gagasan untuk berenang menuju sinar matahari dan menuju pantai.
Berhari-hari hidup di daratan sungguh sulit bagi mereka beradaptasi hingga banyak yang mati. Hampir setengah populasi koloni lenyap dimakan tatangan zaman, terhapus oleh seleksi alam. Yang kuat bertahan dan beradaptasi, yang lemah akan mati.
Koloni Sarwo berhasil membawa kehidupan baru. Anak-anak mereka tak lagi lahir dengan sirip.
***
Nyanyianku sungguh pilu di tengah Selat Malaka, di tengah koloni, teriakanku paling pilu. Sungguh telah lama aku tidak berjumpa dengan Herman. Inikah rasa rindu? Oh, Tuhan. Apa salahnya sesama makhluk hidup saling mencintai? Hubungan kami belum dijalin tapi kunjung tragis. Kemana kau Herman?
Berhari-hari berenang-renang mencari-cari. Apakah aku juga harus menjadi manusia agar dapat mencari Herman? Tak bisakah kau mengerti, Tuhan? Herman merupakan manusia yang sungguh bagus. Manusia yang berhasil memanusiakan binatang, bukan malah manusia yang berperilaku macam binatang.
Rasanya sungguh sesak apabila terus di dalam air. Mau bagaimana lagi? Mungkin saat ini bunuh diri adalah jalan terbaik bagi lumba-lumba yang patah hati akibat ditinggal pergi oleh kekasih. Aku tak mau mengambil napas di atas permukaan air. Paru-paruku panas disertai jantung berhenti berdetak.