Banyak orang mengenal guru sebagai profesi, pekerjaan, atau apalah. Namun tidak sedikit pula yang memandang guru sebagai ajang pengabdian. Guru memang memiliki tugas sebagai tenaga yang mengajar generasi bangsa untuk melawan kebodohan atau malah sebagai sosok yang tega memakan muridnya sendiri? Mari kita bahas di sini.
Tantangan Guru di Era Kini
Meski bisa diketahui hanya dengan melihat kebiasaan anak-anak zaman sekarang, namun saya hanya ingin mendengarnya langsung dari seseorang yang memang pelaksana atau orang yang terjun ke lapangan secara langsung. Ya! Saya sampai mewawancarai seorang guru pertama saya.
Sebagai seorang guru di salah satu sekolah dasar di Indonesia yang telah bergelut dalam dunia mengajar hampir setengah abad. Menurut beliau, di setiap zaman memiliki berbagai tantangan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, jelaslah seorang guru sebagai pendidik anak bangsa harus senantiasa cerdas dan bijak dalam menghadapi tantangan.
Di zaman sekarang, tantangan yang paling mencolok dan paling berpengaruh adalah kemajuan teknologi. Telepon genggam dan internet tentunya yang paling sering kita jumpai. Para guru haruslah bisa mengatasi tantangan yang paling mencolok ini, karena apabila siswa/i tidak mendapatkan bimbingan langsung dari orang tua maupun guru, teknologi tersebut berpotensi menimbulkan, memunculkan, hingga menyebabkan hal-hal negatif berterbangan meracuni kepala anak-anak.
Di sisi lain, guru bisa memanfaatkan tantangan tersebut sebagai media pembelajaran dengan cara yang kreatif dan inovatif, tentunya agar para siswa/i tidak mudah merasa jenuh dengan pembelajaran di dalam kelas yang sampai kiamat akan begitu-gitu saja.
Nasib Guru di Era Kini
Guru menghadapi tantangan ganda: peningkatan peran dan tanggung jawab di tengah tuntutan teknologi serta perubahan sosial, juga kesejahteraan—terlebih bagi guru honorer—sangatlah diperlukan. Guru harus menjadi fasilitator, mentor, juga melek teknologi di tengah kesejahteraan mereka yang masih diperjuangkan oleh pemerintah.
Terutama gaji. Memang apabila kita melihat guru sebagai profesi, mungkin kita selalu merasa kurang ketika membahas gaji. Dengan rincian sebagai berikut: Guru PNS bisa bergaji pokok mulai dari Rp1,68 juta hingga Rp6,37 juta, sementara PPPK berkisar Rp1,93 juta hingga Rp7,32 juta. Ya, gaji guru tidaklah jauh dari UMR. Oleh karena itu, ada pula beberapa guru yang memiliki usaha lain sebagai pemasok keuangan utama dan menganggap “guru” hanya sebagai ajang pengabdian.
Belakangan, banyak beredar di media sosial isu-isu panas yang berisi seputar guru, baik itu perundungan guru dari wali murid maupun guru yang dicap sebagai sosok yang tega memakan muridnya maupun sosok yang dimakan muridnya. Sebagai seorang yang pernah sekolah, saya pernah menjadi saksi perundungan guru oleh wali murid. Saat itu, seorang murid yang memang bandel menerima sekadar secubit dari ibu guru di sekolah. Nahasnya seorang guru yang berniat mendidik dan memberikan hukuman agar si murid bandel tersebut jera malah dilaporkan ke pihak berwajib oleh wali murid yang bersangkutan.
Menyikapi peristiwa tersebut, menyikapi perubahan sosial wali murid yang memanjakan anaknya, seorang guru haruslah lebih bijak dalam memberi didikan atau hukuman untuk siswa/i yang melakukan tindakan di luar etika. Tentu agar tidak mendekam di jeruji besi hanya karena mendidik anak negeri.
Dewasa ini tidak sepi dari isu-isu panas yang berterbangan di media sosial. “Guru Cabul” seolah menjadi headline berita. Menanggapi peristiwa tersebut, saya jadi ingat kepada dosen saya yang pernah membahas hal seputar pelecahan di kelas.
Menurut beliau, sistem patriarki sangat berpengaruh dalam hal ini. Contohnya, apabila seorang siswa yang didekati atau mendapat perhatian lebih dari guru perempuannya tidaklah merasa sedang dilecehkan. Sedangkan siswi yang diperhatikan atau mendapat didikan lebih dari guru pria justru malah merasa dirinya dilecehkan.
Mungkin berasal dari naluri pria dan wanita yang berbeda. Ketika ibu guru merangkul siswanya adalah asumsi orang bahwa guru tersebut memiliki sifat ke-ibu-an yang sedang merangkul anaknya. Sedangkan ketika bapak guru merangkul siswinya, maka para orang akan berasumsi negatif.
Namun, apabila kita melihat kejadian-kejadian di lapangan. Memang ada guru yang melakukan pelecehan terhadap siswa/i. Sampai bingung saya kepada bangsa ini. Bagaimana bisa seorang pengajar mencontohkan sesuatu yang tidak senonoh/tidak patut di contoh oleh generasi bangsa. Tentu adanya kejadian seperti ini, membuat “guru” mendapat asumsi macam-macam dari berbagai masyarakat.
Tak hanya itu, isu lain seputar neo-feodalisme dan perbudakan di dunia pesantren juga ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Bermula dari media nasional dan pengamat yang menyoroti sistem yang memaksa santri tunduk pada kiai tanpa banyak bertanya, serta potensi penyalahgunaan kekuasaan dan ekonomi oleh beberapa oknum tokoh agama.
Untuk membahas isu tersebut kita harus tahu “Apa sih feodalisme itu?” Menurut KBBI, kata “feodalisme” memiliki tiga makna; 1. Sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan yang besar kepada golongan bangsawan; 2. Sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat dan bukan mengagung-agungkan prestasi kerja; 3. Sistem sosial di Eropa pada Abad Pertengahan yang ditandai oleh kekuasaan yang besar di tangan tuan tanah.
Dalam hal ini tradisi mencium tangan, menunduk, atau membungkukkan badan di hadapan seorang kiai, meyakini keberkahan sisa air minum, berkhidmah atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kiai, diindikasikan sebagai tradisi turunan dari neo-feodalisme. Hal-hal tersebut bukanlah feodalisme, melainkan praktik adab dari murid kepada gurunya.
Dalam hal berkhidmah atau ro’an yang biasa dilakukan oleh para santri pun memang dijalankan tanpa paksaan, hanya murid yang berkeinginan memberikan sesuatu untuk guru yang telah mendidik dan membimbingnya.
Sejatinya seorang murid pastilah memiliki keinginan untuk memberikan atau membagi kepunyaannya kepada guru sebagai ucapan terima kasih atas jasa-jasanya. Ketika Hari Guru Nasional misalnya, para siswa/i selalu merayakan dengan sekadar memberikan ucapan terima kasih maupun sesuatu yang mungkin gurunya tidak mengharapkan hal tersebut. Apa-apa yang diterapkan santri dalam pesantren tidaklah jauh-jauh dari menghormati dan mengutarakan rasa terima kasih kepada guru.
Guru Sebagai Profesi juga Ajang Pengabdian
Melihat tugas guru sebagai pendidik, pengajar, juga pembimbing generasi bangsa yang akan menjadi penentu bagi masa depan bangsa. Kurang etis agaknya apabila melihat “guru” hanya sebagai profesi. Dari topik “Nasib Guru di Era Kini” dapat dilihat jika gaji bagi para pegawai negeri saja tidaklah jauh dari UMR—terlebih gaji guru honorer yang jauh dari kata cukup, oleh karena itu bisalah kita asumsikan dengan pernyataan, “Ngapain jadi guru? Gaji segitu cuma bisa buat makan. Mending cari kerja yang lain.”
Dengan pernyataan tersebut kita akan bisa memandang guru dari sisi lain—tidak hanya sebagai profesi, sebagai ajang pengabdian misalnya. Tentu guru adalah sosok yang sedang mengabdi baik pada negara dan bangsa, maupun agama.
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)
Wallahu a’lam.