web analytics

Daster

0 0
Read Time:1 Minute, 34 Second

Perlahan mataku terbuka.

Karena terlalu larut kejar kerjaan, selepas subuh, mata ini harus menyerah digempur kantuk. Lalu, aku bangun secepat ini.

Ada sesuatu yang mengusik tidurku: seutas harum tiba-tiba saja menyerang hidung. Dan itu benar-benar harum.

Aku terduduk. Dengan selimut yang masih melekat setengah badan, aku berusaha bergerak, beranjak. Mengikuti arah aroma yang sangat berselera itu. Langkah gontai dan sesekali mengucek mata, aku melewati sudut demi sudut rumah ini. Hingga, aroma itu membawaku ke dapur. Terhenti langkah ini pada sesosok perempuan yang menghadap kompor, membelakangiku.

Also Read: Lalang Hilang

Kupeluk ia dari belakang. Ia sedikit terkejut. Sempat sebentar melirikku, lalu kembali pada wajan kompor itu. Tepat saat tanganku melingkari pinggangnya, daguku kusandarkan di pundak kanannya. Dengan penuh manja kutanya ia, “Masak, apa?”

“Masak ikan.”

Kulihat wajan itu: dua ikan yang entah apa jenisnya sedang bermandikan minyak panas blubuk-blubuk.

Tak lama, ehm

Kucium pipi kanannya.

“Ih, bau bawang!” Ucapku menggodanya.

“Ih, apaan sih!” Ia menggemas, berusaha menghilangkan jejak ciumku di pipi kanannya. Aku tersenyum saja.

Lalu, untuk waktu yang panjang, jarum jam seolah berhenti. Aku tetap saja hangat manja memeluknya. Bersandar dagu. Memejamkan mata.

Tak lama, ehm

Also Read: Keranjang

Ia mencium pipi kiriku.

“Ih, bau iler!” Ucapnya menggodaku.

“Ih, apaan sih!” Aku menggemas, berusaha menghilangkan jejak ciumnya di pipi kiriku.

“Udah sana mandi!” Perintahnya.

“Nggak mau.”

“Mandi!”

“Nggak mau!”

“Mandi!”

“Nggak mau!”

Ia mendorong-dorongku. Aku menarik-nariknya. Tak mau lepas dari peluk.

“Ih, kamu mah susah banget sih disuruh mandi doang. Cepat mandi, nanti kita sarapan!”

Aku ‘terpaksa’ mandi, tapi…

“Tapi, apa?” Tanyanya saat kugantungkan pernyataan.

Tak lama, ehm

Kuciumnya untuk yang kedua kalinya. Syarat terpenuhi.

Pletok!

Tiba-tiba saja itu ikan pletok-pletok. Letup minyaknya sedikit mengenai tanganku. Adeuh.

“Tuh kan, rasain. Disuruh mandi susah banget.” Ucapnya di tengah meringisku menahan panas minyak.

“Iya-iya, bawel!”

Melepas, beranjak, mandi.

 

***

 

Hah? Hah?! Ini jam berapa?”

Ia melirik jam.

“Aduh qodho subuh!”

“Aduh basah!”

Akhirnya, sesal kemudian.

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
cerpenelmahrusy ID

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Lalang Hilang

Lalang Hilang

Jejak Panjang di Balik Selembar Kertas

Jejak Panjang di Balik Selembar Kertas

Kerajaanku yang Malang (Pt4)

Kerajaanku yang Malang (Pt4)

Keranjang

Keranjang

Gayung adalah Renung

Gayung adalah Renung

Kerajaanku yang Malang (pt3)

Kerajaanku yang Malang (pt3)