web analytics

Di Bawah Langit Malam

0 0
Read Time:2 Minute, 18 Second

Berisik suara kota terdengar seolah membelah suasana malam. Seorang pemuda menatap indahnya langit malam bersama si hitam manis. Ia hanya memandang, memandang dengan penuh tanya. Tanya yang seolah memenuhi kepalanya, pertanyaan yang telah lama ia pendam.

Hingga di tengah lamunannya, datanglah seorang pemuda membawa secangkir kopi dan sekotak lintingan tangan.

“Kau kenapa, Kawan?”

“Hah, kau sudah datang?”

“Yap, kau benar. Aku sudah datang. Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tak ada.”

“Tak mungkin. Kau sedang berbohong lagi.”

“Tahu saja kau ini.”

“Ada apa, Kawan?”

“Seperti biasa.”

Also Read: Kemelut Bintang.

“Apa yang kau ragukan?”

“Entahlah. Terlalu banyak.”

“Baiklah, ceritakan satu per satu.”

“Aku hanya ingin bertanya. Bolehkah?”

“Silakan, Kawan!”

“Baiklah. Apakah semua orang diciptakan dengan tabiat yang sama?”

“Mungkin sedikit aku mengerti pertanyaanmu itu.”

“Benarkah?”

“Yap, kau benar. Semua orang diciptakan dengan 25% tabiat yang sama.”

“Hah… ha… ha…” (tertawa getir).

“Kalau begitu, mengapa semua orang seolah seperti baru dilahirkan?”

“Hei, kau lupa dengan salah satu teori, Kawan.”

“Hmm…” (berpikir sejenak).

“Baiklah. Aku mulai sedikit mengerti.”

“Benarkah?”

“Hanya sedikit, mungkin.”

“Mungkin. Menurutku, semuanya terlalu kompleks.”

“Yap, kau benar. Kita terlalu kompleks. Dari hal itulah sejarah tercipta.”

“Sepakat. Kau benar. Tanpa kompleksitas itu, sejarah tak akan pernah dimulai.”

“Jadi, apa sebenarnya yang ingin kau tanyakan?”

“Hanya ingin mencari kebenaran.”

“Baiklah, tak apa. Itu memang sifat semua manusia.”

“Bagaimana denganmu, Kawanku?”

“Maksudmu?”

“Seperti biasa.”

“Baiklah. Kembali aku terjatuh. Terjatuh pada pola yang pernah kubaca sebelumnya.”

“Bagaimana bisa?”

“Entahlah. Mungkin sama sepertimu saat ini. Hanya mencari kebenaran.”

“Wah. Segila itukah dirimu, Kawan?”

“Mungkin bisa dikatakan begitu.”

“Baiklah.”

Dengan sedikit usaha, ia mengambil telepon genggamnya. Lalu, ia menunjukkan sebuah foto seorang pemuda yang tersimpan di galeri.

“Kau ingat hal ini, Kawan?”

“Baiklah. Aku ingat.”

“Apa yang kau ingat dari hal ini?”

“Semuanya.”

“Termasuk apa?”

“Termasuk kesannya dan hal-hal lainnya.”

“Baiklah. Kau paham, kan?”

“Yap, kau benar.”

“Sudahi, Kawan. Aku mengerti kau pintar. Namun, untuk hal yang satu ini, sudahilah, oke?”

“Mungkin akan kusudahi, tetapi tidak secepat itu.”

“Baiklah. Tak apa.”

“Mungkin akan lama. Atau bahkan memerlukan waktu yang jauh lebih lama.”

“Itu tak mengapa, Kawan. Manusiawi. Namun, ingatlah untuk tetap melihat langit dan bumi. Di sinilah tempatmu hidup.”

“Baik, Kawan. Akan kuingat itu.”

“Baiklah. Sepertinya kau mulai paham. Lihat, minuman kita sudah mulai mendingin.”

“Yap. Tak seperti saat itu. Kini telah mulai mendingin dan mengendap.”

“Sudahlah, Kawan. Kita pun sama. Semua itu telah mulai mendingin dan terpendam jauh di dasar palung.”

“Waktunya kita menikmatinya, meski tak lagi sama seperti dahulu.”

“Tak mengapa, Kawan. Yang terpenting, rasanya tetap sama dan tak pernah berubah.”

“Baiklah. Mari kita nikmati malam dengan langit yang indah ini.”

“Mari kita minum.”

Kedua pemuda itu pun menikmati minuman yang telah mulai mendingin, ditemani bakaran batang putih yang perlahan menghadirkan ketenangan. Setelahnya, mereka menikmati indahnya langit malam diiringi gemuruh kota dengan hati yang damai dan tenang.

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Otak Isinya Sampah

Otak Isinya Sampah

Ikan Adalah Manusia?

Ikan Adalah Manusia?

Kemelut Bintang.

Kemelut Bintang.

Senja Murahan Merasuki Ikan dalam Kolam

Senja Murahan Merasuki Ikan dalam Kolam

Untungnya, Bumi Masih Berputar

Untungnya, Bumi Masih Berputar

Medan Magnet Bumi

Medan Magnet Bumi