Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya berperan dalam nasyrul ilmiddin, tetapi juga dalam pendidikan karakter dan pola hidup. Aspek pesantren yang seringkali menjadi perbincangan, yaitu pola hidup makannya santri dengan menu makan yang terlalu sederhana dan di anggap kurang variatif. Padahal tanpa kita sadari, dari kesederhanaan itu, bukan hanya kebutuhan gizi yang terpenuhi tapi juga Shifat Al- Mahmudah yang bisa kita dapatkan.
Namun kerap muncul pertanyaan ” Apakah dengan menu yang sangat sederhana bisa menopang kebutuhan gizi para santri yang padahal memiliki kegiatan yang sangat padat ? ”
Sebenarnya, dari sudut pandang gizi, menu pesantren telah memenuhi kebutuhan dasar. Nasi, sebagai karbohidrat yang menjadi sumber energi utama bagi tubuh untuk menjalani kegiatan santri yang sangat padat, mulai dari kegiatan belajar di kelas, muthola’ah kitab, hingga menunaikan ibadah sunnah maupun wajib. Lalu, lauk sederhana seperti tahu/ tempe berperan sebagai protein nabati walaupun terjangkau tapi kaya akan manfaat. Sementara telur atau ikan yang walaupun bukan menu setiap hari ia memberi asupan protein hewani yang dibutuhkan tubuh untuk menunjang pertumbuhan, memperbaiki jaringan sel, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Tak lupa sayur- sayuran yang hampir selalu hadir untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, serat, juga sebagai antioksidan.
Kesederhanaan menu pesantren juga menunjukkan pola makan yang cenderung sehat. Makanan dimasak dengan cara tradisional juga nyaris tanpa bahan pengawet. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi membentuk gaya hidup sehat yang sulit ditemukan di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan praktis.
Di sisi dari menu yang sederhana, santri juga dilatih dengan pola jadwal makan yang teratur dalam rangka menghindari makan yang berlebihan sehingga muncul perilaku israf. Serta melatih kedisiplinan seorang santri. Hal ini juga merupakan salah satu bentuk riyadhah / tirakat nya seorang santri. Sebagaimana Allah menganjurkan hambanya agar tidak Israf dalam Q. S. Al A’raf ayat 31:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang- orang berlebihan”
Namun, menu pesantren yang sederhana tidak hanya semata- mata untuk pemenuhan kebutuhan jasmani saja. Lebih dari itu, menu pesantren yang sederhana menjadi sarana pendidikan karakter santri di pondok pesantren. Santri bisa belajar menerima apa yang ada tanpa banyak mengeluh. Dari sinilah sifat Qana’ah dan rasa syukur tertanam secara alami dalam jiwa seorang santri. Tidak adanya pilihan menu, melatih santri untuk bisa membedakan mana yang menjadi kebutuhan dan mana yang hanya keinginan, serta ia bisa tidak menjadikan selera pribadinya sebagai patokannya. Sebagaimana riwayat hadits dari Abu Hurairah :
كُنْ قَنُوعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ … الحديث
“Jadilah engkau orang yang Qana’ah (merasa cukup), niscaya engkau menjadi orang yang paling bersyukur”
Selain itu, kesederhanaannya santri juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan sosial yang tinggi. Semua santri mengonsumsi makanan yang sama, duduk di tempat yang sama, dan merasakan kondisi yang sama pula. Tidak ada perbedaan berdasarkan latar belakang santri. Di pondok pesantren tidak ada kelas sosial. Antara anak saudagar kaya dan anak petani memakan nasi yang sama, lauk yang sama, bahkan tidak jarang dari piring yang sama.
Kesederhanaan menu pesantren tentunya tidak bermuncul dari keterbatasan, melainkan memang kesengajaan dalam pendidikan karakter santri. Dengan tujuan mencetak seorang hamba yang memiliki sifat qana’ah, syukur, juga jauh dari pribadi yang memiliki sifat israf. Walaupun kesederhanaan yang telah diakui, santri juga tidak boleh abai terhadap kesehatannya. Tidak jarang juga ada santri yang terlalu berlebihan dalam riyadhoh nya sehingga kesehatannya terabaikan. Kembali lagi ke Surat Al- A’raf, Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebihan, walaupun itu dalam hal kebaikan. Kesehatan tetap nomor satu, percuma umur masih muda memiliki otak yang cerdas bahkan sudah ‘alim tapi fisiknya tidak sehat, ia tidak akan bermanfaat.
Sebagaimana Dawuh K. H. Zainuri Faqih (pengasuh PonPes Darussalam Sumbersari.
” Percuma arep ngalime koyo opo wae nek ora sehat, Ilmune ra bakal manfaat. Arep ngaji gak iso, ngajar opo maneh. Makane inget dijogo kesehatanne ! ”
Wallohu A’lam